Terungkap! Senpi Ilegal Rp80 Juta Diduga Dibeli dari WNA untuk Jaringan KKB Papua
Terungkap Senpi Ilegal Rp80 Juta Diduga Dibeli dari WNA untuk Jaringan KKB Papua
Nusantaranews1.com – Dalam operasi menangkal peredaran senjata api ilegal di Papua, Satgas Operasi Damai Cartenz-2026 berhasil mengungkap transaksi senjata laras panjang dengan nilai mencapai Rp80 juta. Senjata tersebut diduga dibeli dari warga negara asing (WNA) dan digunakan oleh kelompok kriminal bersenjata (KKB) untuk memperkuat aktivitas mereka di wilayah perbatasan. Pengungkapan ini menyoroti upaya pemerintah dalam mengatasi masalah senjata ilegal yang semakin mengancam keamanan daerah.
Deteksi di Wilayah Skouw Mengarah ke Penangkapan
Operasi yang berlangsung di Koya, Skouw, menghasilkan penangkapan terhadap AG, yang diduga menjadi perantara dalam jaringan senjata ilegal di Yalimo-Yahukimo. Tim Satgas Gakkum Operasi Damai Cartenz-2026 berhasil mengamankan AG pada Selasa, 7 Juli 2026, di depan Rumah Sakit Angkatan Laut. Penangkapan ini berawal dari penyelidikan terhadap aktivitas pengiriman senjata ke daerah konflik.
"Penangkapan AG bukan hanya menunjukkan keberhasilan Satgas, tapi juga mengungkap saluran keuangan yang diduga berasal dari luar negeri," ungkap Kasatgas Humas Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol Yusuf Sutejo, Kamis, 9 Juli 2026. Ia menjelaskan bahwa senjata api yang diungkap memiliki nilai ekonomi tinggi, mencerminkan kompleksitas jaringan peredaran yang terlibat.
Menurut laporan penyidik, AG melakukan transaksi pembelian senjata api dengan DK, seorang perantara yang juga terlibat dalam rantai distribusi. Kesepakatan terjadi pada 4 Maret 2026, dengan terlibatnya SP, MM, dan SM sebagai pihak lain. Barang bukti yang ditemukan menunjukkan bahwa senjata ilegal tersebut bisa digunakan untuk berbagai tujuan militer dan operasi teroris di wilayah KKB.
Dampak Kebocoran Senjata pada Keselamatan Wilayah
Pengungkapan senjata api ilegal senilai Rp80 juta menimbulkan kekhawatiran terhadap keselamatan warga di wilayah Papua. Dengan adanya senjata dari luar negeri, KKB memiliki kemampuan untuk meningkatkan daya serang dan memperluas cakupan operasi mereka. Selain itu, saluran dana dari WNA menunjukkan bahwa jaringan KKB tidak hanya mengandalkan dana lokal, tetapi juga mendapatkan dukungan eksternal.
Kasatgas Gakkum Operasi Damai Cartenz-2026, Kombes Pol I Gusti Gde Era Adhinata, menjelaskan bahwa proses penyidikan masih terus berjalan. Tim fokus pada penyelidikan pemasok, jalur pengiriman, dan sumber dana yang terkait langsung dengan transaksi ini. "Setiap individu yang terbukti terlibat akan diperiksa secara menyeluruh, termasuk penggunaan senjata tersebut di medan perang," tambahnya.
Dalam beberapa bulan terakhir, Satgas Damai Cartenz-2026 telah menangani 13 tersangka dalam kasus senjata api ilegal. Lima dari mereka telah dikirim ke penuntut umum, sementara enam lainnya masih dalam penyelidikan lebih lanjut. Satu tersangka menunggu pengumpulan berkas, sementara AG, sebagai pelaku utama, memasuki proses hukum setelah ditahan.
Kebocoran senjata api ilegal tidak hanya menjadi isu keamanan, tetapi juga menggambarkan peran WNA dalam pendukungan terhadap KKB. Dengan dana yang diperoleh dari transaksi tersebut, jaringan KKB dapat membeli senjata yang lebih modern, memperkuat posisi mereka dalam menghadapi pemerintah daerah dan kekuatan militer. Pengungkapan ini menegaskan bahwa peredaran senjata ilegal masih menjadi tantangan utama dalam upaya menekan kegiatan KKB.
Penyidikan terhadap AG dan timnya juga mengungkap metode pengiriman yang sangat canggih. Senjata dibawa ke wilayah perbatasan melalui jalur darat dan laut, dengan dukungan logistik yang disediakan oleh warga lokal. Kombes Pol Yusuf Sutejo menambahkan bahwa para pelaku ini menggunakan perangkat komunikasi modern untuk memastikan kegiatan mereka tidak terdeteksi sebelum waktunya. "Kita memerlukan kerja sama masyarakat setempat untuk mengungkap seluruh jaringan," tegasnya.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana senjata ilegal bisa berdampak signifikan pada keamanan wilayah. Dengan senjata api yang diduga dibeli dari WNA, KKB memiliki kemampuan untuk melakukan serangan lebih efektif dan melarikan diri dari pengejaran. Pengungkapan ini juga mengingatkan bahwa pengawasan terhadap kegiatan WNA di Papua tetap menjadi prioritas dalam operasi penegakan hukum. "Kita harus mengambil langkah-langkah yang lebih ketat untuk menghalangi pemasok senjata dari luar," pungkas Kombes Pol Adhinata.