Solution For: Miris! Gedung SDN Tlomar 2 Bangkalan Mirip Kandang Sapi, 10 Tahun Tak Direnovasi
Solution For: Gedung SDN Tlomar 2 Bangkalan Mirip Kandang Sapi, 10 Tahun Tak Direnovasi
Solution For menjadi topik utama yang dibahas setelah kondisi gedung Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tlomar 2 di Bangkalan, Madura, Jawa Timur, menarik perhatian publik. Masalah sarana dan prasarana sekolah yang memprihatinkan ini bukanlah hal baru, tetapi sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade. Fasilitas yang sudah usang dan tidak layak digunakan menjadi tantangan besar bagi para siswa dan guru yang masih berusaha memberikan pendidikan terbaik dalam kondisi yang serba membatasi.
Kondisi Sarana Sekolah yang Memperparah Masalah
Di SDN Tlomar 2, tiga ruang kelas hanya dua yang bisa digunakan, sementara satu ruangan rusak parah hingga tidak bisa dihuni lagi. Lantai yang terbuat dari tanah liat dan kerikil membuat lingkungan belajar terasa kurang nyaman. Selain itu, plafon atap yang banyak tergantung dan jebol juga menjadi masalah serius. Kusen jendela dan pintu yang mulai lapuk, serta papan tulis yang ditempatkan langsung di atas lantai, menggambarkan betapa kurangnya perhatian terhadap kebutuhan dasar pendidikan di daerah ini.
"Belajar di sini enggak enak, kadang di meja-meja banyak debu dan kotor. Lantainya cuma dari tanah dan batu-batuan, jadi enggak nyaman buat belajar karena fasilitasnya begini. Keinginan saya, pengen sekolah ini cepat dibangun pemerintah agar kami bisa belajar dengan nyaman," kata Zaenab Rosyada, warga sekitar, Rabu (17/6/2026).
Solution For menjadi kebutuhan mendesak bagi warga sekitar yang terus menerus mengajukan permintaan perbaikan. Meski sejumlah masyarakat mengusulkan solusi untuk memperbaiki kondisi sekolah, upaya tersebut masih menghadapi hambatan. Salah satu kendala utama adalah status tanah yang digunakan sekolah ini. Tanah pecaton desa menjadi penghalang bagi bantuan renovasi dari pemerintah karena proses administratif yang rumit.
Persoalan Status Tanah dan Tantangan Renovasi
SDN Tlomar 2 dibangun di atas tanah kas desa, sehingga pemerintah daerah kesulitan memberikan dukungan dana untuk perbaikan. "Bisa dilihat sendiri, kondisi lantai masih dari tanah, belum ada keramik. Kusen-kusen keropos dan atap juga sudah mulai jebol. Kami sebenarnya sudah sempat mengajukan bantuan untuk merenovasi sekolah ini ke pemerintah. Akan tetapi, pengajuan kami selalu terkendala status tanah yang masih berupa tanah pecaton desa," ungkap Okta Tricahyana, Plt Kepala Sekolah SDN Tlomar 2.
Solution For juga memerlukan kolaborasi antara pemerintah daerah, pusat, dan masyarakat sekitar. Dengan lingkungan belajar yang kurang memadai, siswa di SDN Tlomar 2 terpaksa beradaptasi dengan kondisi yang tidak ideal. Meski demikian, semangat belajar para siswa dan guru tetap berjalan. Mereka menghadapi debu saat musim kemarau dan risiko becek saat musim hujan, tetapi antusiasme dalam proses belajar mengajar tidak berkurang.
Salah satu solusi untuk memperbaiki situasi ini adalah menyelesaikan masalah administratif tanah. Dengan status tanah yang diperjelas, pemerintah dapat lebih mudah memberikan bantuan renovasi. Selain itu, dana yang dialokasikan untuk pendidikan dasar di daerah terpencil juga perlu ditingkatkan agar tidak hanya SDN Tlomar 2 yang terabaikan, tetapi sekolah-sekolah serupa di seantero Jawa Timur.
Solution For juga menuntut partisipasi aktif dari masyarakat dalam memberikan masukan dan mengawasi penerapan kebijakan pendidikan. Dengan memperkuat kesadaran akan pentingnya sarana belajar yang memadai, mungkin akan terbuka jalan bagi perubahan yang lebih cepat. Sejumlah warga sekitar bahkan mengajukan usulan renovasi secara berkala, namun hingga saat ini belum ada tindak lanjut signifikan dari pihak berwenang.