Padamkan Bara Api di Gambut, Satgas Karhutla Kotim Gunakan Metode Suntik Air
Satgas Karhutla Kotim Tekan Api Tersembunyi di Lahan Gambut
Nusantaranews1.com – Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, tidak berhenti setelah api di permukaan berhasil dipadamkan. Satgas karhutla setempat juga memburu bara yang masih tersimpan di dalam tanah gambut melalui metode suntik gambut atau subut.
Langkah tersebut dipakai untuk mengalirkan air langsung ke bagian bawah permukaan tanah, lokasi yang kerap menjadi tempat bara bertahan. Kondisi lahan gambut yang masih mengeluarkan asap menjadi salah satu tanda bahwa api belum sepenuhnya padam meski nyala api tidak lagi terlihat dari atas.
Bara yang tertinggal di lapisan tanah dapat terus menghasilkan asap. Situasi ini berpotensi mempertebal kabut asap dan membuka kemungkinan api kembali muncul apabila pemadaman tidak dilakukan sampai ke titik sumber panasnya.
Air Disalurkan Langsung ke Lapisan Gambut
Dalam penerapan metode subut, petugas menggunakan alat khusus dari besi yang memiliki lubang-lubang pada bagian tertentu. Alat itu dimasukkan ke tanah gambut, lalu air disuntikkan agar dapat mencapai area yang sulit dijangkau dengan penyiraman dari permukaan.
Pendekatan ini berbeda dari pemadaman biasa yang hanya membasahi bagian atas lahan. Pada tanah gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga penyiraman permukaan saja belum tentu cukup untuk menghentikan proses pembakaran secara menyeluruh.
Dengan memasukkan air lebih dalam, petugas berupaya mendinginkan titik-titik bara yang tersisa. Tujuan utamanya bukan hanya menghilangkan asap sementara, melainkan memastikan sumber panas di dalam tanah benar-benar melemah dan tidak memicu kebakaran ulang.
Metode suntik gambut dinilai membantu penanganan di lokasi yang masih menunjukkan kepulan asap. Namun, pelaksanaannya juga membutuhkan kesiapan logistik karena volume air yang diperlukan sangat besar.
Keterbatasan Pasokan Air Jadi Tantangan
Bupati Kotim Halikinnor menyampaikan bahwa kebutuhan air menjadi persoalan penting dalam pemadaman dengan teknik tersebut. Satu tangki air dapat cepat habis ketika digunakan untuk menangani bara yang berada di area gambut.
“Memang dia padam tapi membutuhkan suplai air yang banyak sekali. Memang permasalahan kita saat ini, air karena satu tangki itu hanya beberapa meter sudah habis,” ujar Bupati Kotim Halikinnor di lokasi.
Karena kebutuhan air yang tinggi, penggunaan metode suntik gambut sementara ini lebih diprioritaskan di kawasan perkotaan atau wilayah yang memiliki sumber air mencukupi. Ketersediaan air menentukan seberapa jauh petugas dapat menjalankan pemadaman hingga ke bawah permukaan tanah.
Prioritas tersebut menunjukkan bahwa karakter lokasi menjadi pertimbangan penting dalam penanganan karhutla. Area yang dekat dengan sumber air memungkinkan proses pengisian ulang lebih cepat, sedangkan lokasi yang jauh dapat menghadapi kendala distribusi air ke titik kebakaran.
Dalam penanganan lahan gambut, hilangnya api di permukaan tidak selalu menandakan kondisi telah aman. Asap yang masih keluar perlu diperhatikan karena dapat mengindikasikan adanya bara tersembunyi. Pemadaman yang tuntas diperlukan agar lahan tidak kembali terbakar setelah petugas meninggalkan lokasi.
Asap Berasal dari Sejumlah Wilayah
Kabut asap yang semakin tebal di Kotawaringin Timur tidak hanya berkaitan dengan kebakaran di kawasan perkotaan. Asap juga datang dari sejumlah kecamatan yang mengalami kebakaran hutan dan lahan dengan cakupan cukup luas.
Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Pulau Hanaut, Kota Besi, dan Seranau. Kebakaran di berbagai titik membuat penanganan perlu dilakukan secara berkelanjutan, termasuk memastikan bara api di tanah gambut tidak lagi aktif.
Keberadaan asap dari beberapa kecamatan memperlihatkan bahwa persoalan karhutla tidak selalu terbatas pada satu lokasi. Asap dapat memengaruhi kondisi udara di kawasan lain, terutama ketika api dan bara belum dipadamkan secara menyeluruh.
Satgas karhutla di Kotim menggunakan metode suntik gambut sebagai salah satu cara untuk menghadapi tantangan tersebut. Teknik ini memberi akses langsung ke lapisan tanah yang menyimpan bara, meskipun keberhasilannya sangat bergantung pada kecukupan air di lapangan.
Bagi masyarakat, asap yang tampak keluar dari tanah gambut patut dipahami sebagai tanda bahwa proses pemadaman mungkin masih berlangsung. Penanganan di bawah permukaan membutuhkan waktu, peralatan, dan pasokan air yang memadai agar bara tidak kembali berkembang menjadi api terbuka.
Melalui pemadaman yang menyasar sumber panas di dalam gambut, petugas berupaya mengurangi risiko munculnya titik api baru. Fokus ini juga penting untuk menekan produksi asap yang dapat memperburuk kondisi kabut di Kotawaringin Timur dan wilayah sekitarnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Padamkan Bara Api di Gambut Satgas?Padamkan Bara Api di Gambut Satgas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Padamkan Bara Api di Gambut Satgas matter?Padamkan Bara Api di Gambut Satgas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.