Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Konferensi Perairan Internasional ke-11 di Bali, Menteri LH Serukan Tobat Ekologis

Published Oktober 21, 2026 · Updated Oktober 21, 2026 · By William Garcia - nusantaranews1.com

Foto : William Garcia - nusantaranews1.com

Konferensi Perairan Internasional ke 11 di Bali Dorong Tobat Ekologis

Nusantaranews1.com – Konferensi Perairan Internasional ke 11 atau IWC-11 di Bali menyoroti ancaman perubahan iklim, pencemaran plastik, dan menurunnya keanekaragaman hayati. Dalam pembukaan forum pada 19 Oktober 2026, Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (BPLH) Moh Jumhur Hidayat menyerukan pentingnya Tobat Ekologis sebagai landasan perubahan hubungan manusia dengan alam.

Forum bertema Perairan Bersama, Solusi Transformatif: Memungkinkan Perubahan Sistem itu menegaskan bahwa persoalan air tidak dapat diselesaikan melalui proyek yang terpisah-pisah. Perlindungan sungai, pesisir, laut, dan ekosistem air tawar memerlukan kebijakan terhubung, inovasi, pendanaan berkelanjutan, serta tata kelola kuat lintas batas.

“Krisis saat ini menuntut lebih dari sekadar solusi yang terfragmentasi dan berbasis proyek. Sebagaimana tema konferensi ini mengingatkan kita, kita memerlukan solusi sistemik dan transformatif yang memadukan kebijakan, inovasi, pendanaan berkelanjutan, serta tata kelola yang kuat lintas batas,” kata Jumhur.

Momentum Menuju Aksi Air Global

Konferensi Perairan Internasional ke 11 di Bali menjadi bagian penting dari persiapan menuju Konferensi Air Perserikatan Bangsa-Bangsa di Abu Dhabi pada Desember 2026. Pertemuan ini diharapkan memperkuat komitmen dan kemitraan internasional untuk menjaga kualitas serta keberlanjutan sumber daya air.

Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kondisi perairan darat berkaitan langsung dengan kesehatan pesisir dan laut. Limbah dari kawasan perkotaan, industri, maupun daerah aliran sungai dapat mengalir hingga ke laut apabila tidak ditangani sejak sumbernya. Pencegahan pencemaran karena itu perlu dilakukan sebelum dampaknya menyebar lebih luas.

“Komitmen, kemitraan, dan transformasi sistem yang kita bentuk di Bali ini akan membangun momentum serta menentukan agenda global untuk aksi air di Abu Dhabi dan seterusnya,” ujar Menteri Jumhur.

Empat Prioritas Indonesia

Indonesia membawa empat prioritas dalam IWC-11. Pertama, mencegah polusi sejak awal di kawasan perkotaan, industri, dan sungai agar pencemar tidak terus mengalir ke pesisir maupun laut.

Kedua, Indonesia mendorong pemulihan ekosistem dengan hasil yang dapat diukur. Keberhasilan program tidak hanya dilihat dari pelaksanaannya, melainkan dari perubahan nyata terhadap kesehatan lingkungan dan ketahanan masyarakat menghadapi tekanan ekologis.

Prioritas ketiga adalah memperkuat kerja sama antarnegara melalui kepercayaan, pertukaran informasi, dan pengelolaan bersama. Kolaborasi tersebut tetap perlu menghormati kedaulatan setiap negara, terutama karena masalah perairan sering melampaui batas wilayah administratif.

Keempat, Indonesia menempatkan masyarakat dan kearifan budaya sebagai bagian penting dari solusi. Pendekatan ini memadukan pengetahuan ilmiah modern dengan praktik lokal, termasuk sistem irigasi Subak di Bali yang telah diakui UNESCO.

Tobat Ekologis untuk Perlindungan Air

Dalam Konferensi Perairan Internasional ke 11, Jumhur memperkenalkan Tobat Ekologis sebagai ajakan untuk meninggalkan kebiasaan yang merusak lingkungan dan menggantinya dengan tindakan perlindungan serta pemulihan alam. Gagasan tersebut bukan sekadar penyesalan atas kerusakan yang telah terjadi, tetapi dorongan untuk melakukan perubahan menyeluruh.

Dalam perlindungan perairan, perubahan itu dapat dilakukan melalui kebijakan publik, tata kelola usaha, dan kebiasaan sehari-hari. Pemerintah, dunia usaha, masyarakat, serta komunitas di sekitar sungai dan pesisir memiliki peran untuk mengurangi pencemaran dan menjaga ekosistem air.

“Tobat Ekologis bukan sekadar ungkapan penyesalan atas kerusakan lingkungan. Ini merupakan seruan untuk melakukan transformasi menyeluruh dalam cara kita berinteraksi dengan alam, beralih dari pola pikir eksploitasi menuju pola pikir yang mengedepankan harmoni, perlindungan, dan persaudaraan dengan semua makhluk hidup,” katanya.

FAQ Konferensi Perairan Internasional ke 11

Apa tujuan utama IWC-11 di Bali?

Tujuan utamanya adalah mendorong solusi sistemik bagi krisis perairan, termasuk pencemaran, perubahan iklim, dan kerusakan keanekaragaman hayati, melalui kerja sama lintas negara dan lintas sektor.

Mengapa perlindungan sungai penting bagi laut?

Pencemar dari permukiman, industri, dan daerah aliran sungai dapat terbawa hingga ke pesisir dan laut. Penanganan sejak dari sumber membantu mengurangi dampak terhadap ekosistem laut.

Apa yang dimaksud Tobat Ekologis?

Tobat Ekologis adalah ajakan untuk mengubah pola hubungan manusia dengan alam, dari pendekatan yang mengeksploitasi menjadi tindakan yang mengutamakan harmoni, perlindungan, dan pemulihan lingkungan.

Related Reading