Bandara Haji Asan Sampit Lumpuh Total Sepekan Imbas Kabut Asap Karhutla
Operasional Bandara Haji Asan Sampit Terhenti akibat Kabut Asap
Nusantaranews1.com – Aktivitas penerbangan di Bandara Haji Asan Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, belum dapat berjalan selama sepekan terakhir. Kabut asap tebal yang dipicu kebakaran hutan dan lahan membuat jarak pandang di sekitar landasan pacu turun hingga berada pada tingkat yang tidak aman bagi pesawat.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada seluruh jadwal penerbangan dari dan menuju Sampit. Maskapai memilih membatalkan keberangkatan serta kedatangan untuk menghindari risiko dalam proses lepas landas maupun pendaratan. Keputusan ini membuat bandara praktis tidak melayani operasi penerbangan normal sepanjang gangguan asap masih berlangsung.
46 Penerbangan Terdampak
Dalam tujuh hari terakhir, terdapat 13 jadwal penerbangan yang dibatalkan oleh maskapai. Angka itu mencakup layanan keberangkatan dan kedatangan yang seharusnya beroperasi melalui Bandara Haji Asan Sampit.
Jika dihitung sejak gangguan kabut asap mulai memengaruhi penerbangan, jumlah pembatalan telah mencapai 46 penerbangan. Rinciannya terdiri atas 23 penerbangan keberangkatan dan 23 penerbangan kedatangan. Data tersebut menunjukkan bahwa dampak asap tidak hanya dirasakan oleh calon penumpang yang hendak meninggalkan Sampit, tetapi juga warga serta pelaku perjalanan yang dijadwalkan tiba di kota tersebut.
“Selama seminggu terakhir ada 13 penerbangan yang dibatalkan maskapai. Namun untuk akumulasi total keseluruhan pembatalan penerbangan imbas kabut asap ini sudah mencapai 23 keberangkatan dan 23 kedatangan,” rilis Humas Bandara Haji Asan Sampit, Senin (28/9/2026).
Pembatalan penerbangan tentu mengubah rencana perjalanan banyak penumpang. Meski keluhan muncul karena jadwal terganggu, keselamatan tetap menjadi pertimbangan utama. Dalam situasi jarak pandang yang sangat rendah, pesawat membutuhkan kondisi visual yang memadai agar tahap penerbangan di sekitar bandara dapat dilakukan dengan aman.
Jarak Pandang di Bawah Standar Keselamatan
BMKG Kotawaringin Timur mencatat jarak pandang atau visibility di area Bandara Haji Asan Sampit berada di bawah 1 kilometer. Kondisi ini jauh dari batas minimum yang diperlukan untuk mendukung operasional penerbangan, yaitu sekitar 2 kilometer.
Perbedaan antara kondisi aktual dan batas aman tersebut menjadi alasan kuat bagi maskapai untuk menunda atau membatalkan penerbangan. Pesawat tidak hanya memerlukan lintasan udara yang aman, tetapi juga landasan dan lingkungan bandara yang dapat terlihat secara memadai saat melakukan manuver penting.
“Visibility saat ini berada di bawah 1 kilometer. Padahal, jarak pandang aman minimal untuk operasional penerbangan adalah sejauh 2 kilometer. Kondisi ini sangat berpengaruh dan berisiko tinggi terhadap keselamatan penerbangan,” tegas Prakirawan Cuaca BMKG Kotawaringin Timur, Lila Afifah.
Kabut asap dari karhutla dapat menurunkan kejelasan pandangan di udara dan di permukaan. Ketika landasan pacu tertutup asap pekat, proses pendaratan maupun lepas landas tidak dapat diperlakukan sebagai aktivitas rutin. Standar keselamatan penerbangan mengharuskan operator mengambil langkah kehati-hatian ketika cuaca atau kualitas udara tidak mendukung.
Pemantauan Hotspot dan Kondisi Ruang Udara
Otoritas Bandara Haji Asan Sampit bersama BMKG terus memantau perkembangan titik panas atau hotspot serta tingkat kecerahan ruang udara. Pemantauan ini penting untuk melihat perubahan kondisi yang dapat memengaruhi jarak pandang di sekitar bandara.
Pembukaan kembali layanan penerbangan akan bergantung pada terpenuhinya standar keselamatan nasional. Selama visibility belum mencapai ambang yang diperlukan, operasional bandara belum dapat kembali berjalan secara normal. Artinya, jadwal penerbangan masih sangat bergantung pada perkembangan kabut asap di wilayah tersebut.
Bagi calon penumpang, situasi ini menegaskan pentingnya memeriksa status penerbangan sebelum menuju bandara. Perubahan cuaca dan sebaran asap dapat membuat jadwal yang sebelumnya tersedia kembali mengalami penyesuaian. Informasi dari maskapai dan pihak bandara menjadi rujukan penting untuk mengetahui keberangkatan, kedatangan, serta kemungkinan perubahan layanan.
Gangguan di Bandara Haji Asan Sampit juga memperlihatkan dampak luas karhutla terhadap mobilitas masyarakat. Asap tidak hanya berpengaruh pada kualitas udara, melainkan turut menghambat konektivitas transportasi udara ketika pandangan di sekitar landasan berada di bawah batas aman. Dalam keadaan seperti ini, penundaan perjalanan merupakan konsekuensi yang harus dihadapi demi menekan risiko kecelakaan.
Hingga kondisi ruang udara membaik, pihak bandara dan BMKG akan melanjutkan pengawasan secara intensif. Normalisasi penerbangan baru dapat dilakukan setelah jarak pandang kembali memenuhi ketentuan keselamatan, sehingga pesawat dapat beroperasi dengan tingkat keamanan yang semestinya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bandara Haji Asan Sampit Lumpuh Total?Bandara Haji Asan Sampit Lumpuh Total is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bandara Haji Asan Sampit Lumpuh Total matter?Bandara Haji Asan Sampit Lumpuh Total matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.