Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

9 Orang Tewas dalam Sebulan – Warga Pasuruan Blokade Jalan Tuntut Truk Dilarang Melintas

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Patricia Rodriguez

9 Orang Tewas dalam Sebulan - Warga Pasuruan Blokade Jalan Tuntut Truk Dilarang Melintas

9 Orang Tewas dalam Sebulan - Penyebab utama kecelakaan lalu lintas di Kota Pasuruan, Jawa Timur, adalah keberadaan truk besar yang melewati jalur kota. Dalam sebulan terakhir, tercatat delapan insiden tabrakan antara truk dan sepeda motor, dengan total korban jiwa mencapai sembilan orang. Kondisi ini memicu reaksi keras dari warga setempat yang menuntut pemerintah setempat untuk membatasi akses truk berat ke jalur tersebut. Aksi blokade jalan di Kecamatan Gadingrejo, Rabu (17/6/2026), menjadi bukti kekecewaan masyarakat terhadap kebijakan lalu lintas yang dinilai berisiko tinggi.

Permintaan Masyarakat dan Kebijakan Lalu Lintas

Blokade jalan yang diadakan oleh ribuan warga tersebut menimbulkan kecaman terhadap pengelolaan jalan nasional yang dianggap tidak memperhatikan keselamatan. Peserta aksi, yang terdiri dari organisasi masyarakat, tokoh agama, serta warga sekitar, meminta Wali Kota Adi Wibowo untuk segera menerbitkan peraturan larangan truk melintasi jalan kota. Mereka menilai kecelakaan berulang bukan hanya akibat kurangnya kesadaran pengemudi, tetapi juga karena infrastruktur jalan yang tidak memadai.

Massa memilih Jalan Gatot Subroto sebagai target blokade karena jalur ini menjadi akses utama ke berbagai wilayah strategis. Pengalihan arus lalu lintas akibat perbaikan jembatan Sungai Bok Wedi di Bugul Kidul telah meningkatkan kepadatan kendaraan di jalur tersebut. Warga menilai perbaikan infrastruktur jembatan justru memperparah risiko karena tidak ada pengaturan alternatif yang memadai. "Truk ekspedisi yang melewati kota membuat kecelakaan terus terjadi. Kami meminta larangan tegas agar jalur ini aman," kata Koordinator Aksi Ayik Suhaya.

“Kami ingin ada tindakan nyata dari pemerintah, bukan hanya janji. Jika truk dilarang melintas, kami yakin kecelakaan bisa berkurang drastis,” tambah Ayik Suhaya.

Dalam aksi blokade, warga juga menunjukkan dukungan dengan mengadakan doa bersama dan tahlil untuk mendoakan korban kecelakaan. Aktivitas ini menyebabkan kemacetan hingga satu kilometer di sepanjang jalur tersebut. Arus lalu lintas yang terganggu berdampak pada aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk pengangkutan barang dan penumpang yang terjebak dalam antrean panjang.

Kondisi Jalan dan Faktor Risiko

Jalan Gatot Subroto yang menjadi sasaran blokade dikenal sebagai jalur yang sempit dan berliku. Kondisi ini memperbesar kemungkinan tabrakan antara kendaraan berat dan kendaraan ringan. Selain itu, kurangnya marka jalan dan kurangnya pengawasan di titik rawan menjadi faktor penambah risiko. "Tidak ada tanda peringatan di sepanjang jalur ini. Jika ada truk melintas, kita bisa mati di sana," ujar seorang warga yang turut serta dalam aksi.

Analisis dari Dinas Perhubungan Kota Pasuruan menunjukkan bahwa 70 persen kecelakaan di jalur tersebut terjadi karena pengemudi truk yang terburu-buru. Jumlah korban sepeda motor yang terlibat dalam kecelakaan juga meningkat tajam, terutama di jam sibuk pagi dan sore hari. Situasi ini memicu kekhawatiran akan peningkatan angka kematian dalam waktu dekat, jika kebijakan lalu lintas tidak segera diubah.

Respons Pemerintah dan Upaya Penyelesaian

Setelah aksi blokade berlangsung selama sekitar satu jam, pihak kepolisian dan pemerintah setempat langsung mengambil langkah untuk menyelesaikan situasi. Sepuluh truk yang terjebak di jalan diberi instruksi untuk kembali ke jalur alternatif, sementara petugas melakukan negosiasi dengan massa untuk membuka blokade. Meski kejadian ini tidak terlalu lama, dampaknya terasa jelas bagi warga sekitar yang terganggu aktivitas harian.

Sebagai respons, Wali Kota Adi Wibowo berjanji akan meninjau ulang rencana pengalihan arus lalu lintas. Pemerintah juga berencana melakukan penambahan marka jalan dan penempatan rambu-rambu di titik rawan. Namun, warga menilai tindakan tersebut tidak cukup untuk menjamin keselamatan. Mereka meminta penutupan sementara jalur tersebut sampai ada peningkatan infrastruktur yang signifikan. "Kami butuh jalan yang aman, bukan hanya pembersihan jalan," jelas salah satu peserta aksi.