2 Bocah Kakak Adik di Sumedang Disiram Air Keras – Polisi Curigai Lingkungan Keluarga
Kasus Penyiraman Air Keras pada Dua Bocah Kakak Beradik di Sumedang Semakin Mengemuka
Peristiwa Membahayakan Anak-Anak di Sumedang Diselidiki oleh Polisi
2 Bocah Kakak Adik di Sumedang - Dua bocah kakak beradik di Sumedang, Jawa Barat, menjadi korban penyiraman air keras dalam dua insiden berbeda, yang menarik perhatian kepolisian setelah pihak rumah sakit melaporkan kondisi korban. Mereka berinisial RPF (9 tahun) dan adiknya KSHZ (5 tahun), yang tinggal di Desa Cibunar, Kecamatan Rancakalong. Kini, petugas menelusuri kemungkinan penyebab dan pelaku dari lingkungan keluarga, berdasarkan petunjuk awal yang ditemukan.
Detil Kejadian Penyiraman Air Keras pada Dua Bocah Kakak Beradik
Kasus pertama terjadi pada 12 Mei 2026, saat KSHZ (5) turun dari mobil setelah berkunjung ke kerabat di Wado. Saat korban sedang ingin buang air kecil, diduga dibuntuti oleh seseorang yang tidak dikenal sebelum diberi cairan keras di wajah. Insiden kedua terjadi pada 15 Juni 2026, ketika RPF (9) disiram setelah pulang bermain sepak bola di lingkungan sekitar. Kedua anak mengalami luka serius, termasuk KSHZ yang mengalami kerusakan permanen pada mata sebelah kiri.
Menurut Kasat Reskrim Polres Sumedang, AKP Tanwin Nopianasah, kejadian tersebut menimbulkan kecurigaan bahwa pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban. “Dari hasil pemeriksaan sementara, ada indikasi bahwa pelaku bisa dari keluarga,” jelasnya. Polisi tengah mengumpulkan bukti, termasuk rekaman kamera pengintai, saksi mata, dan riwayat kesehatan korban. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Sumedang juga terlibat dalam mengamankan kedua anak di rumah aman untuk perlindungan sementara.
Kejadian penyiraman air keras ini memicu kecemasan di tengah masyarakat Sumedang. Pihak keluarga korban mengklaim tidak mengetahui identitas pelaku, meski beberapa warga setempat menyebutkan kemungkinan ada konflik dalam keluarga yang memicu tindakan tersebut. “Kami sudah menyampaikan laporan ke polisi, tapi belum ada kejelasan siapa pelakunya,” ungkap salah satu kerabat korban, yang meminta tetap dirahasiakan identitasnya.
Kedua anak tersebut kini menjalani perawatan intensif di rumah sakit, dengan luka yang membutuhkan pengobatan jangka panjang. Dokter menyatakan adik korban mengalami kebutaan sebagian pada mata kiri, sementara kakaknya mengalami luka bakar dan keterlambatan perkembangan fisik. Tim medis mengimbau keluarga tetap mengawasi kondisi anak-anak selama beberapa minggu ke depan. “Kita perlu memastikan bahwa penyebab luka tersebut benar-benar karena cairan keras, bukan faktor lain,” kata dokter spesialis traumatologi.
Dalam upaya memperkuat investigasi, polisi juga melibatkan ahli psikolog anak dan pihak pemerintah setempat untuk melacak kebiasaan dan lingkungan korban. “Kami mencari tahu apakah ada bentuk kekerasan yang terjadi secara berkelanjutan sebelum kejadian ini,” kata AKP Tanwin. Beberapa saksi di sekitar lokasi kejadian menuturkan bahwa korban sering dilihat tertawa bersama orang yang dianggap dekat dengan keluarga mereka. Polisi juga mengecek alur keuangan dan kegiatan keluarga korban selama beberapa bulan terakhir.
Kasus ini menimbulkan perdebatan tentang perlindungan anak-anak di lingkungan keluarga. Sejumlah warga Sumedang meminta pihak berwajib lebih transparan dalam mengungkap penyebab kejadian. “Jangan sampai anak-anak di Sumedang merasa aman tapi sebenarnya ada ancaman dari dalam keluarga,” kata seorang ibu rumah tangga yang tinggal di dekat lokasi kejadian. Sementara itu, organisasi perlindungan anak mengajukan rekomendasi agar kasus ini menjadi peringatan untuk masyarakat untuk lebih waspada terhadap kekerasan dalam rumah tangga.