Visit Agenda: Miliarder Ini Simpan 98 Persen Kekayaan di Emas dan Perak, Hartanya Tembus Rp58 Triliun
Miliarder Ini Simpan 98% Kekayaan di Emas dan Perak, Harta Tembus Rp58 Triliun
Visit Agenda - Eric Sprott, seorang investor berusia 81 tahun, kembali menjadi sorotan dalam dunia finansial. Dalam beberapa tahun terakhir, kekayaannya mencapai lebih dari 3,3 miliar dolar AS, setara dengan Rp58,42 triliun berdasarkan kurs Rp17.710 per dolar AS. Sebagian besar dari jumlah tersebut dialokasikan ke emas dan perak, dengan persentase hampir 98%. Ini menunjukkan kepercayaan Sprott terhadap kekuatan logam mulia sebagai aset perlindungan terhadap ketidakstabilan ekonomi.
Kekayaan yang Tumbuh Melalui Investasi Emas dan Perak
Sprott, yang dikenal sebagai pendiri Sprott Asset Management, telah mengejar strategi investasi ini sejak awal 1980-an. Pada dua tahun terakhir, nilai portofolionya mengalami peningkatan hampir empat kali lipat, didorong oleh kenaikan harga emas dan perak global. Menurut laporan Forbes, investasi ini terbukti sangat efektif dalam menghadapi perubahan ekonomi yang tidak terduga. Visit Agenda menyoroti bahwa peningkatan tersebut memperkuat prediksi Sprott tentang kenaikan harga logam mulia di masa depan.
“Emas dan perak tetap menjadi aset yang dianggap aman. Saya percaya bahwa keuntungan dari investasi ini akan terus berlanjut, terutama dalam kondisi ketidakpastian geopolitik dan inflasi yang tinggi,” kata Sprott dalam wawancara terbarunya. Dengan perak yang bisa mencapai 200 bahkan 300 dolar AS per ons, serta emas yang diprediksi mencapai 10.000 dolar AS, Sprott optimis bahwa kekayaannya akan terus bertumbuh.
Alasan Mempertahankan Strategi Investasi pada Logam Mulia
Menurut Sprott, keputusan untuk menyimpan hampir 98% kekayaannya di emas dan perak didasarkan pada ketidakstabilan sistem keuangan global. Ia menyebut bahwa pemerintah di berbagai negara sering kali tidak tanggung jawab, terutama dalam mencetak uang dan melakukan pengeluaran berlebihan. “Ini membuat mata uang utama seperti dolar AS dan euro terpuruk, sehingga logam mulia menjadi pilihan terbaik untuk mengamankan nilai,” jelasnya.
Investor seperti Sprott juga memperhatikan risiko inflasi dan perubahan moneter. Dalam wawancara dengan Visit Agenda, dia menekankan bahwa logam mulia memiliki peran penting dalam melindungi nilai investasi. Selain itu, ia juga melihat potensi permintaan global yang meningkat, terutama dari sektor teknologi dan energi, sebagai alasan utama untuk tetap fokus pada emas dan perak.
Perusahaan Tambang yang Menjadi Bagian Portofolio Besar Sprott
Portofolio Sprott terdiri dari sekitar 120 perusahaan tambang, meski sebagian besar dana terpusat pada 10 perusahaan utama. Salah satu investasinya yang paling signifikan adalah Hycroft Mining Holding Corp, yang memberinya kepemilikan sekitar 1,3 miliar dolar AS. Ia membeli saham perusahaan tersebut pada 2019, ketika tambang emas dan perak di Nevada Utara masih belum beroperasi dan terlilit utang besar.
Sprott kemudian menyuntikkan dana lebih dari 360 juta dolar AS untuk membantu pembiayaan proyek tersebut. Langkah ini menghasilkan keuntungan besar setelah saham Hycroft melonjak lebih dari 1.400 persen sejak awal 2025. Selain Hycroft, Sprott juga memiliki kepemilikan di Discovery Silver Corporation, perusahaan tambang emas dari Ontario, Kanada. Ia membeli sahamnya sejak 2019 dan terus menambah kepemilikan hingga mencapai 25 persen, terutama setelah Discovery Silver mengakuisisi proyek tambang besar pada Januari 2025.
Prediksi Pasar dan Pandangan Terhadap Masa Depan Investasi
Dalam kacamata Sprott, perak tetap menjadi aset yang memiliki prospek baik, terutama karena defisit pasar yang terjadi selama lima tahun terakhir. Data dari Silver Institute menunjukkan bahwa konsumsi perak selalu lebih tinggi dari produksi, sehingga membuat permintaan global terus meningkat. “Visit Agenda melaporkan bahwa pasar perak masih memiliki ruang untuk berkembang, dan saya yakin tren ini akan terus berlanjut,” ujarnya.
Sprott juga mulai mengamati mangan sebagai logam berpotensi besar, terutama dalam sektor baterai kendaraan listrik. Setelah membaca laporan Samsung pada akhir 2024, ia memutuskan untuk membeli saham di perusahaan tambang mangan. Meski bukan ahli geologi, Sprott mengandalkan kemampuan analisis angka untuk memilih investasi yang menguntungkan. “Visit Agenda mengungkapkan bahwa keputusan ini berdasarkan proyeksi permintaan global yang meningkat tajam, terutama dalam teknologi hijau,” tambahnya.
Visit Agenda menyoroti bahwa Sprott tidak hanya fokus pada emas dan perak, tetapi juga mempertimbangkan aset lain yang memiliki potensi tumbuh signifikan. Meski kondisi geopolitik dunia masih memanas, seperti konflik di Iran, ia tetap memfokuskan diri pada logam mulia. “Saya tidak tertarik membeli saham perusahaan teknologi populer seperti Nvidia, Microsoft, atau Apple, karena volatilitas pasar teknologi terlalu tinggi dibandingkan logam mulia,” jelas Sprott.