Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Visit Agenda: Harga Telur di Tingkat Peternak Anjlok, Bapanas Siap Intervensi

Published Juni 5, 2026 · Updated Juni 5, 2026 · By Mary Jones

Visit Agenda: Harga Telur Ayam Ras Turun, Bapanas Siap Intervensi

Tren Penurunan Harga Telur Ayam Ras

Visit Agenda menyebutkan bahwa harga telur ayam ras di tingkat produsen mengalami penurunan signifikan sejak Maret 2026. Data terbaru menunjukkan bahwa harga tersebut bergerak dari Rp27.236 per kg menjadi Rp24.424 per kg di awal Juni 2026. Penurunan ini mencerminkan dinamika pasar yang kompleks, dengan faktor-faktor seperti peningkatan pasokan, permintaan yang relatif stabil, dan tekanan dari berbagai aspek ekonomi.

Menurut laporan Bapanas, harga telur mengalami penurunan sepanjang bulan Mei dan Juni. Pada April 2026, harga mencapai Rp25.719 per kg, lalu turun ke Rp24.688 per kg di Mei. Dengan Visit Agenda yang terus memantau situasi ini, pemerintah berupaya mengendalikan fluktuasi harga untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan konsumen.

Strategi Bapanas dalam Stabilisasi Harga

I Gusti Ketut Astawa, Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, menyatakan bahwa pemerintah telah memulai langkah intervensi untuk menaikkan kembali harga telur ayam ras. "Visit Agenda memperhatikan tren harga yang turun, sehingga kami melakukan upaya untuk memperkuat ketersediaan pangan dan mengurangi tekanan pada peternak," jelas Astawa dalam siaran resmi, Kamis (4/6/2026).

Dalam wawancara terpisah, Astawa menambahkan bahwa Bapanas berperan aktif dalam menjaga kestabilan harga di seluruh rantai pasok. Langkah ini dilakukan agar harga telur tidak terlalu rendah di tingkat produsen, sekaligus tidak terlalu tinggi di pasar konsumen. "Kami bertujuan menciptakan harga yang wajar dan berkeadilan bagi seluruh pihak, termasuk peternak, distributor, dan masyarakat umum," tuturnya.

Visit Agenda menekankan bahwa intervensi harga bukan hanya untuk memperbaiki situasi saat ini, tetapi juga sebagai bagian dari strategi jangka panjang untuk mencapai swasembada pangan. Pada bulan Mei 2026, pemerintah meluncurkan beberapa kebijakan, seperti penguatan pasokan dan koordinasi antarlembaga, untuk mengatasi tekanan harga yang berkelanjutan.

Dampak Penurunan Harga pada Peternak dan Konsumen

Penurunan harga telur berdampak langsung pada pendapatan peternak. Dengan harga yang terus turun, banyak peternak mengalami kesulitan mempertahankan produktivitas dan daya saing di pasar. Astawa menjelaskan bahwa Bapanas juga memantau kondisi peternak di tingkat lokal untuk memastikan mereka tidak mengalami kerugian berlebihan.

Di sisi lain, masyarakat konsumen menikmati harga telur yang lebih terjangkau. Namun, hal ini tidak sepenuhnya menguntungkan, karena ada risiko ketidakstabilan pasokan jika harga terus menurun. "Visit Agenda mengharapkan harga telur bisa stabil, agar pasokan tetap terjaga dan masyarakat tidak mengalami kenaikan harga yang tidak terduga," kata Astawa.

Dalam pernyataannya, Astawa menekankan bahwa kebijakan intervensi akan dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. "Kami berharap, melalui Visit Agenda, harga telur bisa kembali ke level yang sehat, tanpa mengorbankan keuntungan peternak," tambahnya. Pemerintah juga berupaya memastikan bahwa kebijakan ini tidak hanya fokus pada harga, tetapi juga pada kualitas dan keberlanjutan produksi telur di Indonesia.

Analisis Perkembangan Harga Telur Ayam Ras

Bapanas melakukan pemantauan berkala terhadap harga telur ayam ras, dengan melibatkan berbagai instansi terkait. Dalam beberapa minggu terakhir, harga telur terus mengalami tekanan, terutama karena permintaan yang tidak seimbang dengan peningkatan produksi. Visit Agenda mencatat bahwa pasar internasional juga memengaruhi dinamika harga ini, baik melalui impor maupun ekspor telur.

Dari data yang diperoleh, harga telur pada bulan Mei tercatat lebih rendah dibandingkan bulan sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa perubahan harga bisa terjadi dalam waktu singkat, sehingga perlu adanya kebijakan yang cepat dan responsif. "Visit Agenda adalah bagian dari upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga, terutama dalam situasi seperti saat ini," tambah Astawa.

Menurut analisis Bapanas, penurunan harga telur tidak hanya dipengaruhi oleh faktor pasokan, tetapi juga oleh biaya produksi yang cenderung turun. Peningkatan efisiensi dalam pengelolaan kandang dan pengurangan ongkos produksi membuat harga telur menjadi lebih kompetitif. Namun, ketidakseimbangan ini perlu diatasi agar tidak berdampak negatif pada kesejahteraan peternak.

Dalam rangka menstabilkan harga, Bapanas bekerja sama dengan Kementerian Pertanian dan lembaga lainnya. "Visit Agenda akan terus diperkuat untuk memastikan bahwa harga telur tidak hanya diturunkan, tetapi juga diatur agar tidak terlalu rendah," jelas Astawa. Pemerintah berharap kebijakan ini dapat berjalan efektif, dengan memperhatikan kebutuhan peternak sekaligus menjaga ketersediaan pasokan untuk masyarakat.

Perspektif Jangka Panjang dalam Stabilisasi Harga

Visit Agenda juga menyoroti pentingnya konsistensi dalam kebijakan stabilisasi harga. Astawa menekankan bahwa intervensi harga tidak boleh hanya menjadi langkah jangka pendek, tetapi juga harus diintegrasikan dengan program jangka panjang untuk meningkatkan kapasitas produksi dan distribusi telur di Indonesia.

Dalam hal ini, pemerintah berupaya memastikan bahwa peternak tidak hanya mendapatkan harga yang adil, tetapi juga diberi insentif untuk meningkatkan produktivitas. "Visit Agenda akan berdampak positif jika kebijakan ini diterapkan secara konsisten, sehingga peternak terus berproduksi dan masyarakat tetap mendapatkan akses pangan yang baik," kata Astawa.

Para ahli menilai bahwa kebijakan stabilisasi harga merupakan bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga keseimbangan ekonomi dan sosial. Dengan Visit Agenda