Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Topics Covered: Bahlil Patok Harga Tertinggi Minyak Mentah RI 95 Dolar AS per Barel di 2027

Published Juni 15, 2026 · Updated Juni 15, 2026 · By William Garcia

Bahlil Tetapkan Target Harga Minyak Mentah RI 95 Dolar AS per Barel di 2027

Topics Covered - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah telah menetapkan target harga minyak mentah Indonesia (ICP) pada rentang 70 hingga 95 dolar AS per barel untuk tahun 2027. Target ini diumumkan dalam rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI, Senin (15/6/2026), dan menjadi perhatian utama dalam kebijakan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi. Bahlil menjelaskan, selama ini pemerintah terus memantau dinamika harga global sebelum memutuskan angka akhir ICP untuk 2027.

Kebijakan Harga BBM dan Mekanisme Penetapan ICP

Topics Covered - Harga BBM non-subsidi di Indonesia secara langsung dipengaruhi oleh Indeks Harga Minyak Mentah (ICP) yang diterbitkan oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Ketenagakerjaan. Bahlil mengungkapkan bahwa formula harga dasar BBM dihitung berdasarkan tiga komponen: indeks harga pasar, konstanta, dan margin. Dengan angka ICP sebagai patokan, harga BBM bisa berfluktuasi tergantung kondisi ekonomi global dan permintaan energi.

“Harga BBM non-subsidi dihitung melalui mekanisme ICP yang diumumkan bulanannya. Jika harga minyak dunia naik, maka BBM akan mengikuti kenaikan tersebut. Namun, angka 70-95 dolar AS per barel di 2027 menjadi patokan utama untuk menjaga konsistensi kebijakan,” tutur Bahlil.

Fluktuasi Harga Minyak di Mei 2026

Topics Covered - Sebelum menetapkan target 2027, Bahlil menyebutkan bahwa ICP pada Mei 2026 sempat mencapai 106,56 dolar AS per barel, melebihi proyeksi awal pemerintah. Namun, angka ini dianggap sebagai referensi sementara, karena pemerintah masih mengamati perkembangan pasar hingga Agustus 2026. Dalam konteks ini, target harga ICP 2027 disusun untuk mengantisipasi perubahan ekonomi global dan kebijakan energi internasional.

“Harga minyak mentah global fluktuatif, terutama terkait permintaan dari negara-negara pengguna utama seperti Tiongkok dan Eropa. Dengan menetapkan target 70-95 dolar AS, pemerintah ingin mencerminkan kondisi pasar yang stabil dan mendukung ekonomi nasional,” ujarnya.

Peluang dan Tantangan Kebijakan Harga BBM

Topics Covered - Kebijakan harga BBM non-subsidi ini diharapkan mampu mengurangi subsidi yang terus mengalami tekanan, sambil memastikan ketersediaan bahan bakar untuk masyarakat. Bahlil menegaskan bahwa angka ICP 2027 akan membantu mengatur kenaikan harga BBM secara proporsional, tanpa menimbulkan kenaikan yang terlalu besar. Selain itu, pemerintah juga mempertimbangkan faktor inflasi dan daya beli konsumen dalam menetapkan harga tersebut.

Dalam konteks ekonomi, harga ICP yang ditetapkan di 2027 diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap penerimaan negara dan biaya transportasi. Bahlil menjelaskan bahwa pengaturan harga BBM berdasarkan ICP merupakan upaya untuk menyelaraskan kebijakan energi dengan dinamika pasar, sehingga mampu menarik investasi dan meningkatkan pendapatan negara.

Pelaksanaan Formula Harga dan Keterlibatan Pertamina

Topics Covered - Perusahaan Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi, seperti Pertamina, memiliki peran penting dalam menerapkan formula harga ICP. Dalam kesempatan terpisah, Pertamina menyatakan telah melakukan penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green 95, sebagai bentuk respons terhadap perubahan harga minyak global. Bahlil mengakui bahwa kebijakan ini akan berdampak langsung pada konsumen, terutama bagi pengguna BBM di luar subsidi.

“Kami berupaya mengoptimalkan mekanisme harga BBM dengan memperhatikan keseimbangan antara pendapatan negara dan biaya konsumen. Selama ini, Pertamina terus berkomunikasi dengan pemerintah untuk menyelaraskan kebijakan harga,” kata Bahlil.

Harapan untuk Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi

Topics Covered - Bahlil optimis bahwa target harga ICP 70-95 dolar AS per barel di 2027 akan memberikan stabilitas kebijakan energi, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menekankan bahwa pemerintah telah memperhitungkan kemampuan fiskal negara untuk menanggung kenaikan harga BBM hingga akhir 2026, dan menjaga kestabilan ekonomi. Dengan harga minyak yang dipatok di level tertentu, pemerintah bisa mengurangi beban subsidi sekaligus meningkatkan pendapatan negara.

Menurut Bahlil, kebijakan ini juga dirancang untuk menarik minat investor dalam sektor energi. Dengan menetapkan target harga ICP secara jelas, pemerintah memberikan kepastian bagi perusahaan-perusahaan minyak dalam merencanakan produksi dan pendapatan. Selain itu, kenaikan harga BBM di 2027 diharapkan bisa mengikis defisit energi dan meningkatkan penerimaan pajak dari sektor minyak.