Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pramono Bangun Embung Kebagusan, Sebut Bisa Kurangi Banjir di Jakarta

Published Oktober 14, 2026 · Updated Oktober 14, 2026 · By Mary Jones - nusantaranews1.com

Foto : Mary Jones - nusantaranews1.com

Embung Kebagusan Disiapkan untuk Menahan Limpasan Air di Jakarta Selatan

Nusantaranews1.com – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta tengah membangun Embung Kebagusan di wilayah Pasar Minggu, Jakarta Selatan, sebagai bagian dari upaya pengendalian banjir. Tampungan air ini dirancang untuk membantu mengurangi beban aliran di daerah aliran sungai atau DAS Mampang dan Krukut.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa embung tersebut memiliki luas sekitar dua hektare. Dalam perhitungan teoretis, fasilitas ini diproyeksikan dapat menahan air hingga 8 persen dari aliran pada DAS Mampang dan Krukut. Kapasitas itu diharapkan memberi dampak pada pengurangan genangan di kawasan yang terhubung dengan dua aliran tersebut.

“Pemerintah DKI Jakarta sekarang ini sedang mempersiapkan penanganan banjir secara menyeluruh, baik itu membangun embung, waduk, dan juga normalisasi tiga sungai yang ada: Ciliwung, Krukut, dan Cakung,” kata Pramono dikutip Rabu (14/10/2026).

Bagian dari Penanganan Banjir yang Lebih Menyeluruh

Pembangunan Embung Kebagusan ditempatkan dalam rangkaian langkah yang lebih luas. Selain menambah tampungan air melalui embung dan waduk, Pemprov DKI Jakarta juga menyiapkan normalisasi pada tiga sungai, yakni Ciliwung, Krukut, dan Cakung.

Embung berfungsi sebagai ruang penampungan sementara ketika volume air meningkat. Keberadaan tampungan semacam ini penting dalam sistem pengelolaan air perkotaan karena air tidak seluruhnya langsung mengalir menuju saluran atau sungai pada waktu yang sama. Dengan adanya tempat penahanan, debit yang bergerak ke hilir diharapkan dapat lebih terkendali.

Untuk wilayah Kebagusan dan sekitarnya, perhatian utamanya berada pada aliran Mampang serta Krukut. Kedua DAS tersebut menjadi bagian dari sistem aliran air yang melintasi kawasan perkotaan, sehingga penanganannya membutuhkan kombinasi infrastruktur, pengelolaan sungai, dan kapasitas tampungan yang memadai.

Pramono menyatakan penanganan banjir tidak berarti genangan akan hilang sepenuhnya. Namun, pembangunan infrastruktur pengendali air diharapkan dapat membuat dampaknya berkurang secara signifikan, terutama saat terjadi peningkatan aliran air.

“Mudah-mudahan dengan penanganan banjir, walaupun pasti masih terjadi, mengalami pengurangan yang cukup signifikan. Dari hitungan secara teoretis, Mampang atau DAS Mampang dan Krukut ini mudah-mudahan bisa menahan air sampai dengan delapan persen,” ujarnya.

Potensi Pasokan Air bagi Warga

Selain ditujukan untuk membantu pengendalian banjir, air yang tertampung di Embung Kebagusan juga berpotensi dimanfaatkan bagi masyarakat di sekitar lokasi. Rencana tersebut masih akan dibahas melalui kerja sama Dinas Sumber Daya Air DKI Jakarta dengan PAM Jaya.

Pembahasan yang diperlukan mencakup tujuan penggunaan air, kemungkinan pemanfaatannya untuk kebutuhan warga, serta ketentuan tarif. Karena itu, rencana pemanfaatan air embung tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan air, tetapi juga pengelolaan kualitas, distribusi, dan perhitungan layanan yang akan dilakukan lebih lanjut.

Apabila skema kerja sama itu berjalan, Embung Kebagusan dapat memiliki fungsi ganda. Saat curah hujan dan aliran meningkat, embung berperan sebagai penampung air. Di sisi lain, air yang tersedia berpeluang menjadi sumber yang dapat dikelola untuk kepentingan masyarakat, sesuai hasil kajian dan pengaturan dari instansi terkait.

“Maka kami akan izinkan nantinya untuk bekerja sama antara Sumber Daya Air dengan PAM Jaya, untuk air ini apa dikonsumsi atau digunakan oleh warga ataupun masyarakat, tetapi tentunya nanti PAM Jaya yang akan menghitung berapa apa tarif dan sebagainya,” tutupnya.

Arti Kapasitas Tampungan bagi Kawasan Perkotaan

Pengendalian banjir di Jakarta membutuhkan penanganan pada banyak titik karena air bergerak melalui saluran, sungai, kawasan permukiman, dan ruang terbuka. Embung menjadi salah satu unsur yang dapat membantu menunda aliran air ketika kapasitas sistem drainase dan sungai menghadapi tekanan lebih besar.

Angka 8 persen yang diproyeksikan untuk DAS Mampang dan Krukut menggambarkan kontribusi Embung Kebagusan terhadap pengurangan beban aliran, bukan jaminan bahwa seluruh genangan dapat dicegah. Efektivitasnya tetap berkaitan dengan kondisi aliran sungai, kapasitas drainase, intensitas hujan, serta pelaksanaan langkah pengendalian banjir lainnya.

Karena itu, pembangunan embung, waduk, dan normalisasi sungai diposisikan sebagai langkah yang saling melengkapi. Penambahan ruang tampung membantu mengelola volume air, sedangkan penataan sungai mendukung kelancaran aliran. Bagi warga, tujuan akhirnya adalah menekan risiko dampak banjir dan genangan melalui pengelolaan air yang lebih terintegrasi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pramono Bangun Embung Kebagusan Sebut Bisa?

Pramono Bangun Embung Kebagusan Sebut Bisa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pramono Bangun Embung Kebagusan Sebut Bisa matter?

Pramono Bangun Embung Kebagusan Sebut Bisa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.