Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Prabowo Wanti-Wanti Perang lewat Medsos: Kerahkan Buzzer, Pengaruhi Rakyat dengan Fitnah

Published September 18, 2026 · Updated September 18, 2026 · By David Jackson - nusantaranews1.com

Foto : David Jackson - nusantaranews1.com

Prabowo Soroti Ancaman Manipulasi Digital terhadap Demokrasi

Nusantaranews1.com – Presiden Prabowo Subianto mengingatkan bahwa konflik pada masa kini tidak selalu ditandai oleh pengerahan pasukan atau pertempuran fisik. Ruang digital, terutama media sosial, dapat menjadi arena yang dipakai untuk memengaruhi pandangan publik melalui informasi keliru, fitnah, serta penggunaan teknologi yang terorganisasi.

Peringatan itu disampaikan Prabowo dalam puncak perayaan Hari Ulang Tahun ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, Jakarta, Jumat (18/9/2026). Ia menekankan pentingnya kewaspadaan terhadap risiko demokrasi yang dapat dipengaruhi kekuatan ekonomi besar.

“Saudara-saudara, tapi kita harus hati-hati bahwa demokrasi bisa dibajak. Demokrasi bisa dibeli. Oleh mereka-mereka yang punya kekuatan ekonomi besar, mereka-mereka yang punya uang banyak, dan terutama mereka-mereka yang uangnya didapat dengan cara tidak halal,” kata Prabowo.

Media Sosial sebagai Ruang Perebutan Pengaruh

Dalam penjelasannya, Prabowo menyoroti pemakaian algoritma, buzzer, dan robot digital untuk membentuk atau mengarahkan opini masyarakat. Pola semacam ini dinilai dapat merusak kualitas percakapan publik ketika informasi yang tersebar tidak diuji kebenarannya dan sengaja dirancang untuk memecah perhatian masyarakat.

Algoritma media sosial pada dasarnya menentukan konten yang lebih sering muncul di hadapan pengguna. Ketika digunakan bersama jaringan akun yang aktif menyebarkan pesan tertentu, sebuah narasi dapat terlihat lebih besar atau lebih meyakinkan daripada kondisi yang sebenarnya. Situasi ini membuat masyarakat perlu semakin teliti saat menerima informasi yang cepat menyebar.

“Dengan uang, mereka memelihara apa itu algoritma, pakai buzzer-buzzer, robot-robot, anak-anak kita, bapak-bapak kita, rakyat kita dirusak. Coba mereka pengaruhi dengan fitnah. Alhamdulillah rakyat kita tidak bodoh,” ujarnya.

Pernyataan tersebut menempatkan literasi digital sebagai kebutuhan penting dalam kehidupan demokrasi. Pengguna media sosial tidak hanya berhadapan dengan informasi dari orang-orang yang mereka kenal, tetapi juga dapat menemukan unggahan dari akun otomatis, jaringan penyebar pesan, atau konten yang dibuat untuk memancing reaksi emosional.

Fitnah dan informasi yang tidak benar dapat menyebar luas karena sering memakai judul yang memancing kemarahan, ketakutan, atau rasa curiga. Dalam kondisi seperti itu, kebiasaan memeriksa isi informasi sebelum membagikannya menjadi langkah sederhana yang memiliki dampak besar. Masyarakat juga perlu membedakan antara pendapat, kritik, fakta, dan tuduhan yang belum memiliki dasar jelas.

Bentuk Perang yang Berubah

Prabowo menyebut ancaman manipulasi melalui media sosial bukan persoalan yang hanya dihadapi satu negara. Ia memandang praktik tersebut sebagai bagian dari bentuk perang modern, ketika tujuan melemahkan suatu bangsa dapat dilakukan dengan mengganggu kepercayaan masyarakat dan merusak ruang diskusi publik.

“Tapi ini bahaya yang dialami banyak negara. Jadi ini adalah termasuk perang. Perang sekarang tidak perlu dengan kirim pasukan banyak. Pertama dia rusak dengan sosmed-sosmed yang nggak bener,” ucap dia.

Perubahan bentuk ancaman ini membuat ketahanan masyarakat tidak cukup hanya dipahami sebagai persoalan pertahanan fisik. Kepercayaan publik, kemampuan berpikir kritis, serta sikap saling menghormati dalam perbedaan juga menjadi bagian penting dari kekuatan sosial. Informasi palsu dapat memicu kesalahpahaman, memperlebar polarisasi, dan mengalihkan perhatian dari persoalan yang membutuhkan pembahasan berdasarkan fakta.

Demokrasi membutuhkan warga yang dapat membuat pilihan secara sadar. Karena itu, akses terhadap informasi yang akurat dan terbuka memiliki peran penting. Perbedaan pandangan politik merupakan hal yang wajar, namun perbedaan tersebut akan lebih sehat bila disampaikan tanpa manipulasi, serangan pribadi, maupun tuduhan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

Pesan Prabowo juga menjadi pengingat bahwa kekuatan uang dapat memengaruhi percakapan digital apabila tidak diimbangi kesadaran publik. Aktivitas yang tampak spontan di media sosial belum tentu lahir dari percakapan alami. Banyaknya unggahan, komentar, atau tagar tidak selalu mencerminkan suara masyarakat secara utuh.

Pentingnya Sikap Kritis di Ruang Digital

Bagi pengguna media sosial, kewaspadaan dapat dimulai dari langkah dasar: membaca informasi secara lengkap, memperhatikan konteks, tidak terburu-buru menyebarkan pesan, dan mencari penjelasan dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Sikap ini penting terutama terhadap konten yang memakai bahasa sangat provokatif atau mengajak pembaca segera mengambil kesimpulan.

Ruang digital dapat memberi manfaat besar untuk bertukar gagasan, menyampaikan aspirasi, dan memperoleh pengetahuan. Namun, manfaat itu perlu dijaga agar tidak berubah menjadi sarana penyebaran kebencian maupun manipulasi. Kesadaran bersama untuk menolak fitnah dan informasi yang menyesatkan menjadi bagian dari upaya menjaga demokrasi tetap berjalan secara sehat.

Melalui peringatan tersebut, Prabowo menegaskan bahwa masyarakat Indonesia perlu memahami perubahan karakter ancaman di era teknologi. Ketika perang pengaruh berlangsung melalui layar dan arus informasi, kecermatan publik menjadi salah satu benteng utama untuk mencegah demokrasi dibajak oleh kepentingan yang mengandalkan kekuatan ekonomi dan praktik tidak halal.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Prabowo Wanti Wanti Perang lewat Medsos?

Prabowo Wanti Wanti Perang lewat Medsos is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Prabowo Wanti Wanti Perang lewat Medsos matter?

Prabowo Wanti Wanti Perang lewat Medsos matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.