Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Ubedilah Badrun Ungkap Momen yang Membuatnya Terpanggil Ikut Demo Mahasiswa

Published Juni 17, 2026 · Updated Juni 17, 2026 · By Sarah Smith

Ubedilah Badrun Buka Suara: Alasan Ikut Demo Mahasiswa Terkait New Policy

New Policy - Politik dan kebijakan baru sering kali menjadi pemicu perubahan dalam masyarakat. Ubedilah Badrun, seorang analis sosial politik dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), menyampaikan penjelasan mendalam mengenai momen yang memotivasi dirinya untuk turut serta dalam aksi demonstrasi mahasiswa. Dalam wawancara bersama iNews, ia menjelaskan bahwa kebijakan baru, yang saat ini menjadi sorotan publik, memicu rasa tanggung jawab dan kegelisahan terhadap kondisi rakyat Indonesia.

Kesedihan Rakyat sebagai Pendorong Partisipasi

Menurut Ubedilah, salah satu momen paling mengguncang yang memotivasi keikutsertaannya dalam aksi unjuk kekuatan adalah melihat warga yang berjuang keras di tengah tekanan ekonomi. "Saya melihat seorang orang tua berair mata sambil meminta bantuan di jalanan, dan itulah bagian dari rakyat Indonesia yang terus menghadapi penderitaan akibat kebijakan baru yang belum memberikan solusi," kata dia dalam program Rakyat Bersuara bertajuk 'Suara Mahasiswa: Menguji Fakta, Menjaga Harapan' di iNews, Rabu (17/6/2026).

"Keberlanjutan korupsi yang merajalela dalam berbagai sektor menjadi penyebab utama gelisah saya, terlebih saat kebijakan baru dianggap tidak mampu mengatasi krisis ekonomi yang menghimpit masyarakat," ujarnya.

Analisis Kebijakan Baru dan Dampaknya

Kebijakan baru yang dibahas dalam aksi demo tersebut, menurut Ubedilah, memicu berbagai reaksi dari kalangan akademisi dan masyarakat sipil. Ia menekankan bahwa adopsi kebijakan baru, meski diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi, justru terkesan tidak tepat sasaran dalam menangani masalah utama seperti kemiskinan dan ketimpangan sosial. "Kebijakan baru yang diterapkan perlu disertai dengan transparansi dan akuntabilitas, karena jika tidak, dampaknya bisa semakin memperparah penderitaan rakyat," jelas Ubedilah.

Dalam konteks perekonomian Indonesia, kebijakan baru sering kali dianggap sebagai upaya pembaruan regulasi, tetapi belum mampu mengatasi tantangan yang mengakar. Ubedilah mengkritik pola pemikiran yang mengutamakan kecepatan implementasi kebijakan baru tanpa mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. "Kebijakan baru harus diukur berdasarkan keadilan sosial, bukan hanya keuntungan politik atau kepentingan tertentu," tegasnya.

Momen Membangun Kesadaran Bersama

Aksi demonstrasi mahasiswa, yang sebagian besar dipicu oleh kebijakan baru, menjadi ajang untuk membangun kesadaran bersama mengenai isu-isu yang mengemuka. Ubedilah mengatakan bahwa keikutsertaannya dalam aksi tersebut bukan hanya sekadar menyampaikan suara, tetapi juga untuk menunjukkan dukungan terhadap reformasi yang lebih adil. "Keberhasilan kebijakan baru tergantung pada partisipasi publik dan kesadaran akan dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari," lanjutnya.

"Dalam kebijakan baru, kita harus melihat bagaimana peran pemerintah dalam menyeimbangkan antara kepentingan ekonomi dan kebutuhan sosial. Jika tidak, aksi seperti ini akan terus berlangsung hingga ada perubahan yang signifikan," katanya.

Krisis Ekonomi dan Peran Kebijakan Baru

Kebijakan baru yang menjadi topik utama dalam demo mahasiswa, menurut Ubedilah, tidak cukup mengatasi krisis ekonomi yang terus berlanjut. Ia menyoroti bahwa kondisi masyarakat yang terpuruk, dengan angka kemiskinan mencapai 60 persen versi World Bank, memerlukan kebijakan yang lebih menyeluruh. "Kebijakan baru harus diimbangi dengan kebijakan yang mengutamakan perlindungan terhadap kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas, anak-anak, dan lansia," tambahnya.

Dalam pandangan Ubedilah, kebijakan baru yang diterapkan saat ini cenderung memperkuat ketimpangan sosial. "Kebijakan baru yang tidak memperhatikan keadilan sosial hanya akan memperbesar kesenjangan antara pihak-pihak yang berkuasa dan rakyat biasa," jelasnya. Ia juga menyoroti peran korupsi dalam memperparah situasi, di mana kebijakan baru yang dijanjikan bisa terkubur dalam birokrasi yang berat.

Potensi Perubahan dan Harapan Masa Depan

Kebijakan baru yang diusulkan dan dibahas dalam aksi mahasiswa, menurut Ubedilah, memiliki potensi besar untuk memperbaiki kondisi ekonomi dan sosial. Ia berharap pemerintah mampu menyelaraskan antara kebijakan baru dan aspirasi masyarakat yang membutuhkan perhatian lebih. "Kebijakan baru harus menjadi alat untuk mewujudkan kemakmuran bersama, bukan hanya keuntungan individu atau kelompok tertentu," katanya.

"Saya percaya bahwa kebijakan baru yang baik akan mendorong partisipasi masyarakat dan mengurangi kesedihan yang terlihat di jalan raya. Ini adalah momen untuk mengubah arah kebijakan dan membangun kembali harapan," ujarnya.