News
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
News

New Policy: Seminar Nasional di Unpam, Para Pemuka Agama Gaungkan Toleransi hingga Cinta Kemanusiaan

Sandra Thomas ⏱ 3 min read

New Policy: Seminar Nasional di Unpam Menggaungkan Nilai Toleransi dan Cinta Kemanusiaan

New Policy – Kamis (21/5/2026), Universitas Pamulang di Tangerang Selatan menjadi tempat penyelenggaraan seminar nasional keagamaan yang sekaligus menjadi bagian dari new policy dalam mengupayakan harmonisasi antaragama. Seminar ini bertajuk “Harmonisasi Lintas Iman: Reorientasi Nilai-Nilai Religiusitas untuk Menjawab Tantangan Peradaban Modern” dan menghadirkan tokoh agama serta akademisi dari berbagai iman. Hadir dalam acara tersebut adalah dai nasional Habib Isa Al-Kaff, pastor Kristen Pdt. Marcel Saerang, bhante Buddha Dhirapunno, dan Prof. Dr. Yan Mitha Dhaksana dari Unpam. new policy ini bertujuan memperkuat semangat keharmonisan masyarakat di tengah keragaman keyakinan dan budaya.

Pemuka Agama dan Sumber Daya untuk new policy

Dalam pembukaan seminar, Pdt. Marcel Saerang menekankan peran toleransi sebagai pondasi utama dalam new policy yang diusung oleh Unpam. Ia menyoroti pentingnya dialog lintas agama sebagai upaya mengatasi perbedaan dan menjaga perdamaian. “Kita perlu membangun new policy yang berbasis pada cinta, karena toleransi bukan sekadar prinsip, tetapi bentuk kebersamaan yang memperkuat rasa satu bangsa,” tutur dia. Menurutnya, new policy ini juga mencakup pengembangan kurikulum pendidikan agama untuk mengintegrasikan nilai-nilai kemanusiaan ke dalam pendidikan tinggi.

Habib Isa Al-Kaff memberikan penjelasan tentang Islam sebagai agama yang mendorong sikap saling menghargai. Ia mengungkapkan, ayat Al-Qur’an 107 Surah Al-Anbiya menggambarkan Nabi Muhammad SAW sebagai rahmat bagi seluruh alam. “Dengan new policy yang memperkuat rasa empati, kita bisa membangun masyarakat yang lebih inklusif dan solidaritas sosial yang lebih tinggi,” tambahnya. Pandangan ini sejalan dengan tujuan seminar untuk menggaungkan cinta kemanusiaan melalui kerja sama antaragama.

Praktik new policy dalam Kebudayaan dan Pendidikan

Sesi diskusi tentang kebudhaan diisi oleh Bhante Dhirapunno yang menekankan bahwa cinta adalah inti dari toleransi. Ia menjelaskan, dalam ajaran Buddha, manusia diharapkan mampu menerima perbedaan sebagai bagian dari kehidupan. “new policy yang diusung oleh Unpam menjadi contoh nyata bagaimana nilai-nilai keagamaan dapat diadaptasi dalam konteks modern,” ujarnya. Bhante juga menyoroti pentingnya pendidikan agama yang bersifat inklusif dan memperluas wawasan peserta.

Prof. Yan Mitha Dhaksana menambahkan bahwa new policy ini juga menekankan kontribusi agama dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik. Ia mengibaratkan manusia sebagai sungai yang mengalir dan pohon yang tumbuh, menjaga keseimbangan antara keagamaan dan kehidupan bermasyarakat. “Dengan new policy ini, kita bisa memastikan bahwa semua agama diakui dan diperlakukan secara adil dalam ruang publik,” katanya. Seminar ini dianggap sebagai wadah untuk mengeksplorasi kebijakan yang lebih progresif dalam menangani isu keagamaan di era sekarang.

Dalam kesimpulan, seminar nasional di Unpam menjadi wujud nyata new policy yang menekankan harmonisasi lintas agama. Para peserta sepakat bahwa new policy ini tidak hanya mengubah paradigma pendidikan, tetapi juga membangun kehidupan sosial yang lebih toleran. Diskusi yang berlangsung diharapkan menjadi inspirasi untuk penerapan new policy di tingkat lokal dan nasional, agar keberagaman bisa menjadi kekuatan, bukan sumber konflik.

Dampak new policy untuk Masyarakat

Acara ini juga menarik perhatian banyak pemuda dan mahasiswa yang turut serta dalam diskusi. Mereka berharap new policy yang diusung bisa menjadi penggerak perubahan sosial di kalangan masyarakat muda. “Kita perlu mengajarkan toleransi sejak dini, karena generasi muda adalah pilar masa depan bangsa,” kata salah satu peserta. Ia menambahkan bahwa new policy ini memberikan ruang untuk pendekatan agama yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

Para pemuka agama menyambut baik new policy yang menggabungkan ajaran agama dengan nilai kemanusiaan. Mereka menilai, pendekatan ini tidak hanya memperkuat persaudaraan antariman, tetapi juga menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing. Seminar ini menjadi bentuk implementasi new policy yang jauh lebih dari sekadar kebijakan, tetapi sebagai alat perubahan yang berkelanjutan.

Bagikan artikel ini