Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Heboh! 100 Lebih Politisi Demokrat di DPR AS Tolak Bantuan Militer untuk Israel

Published Juli 17, 2026 · Updated Juli 21, 2026 · By Jessica Moore - nusantaranews1.com

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com

New Policy: 100 Politisi Demokrat di DPR AS Tolak Bantuan Militer untuk Israel

Nusantaranews1.com – Terkini menjadi perbincangan hangat di kalangan politisi Amerika Serikat setelah lebih dari seratus anggota DPR dari Partai Demokrat secara resmi menolak usulan bantuan militer bernilai miliaran dolar yang dialokasikan untuk Israel. Meski usulan ini gagal mendapatkan dukungan mayoritas, keputusan mereka menunjukkan perubahan signifikan dalam pendirian politik partai terhadap kebijakan luar negeri, terutama terkait hubungan dengan negara Yahudi tersebut. Pemungutan suara diambil pada Rabu (15/7/2026), dengan hasil 104 suara menolak dan 314 suara mendukung, menandai kemajuan konsensus yang lebih kritis dibanding masa lalu.

Perbedaan Pandangan dalam DPR

Usulan untuk memblokir bantuan militer disampaikan oleh Thomas Massie, anggota DPR dari Partai Republik, sebagai amandemen terhadap New Policy yang sebelumnya telah diperkenalkan. Massie mengecam kebijakan Presiden Donald Trump yang, menurutnya, terlalu pro-Israel dan kurang mengakui masalah konflik di Timur Tengah. Namun, keputusan akhir DPR menunjukkan bahwa kebijakan ini tetap didukung oleh mayoritas anggota Demokrat, meski terdapat kecenderungan untuk mengkritik pengalokasian dana tersebut.

Kebanyakan anggota Partai Demokrat memilih menyetujui bantuan militer, tetapi perpecahan internal terjadi di antara tiga tokoh utama. Hakeem Jeffries, pemimpin minoritas DPR, dan Pete Aguilar, ketua kaukus Demokrat, menolak usulan ini, sementara Katherine Clark, ketua fraksi minoritas, mendukung. Perbedaan ini mencerminkan pergeseran sikap yang terjadi di kalangan anggota DPR, dengan beberapa menginginkan New Policy yang lebih transparan dan berimbang.

Konteks Sejarah dan Tantangan Politik

Bantuan militer ke Israel telah menjadi bagian integral dari kebijakan luar negeri AS selama beberapa dekade, terutama sejak Perang Teluk 1990-an. Namun, New Policy ini memicu perdebatan karena menunjukkan kemungkinan perubahan arah kebijakan yang lebih kuat di kalangan Partai Demokrat. Greg Casar, pemimpin Kaukus Progresif Kongres, mengapresiasi langkah ini sebagai tanda respons politik terhadap kritik terhadap kebijakan Trump, yang selama masa jabatannya menekankan dukungan militer tanpa mempertimbangkan efek sampingnya.

“Pikirkan ini sejenak. Mulai hari ini, mayoritas anggota Demokrat di gedung ini menolak untuk memberi suara untuk mengirim miliaran dolar senjata kepada militer Israel,” ujarnya.

Politisi keturunan Palestina, Ilhan Omar, menganggap keputusan ini sebagai momen penting dalam sejarah. Dalam wawancara terpisah, ia menyatakan bahwa New Policy ini menggambarkan perubahan mendasar dalam pandangan partainya terhadap kebijakan luar negeri, terutama terkait dengan tindakan Israel di wilayah pendudukan. Momen ini juga menimbulkan isu tentang tanggung jawab politik dan peran kongres dalam mengawasi penggunaan dana militer.

Kebijakan ini mendorong para kritikus untuk mengevaluasi dampak jangka panjang dari penolakan bantuan militer. Meski mayoritas Demokrat tetap mendukung, New Policy menimbulkan pertanyaan tentang apakah keputusan ini akan memicu perubahan lebih luas dalam hubungan AS-Israel, atau hanya menjadi isu sementara dalam konteks dinamika politik yang kompleks. Dengan penolakan ini, DPR AS berharap menjadi penjaga keseimbangan antara kebijakan luar negeri dan kepentingan domestik.