Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

New Policy: Dampak Kenaikan Harga Pertamax, Pengusaha Warteg Terpaksa Kecilkan Porsi Lauk

Published Juni 12, 2026 · Updated Juni 12, 2026 · By Sarah Hernandez

Kenaikan Harga Pertamax: Pengusaha Warteg Harus Kecilkan Porsi Lauk

Langkah Adaptasi dalam Era Kebijakan BBM Baru

New Policy - Dalam konteks new policy kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamax dan Pertamax Green 95, pengusaha warung nasi tradisional (warteg) tengah berupaya mengurangi beban operasional dengan berbagai strategi. Mukroni, perwakilan Komunitas dan Koperasi Warteg Nusantara (Kowantara), mengungkapkan bahwa harga BBM yang meningkat telah mengubah cara para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mengatur biaya produksi. Dengan new policy ini, banyak pengelola warteg terpaksa memangkas ukuran lauk dalam porsi makanan agar tetap bisa memberikan harga yang terjangkau bagi konsumen.

Keputusan untuk mengurangi porsi lauk ini bukanlah langkah yang mudah, karena berkaitan langsung dengan kualitas makanan dan daya tarik pelanggan. Namun, Mukroni menegaskan bahwa ini adalah salah satu cara efektif untuk bertahan di tengah tekanan inflasi BBM. Selain itu, pengusaha warteg juga memanfaatkan jaringan koperasi lokal untuk mendapatkan bahan baku dengan harga lebih rendah. Dengan sistem pembelian kolektif, mereka berharap bisa mengurangi biaya distribusi, yang sebelumnya menjadi beban signifikan akibat kenaikan harga bahan baku.

“Dengan new policy kenaikan harga BBM, banyak pengusaha warteg memutuskan untuk menyesuaikan porsi lauk agar tetap bisa menjual menu utama dengan harga kompetitif,” ujar Mukroni.

Dukungan dari Pemerintah untuk UMKM Kuliner

Mukroni menyoroti perlunya dukungan lebih besar dari pemerintah terhadap sektor usaha kecil, terutama di bidang kuliner. Kebijakan khusus seperti peningkatan akses ke dana usaha melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan penerapan program transformasi digital dalam rantai pasok menjadi solusi yang sangat dibutuhkan. Selain itu, perlu adanya langkah konkret untuk menjaga kelangsungan pasokan BBM subsidi, seperti Pertalite dan Biosolar, agar usaha kecil tetap bisa beroperasi tanpa hambatan besar.

New policy terkait BBM harus dilengkapi dengan kebijakan yang memperhatikan kesejahteraan UMKM, terutama para pengusaha kuliner,” tambah Mukroni.

Pengusaha warteg juga mengharapkan pemerintah memberikan perhatian lebih terhadap koperasi-koperasi lokal, yang selama ini menjadi tulang punggung distribusi bahan pokok. Dengan sistem pembelian bersama, koperasi bisa membantu mengurangi biaya produksi, sekaligus mendorong stabilitas harga bahan baku di tingkat konsumen. Mukroni menekankan bahwa kebijakan yang adil dan terencana sangat penting untuk memastikan UMKM tidak kewalahan menghadapi new policy kenaikan harga BBM.

“Kebijakan new policy yang tidak mengakomodasi kebutuhan UMKM bisa berdampak jangka panjang terhadap ekonomi masyarakat,” jelas Mukroni.

Kenaikan harga Pertamax sebesar 5-10% dalam beberapa bulan terakhir telah memicu rencana perubahan harga beberapa produk kuliner. Dari sisi konsumen, banyak pengguna jasa transportasi sehari-hari, seperti taksi online atau pengantar makanan, juga merasakan dampak langsung dari new policy ini. Hal ini berpotensi memengaruhi biaya operasional toko makanan, termasuk pembelian bahan baku dan pengiriman menu ke pelanggan.

Menurut analisis dari para ahli ekonomi, kenaikan harga BBM nonsubsidi telah memicu efek domino pada harga-harga kebutuhan pokok. Selain itu, pengusaha warteg juga sedang mempertimbangkan penggunaan bahan baku alternatif yang lebih murah, meski memerlukan adaptasi terhadap selera konsumen. Mukroni menambahkan bahwa new policy ini sebaiknya diiringi dengan program pendampingan untuk membantu UMKM mengoptimalkan penggunaan sumber daya, seperti bahan baku lokal dan teknologi sederhana untuk efisiensi operasional.

“Kebijakan new policy tidak boleh hanya memikirkan kepentingan industri besar, tetapi juga mengakomodasi kebutuhan usaha kecil yang menjadi pilar perekonomian masyarakat,” tutur Mukroni.

Dalam jangka panjang, kebijakan kenaikan harga BBM membutuhkan keseimbangan antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat. Para pengusaha warteg berharap pemerintah bisa memberikan perluasan akses ke modal yang lebih mudah, serta program peningkatan kapasitas pengusaha melalui pelatihan dan bantuan teknis. Dengan new policy yang lebih inklusif, mereka berharap bisa terus memberikan layanan kuliner yang terjangkau, meski di tengah tantangan harga bahan baku yang terus naik.