Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Mengejutkan! AI Diyakini Bisa Temukan Obat Kanker di Masa Depan

Published September 11, 2026 · Updated September 11, 2026 · By Sarah Smith - nusantaranews1.com

AI Diproyeksikan Membuka Jalan Baru dalam Pencarian Terapi Kanker

Nusantaranews1.com – Perkembangan kecerdasan buatan dinilai berpotensi mengubah cara ilmuwan memahami kanker dan merancang pengobatan baru. Rene Haas, CEO Arm Holdings, menyampaikan keyakinannya bahwa AI pada akhirnya dapat menemukan terapi kanker yang tidak mampu dihasilkan manusia melalui metode penelitian saat ini.

Pandangan tersebut berangkat dari rumitnya proses biologis yang terlibat dalam penyakit kanker. Untuk menghasilkan pengobatan yang lebih tepat, peneliti perlu memahami interaksi sel, jaringan tubuh, hingga perubahan pada penanda DNA. Skala dan keragaman data dalam proses itu sangat besar, sehingga pemodelannya masih menjadi tantangan berat bagi manusia maupun teknologi komputasi yang tersedia sekarang.

“AI akan menemukan obat kanker yang tidak bisa ditemukan oleh Anda, saya, ataupun manusia lainnya semasa hidup kita. Saya yakin, dalam masa hidup kita, AI akan membantu menyembuhkan kanker,” kata Haas dalam siniar Big Boss Interview BBC pada Kamis (10/9/2026).

Tantangan Memetakan Sel dan DNA

Haas menjelaskan bahwa pekerjaan ilmiah untuk membuat gambaran digital tentang sel dan tubuh manusia belum sederhana. Tantangan makin besar ketika model tersebut harus menggambarkan dampak kanker terhadap penanda DNA secara detail. AI membutuhkan data, kemampuan pemrosesan, serta model yang semakin matang untuk mengurai persoalan biologis yang bertingkat-tingkat.

“Membuat model sel, membuat model tubuh manusia, memodelkan bagaimana penanda DNA terdampak oleh kanker, itu adalah masalah yang terlalu rumit, tidak hanya bagi manusia saat ini, tetapi juga bagi komputer yang menjalankan AI,” ucap dia.

Meski begitu, Haas melihat kemampuan itu dapat meningkat seiring pertumbuhan kapasitas komputasi dan bertambahnya model yang dapat dijalankan sistem AI. Dalam gambaran tersebut, komputer tidak menggantikan peran dokter atau peneliti, melainkan membantu mereka menguji kemungkinan biologis dalam jumlah jauh lebih besar daripada yang dapat dianalisis secara manual.

“Namun, ke depannya, seiring kita memasukkan semakin banyak model ke dalam komputer-komputer ini, dan komputer-komputer tersebut menjadi semakin canggih dalam menjalankan model-model itu, masalah tersebut akan terpecahkan,” imbuhnya.

Bagi pasien, nilai utama teknologi semacam ini terletak pada peluang mempercepat tahap awal penemuan obat. Sebelum suatu terapi dapat digunakan secara luas, tetap diperlukan pengujian laboratorium, uji klinis, evaluasi keamanan, dan pengawasan medis yang ketat. AI dapat membantu memilih kandidat yang lebih menjanjikan untuk proses tersebut, tetapi tidak menghapus kebutuhan terhadap pembuktian ilmiah.

Kualitas Data Menjadi Penentu

Profesor Chris Bakal dari Institute of Cancer Research di London, yang juga menjabat CEO Sentinal4D, menekankan bahwa fokus utama AI medis kini tidak semata-mata pada penggunaan teknologinya. Hal yang lebih menentukan adalah kualitas, relevansi, dan ketepatan data yang dipakai untuk melatih sistem.

Laboratorium Bakal menggunakan data yang dikumpulkan dari sampel pasien untuk membangun pelatihan AI. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengembangan sistem kesehatan berbasis AI tidak selalu bergantung pada data umum dari internet atau pusat data berukuran raksasa. Dalam konteks medis, data pengukuran yang benar dapat lebih bernilai daripada sekadar kapasitas komputer yang besar.

“Data tersebut tidak diambil dari internet. Sistem ini tidak memerlukan pusat data raksasa untuk beroperasi. Masa depan AI medis tidak akan ditentukan oleh siapa yang membangun komputer terbesar, melainkan oleh siapa yang memiliki data pengukuran yang tepat,” tutur dia.

Data pasien yang digunakan untuk penelitian tentu memiliki arti penting karena dapat membantu ilmuwan melihat pola yang tidak mudah dikenali dengan cara konvensional. Namun, pemanfaatannya juga menuntut pengelolaan yang cermat, terutama dalam menjaga kualitas sampel, ketelitian pengukuran, serta perlindungan informasi kesehatan.

Bakal menilai AI mampu memangkas waktu yang dibutuhkan untuk mengembangkan pengobatan baru. Penghematan waktu tersebut dapat terjadi ketika sistem membantu memprediksi respons sel, menyaring kemungkinan terapi, atau menyoroti pola yang layak dipelajari lebih lanjut oleh peneliti.

“Prediksi semacam itu dapat memangkas waktu pengembangan pengobatan baru hingga bertahun-tahun. Di sinilah AI memberikan manfaat nyata bagi pasien,” kata Bakal.

Humanoid dan Kebutuhan Cip

Selain sektor kesehatan, Haas memperkirakan robot humanoid akan digunakan lebih luas dalam lima tahun mendatang. Perkembangan robot yang mampu berinteraksi dengan lingkungan manusia membutuhkan kecerdasan buatan yang semakin cepat dan perangkat keras yang memadai untuk memproses data.

Namun, kebutuhan cip untuk membangun pusat data masih menjadi salah satu hambatan bagi laju pengembangan teknologi tersebut. Haas juga meragukan bahwa produksi cip akan dapat dilakukan di Inggris pada masa depan, meskipun Arm Holdings berbasis di Cambridge, Inggris.

Arm dikenal sebagai perancang CPU, yaitu komponen yang berperan sebagai otak mikrocip. Rancangannya telah dipakai pada ratusan miliar perangkat di berbagai belahan dunia, termasuk telepon seluler, kendaraan, jam tangan pintar, dan perangkat elektronik lain.

Lonjakan nilai saham Arm pada awal musim panas, di tengah pesatnya pertumbuhan sektor AI, menjadikan perusahaan itu sebagai perusahaan berbasis Inggris dengan nilai pasar terbesar dalam sejarah. Haas juga memiliki keterkaitan penting dengan SoftBank dari Jepang, pemilik utama Arm yang memiliki investasi teknologi, termasuk OpenAI. Ia mengundurkan diri dari jajaran direksi perusahaan farmasi Inggris AstraZeneca pada April lalu.

Perkembangan ini memperlihatkan bahwa masa depan AI tidak hanya berkaitan dengan chatbot atau otomatisasi pekerjaan rutin. Dalam bidang kesehatan, teknologi tersebut berpotensi menjadi alat ilmiah untuk mempercepat pemahaman penyakit yang sangat kompleks. Keberhasilannya tetap akan bergantung pada data yang tepat, penelitian yang teliti, infrastruktur komputasi, serta keterlibatan para ahli medis dalam setiap tahap pengembangannya.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Mengejutkan AI Diyakini Bisa Temukan Obat?

Mengejutkan AI Diyakini Bisa Temukan Obat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Mengejutkan AI Diyakini Bisa Temukan Obat matter?

Mengejutkan AI Diyakini Bisa Temukan Obat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.