Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Makin Lesu! Rupiah Pagi Ini Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS

Published Mei 28, 2026 · Updated Mei 28, 2026 · By William Garcia

Makin Lesu! Rupiah Pagi Ini Nyaris Sentuh Rp17.900 per Dolar AS

Makin Lesu Rupiah Pagi Ini Nyaris – Mata uang Rupiah kembali mengalami tekanan signifikan pada awal pekan ini, dengan nilai tukar tercatat nyaris menyentuh level Rp17.900 per dolar AS. Pada pembukaan sesi perdagangan Kamis (28/5/2026), rupiah melambungkan rekor penurunan terbesarnya sepanjang masa, berada di angka Rp17.857 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,31 persen dibandingkan penutupan sesi sebelumnya yang tercatat di Rp17.801 per dolar AS. Pergerakan rupiah yang terus melemah ini mencerminkan ketidakstabilan pasar keuangan dan tekanan dari faktor eksternal yang memengaruhi dinamika pertukaran mata uang.

Penurunan Rupiah Terus Menggema di Pasar Global

Pergerakan rupiah yang terkikis akhir-akhir ini bukan hanya terjadi di Indonesia, melainkan juga mencerminkan tren melemahnya mata uang Asia secara keseluruhan. Pada hari yang sama, sejumlah mata uang seperti Won Korea Selatan, Ringgit Malaysia, Baht Thailand, dan Peso Filipina juga mengalami pelemahan. Won Korea Selatan menjadi yang terparah dengan penurunan 0,49 persen, sementara Ringgit Malaysia mengalami pelemahan 0,24 persen. Baht Thailand menyusut 0,23 persen, dan Peso Filipina terpangkas 0,17 persen. Bahkan Yen Jepang serta Yuan China juga tidak terlepas dari tekanan, dengan koreksi tipis sebesar 0,05 persen. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan terhadap rupiah tidak bersifat isolasi, melainkan bagian dari dinamika global yang lebih luas.

Kenaikan indeks Dolar AS (DXY) menjadi salah satu faktor utama yang memperparah penurunan nilai rupiah. Indeks DXY mencapai 99,34 pada hari itu, naik dari posisi sebelumnya di 99,20. Dominasi dolar AS dalam pasar internasional terus berlanjut, dengan berbagai alasan seperti kebijakan moneter ketat yang diterapkan oleh Bank Sentral Amerika Serikat (Fed) dan kinerja ekonomi AS yang lebih kuat dibandingkan negara-negara lain. Kondisi ini memaksa rupiah terus bergerak turun, bahkan di level yang hampir mendekati Rp17.900 per dolar AS. Analis pasar menyebutkan bahwa pergerakan ini menunjukkan kecemasan investor terhadap risiko inflasi dan kenaikan suku bunga di masa depan.

Faktor Penyebab Penurunan Rupiah

Makin Lesu Rupiah Pagi Ini Nyaris bukan hanya hasil dari fluktuasi pasar, melainkan juga dipengaruhi oleh berbagai faktor ekonomi domestik dan global. Di sisi dalam negeri, defisit neraca perdagangan yang terus meningkat menjadi salah satu penyebab utama. Impor yang melebihi ekspor menyebabkan permintaan terhadap dolar AS meningkat, sementara penawaran rupiah berkurang. Selain itu, tekanan inflasi yang memburuk di tengah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dan kebijakan pemerintah yang belum mampu menekan inflasi secara efektif, membuat investor lebih memilih aset yang dianggap lebih stabil, seperti dolar AS.

Kebijakan moneter yang konservatif dari Bank Indonesia (BI) juga berkontribusi pada situasi ini. Meski BI telah menaikkan suku bunga beberapa kali untuk menekan inflasi, kebijakan tersebut belum cukup mengurangi tekanan terhadap rupiah. Di sisi global, kebijakan The Fed yang memperketat kebijakan moneter berdampak signifikan, terutama setelah pengumuman kenaikan suku bunga yang memperkuat daya beli dolar AS. Selain itu, kekhawatiran tentang krisis ekonomi di beberapa negara maju, seperti Eropa, juga memengaruhi permintaan terhadap dolar AS sebagai mata uang safe haven.

Analisis dan Prediksi Masa Depan

Pasar keuangan global menunjukkan bahwa penurunan rupiah akan terus berlangsung hingga kondisi ekonomi domestik dan internasional stabil. Analis menyatakan bahwa kecuali ada peningkatan performa ekspor yang signifikan atau kenaikan suku bunga yang lebih besar di Indonesia, rupiah diperkirakan akan terus mengalami tekanan. Selain itu, faktor politik seperti kebijakan pemerintah dan stabilitas politik juga berperan dalam memengaruhi dinamika nilai tukar rupiah.

Kondisi ini menimbulkan perhatian terhadap kebijakan fiskal pemerintah. Pengeluaran pemerintah yang terus meningkat, seperti subsidi BBM dan pembangunan infrastruktur, berpotensi memperburuk defisit neraca pembayaran. Jika tidak ada kebijakan pengendalian yang tepat, tekanan terhadap rupiah akan semakin besar. Namun, ada harapan bahwa peningkatan investasi asing dan peningkatan kepercayaan pasar dapat membantu memperkuat rupiah dalam jangka pendek. Sejumlah ahli ekonom memperkirakan bahwa rupiah mungkin akan kembali menguat jika kebijakan moneter dan fiskal dapat seimbang, serta ekonomi global tidak terus mengalami krisis.

Pasar keuangan Indonesia secara umum terus terpantau dengan ketat, terutama karena kemungkinan terjadinya penurunan lebih lanjut jika berbagai faktor negatif tidak segera diperbaiki. Investor lokal dan asing mulai mencari alternatif investasi yang lebih menjanjikan, seperti aset berisiko yang dapat memberikan imbal hasil lebih tinggi. Namun, dalam kondisi krisis ekonomi, dolar AS tetap menjadi pilihan utama, sehingga rupiah terus mengalami tekanan. Untuk mengatasi ini, perlu ada langkah-langkah strategis dari pemerintah dan Bank Indonesia, seperti peningkatan daya saing ekspor, pengendalian inflasi, dan kebijakan moneter yang lebih tepat sasaran.