News
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
News

Main Agenda: Komite Eksekutif Otsus soal Film Pesta Babi: Kritik untuk Pembangunan Papua

Jessica Moore ⏱ 2 min read

Main Agenda: Kritik Film Pesta Babi dalam Evaluasi Otsus Papua

Main Agenda – Komite Eksekutif Otonomi Khusus (Otsus) Papua menyoroti film dokumenter “Pesta Babi” sebagai bagian dari evaluasi terhadap proses pembangunan di wilayah tersebut. Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa film ini dianggap sebagai sarana kritis untuk mempercepat peningkatan kualitas hidup masyarakat Papua, tetapi tidak mengurangi komitmen terhadap pendekatan lokal yang berorientasi pada budaya dan nilai-nilai sosial.

Penekanan pada Pendekatan Budaya dalam Proses Otsus

“Film tersebut memberikan perspektif baru yang bisa membantu pemerintah dalam melihat tantangan dan peluang pembangunan Papua,” kata Velix Wanggai, Ketua Komite Eksekutif Otsus Papua.

Velix Wanggai menambahkan bahwa meskipun ada kritik yang muncul, Otsus tetap menjadi prioritas dalam perencanaan pembangunan. Ia menekankan bahwa semua upaya percepatan pembangunan harus didasarkan pada kearifan lokal dan kebutuhan masyarakat setempat. “Main Agenda kita adalah memastikan proyek pembangunan tidak hanya berfokus pada infrastruktur, tetapi juga pada keadilan dan partisipasi aktif masyarakat Papua,” jelasnya.

Peristiwa Pemutaran Film dan Peran TNI

Pemutaran film “Pesta Babi” di Gedung Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Khairun Ternate, Selasa 12 Mei 2026, sempat menjadi perdebatan. Aparat TNI menghentikan acara tersebut setelah menyatakan adanya potensi konflik yang bisa terjadi jika film itu diputar tanpa pengawasan. Aksi ini menimbulkan reaksi dari beberapa elemen masyarakat yang menganggap TNI terlalu reaktif dalam menghadapi kritik terhadap kebijakan pembangunan.

Sejumlah anggota TNI yang hadir menyatakan bahwa film itu dianggap membahayakan stabilitas nasional. Namun, pihak Komite Eksekutif Otsus Papua menegaskan bahwa kritik seperti itu sebenarnya bisa menjadi bagian dari diskursus yang sehat. “Main Agenda kita adalah mendorong dialog terbuka, bukan menghentikan kritik yang konstruktif,” tambah Velix Wanggai.

Peristiwa pemutaran film ini juga mengingatkan kembali peran Otsus dalam mempercepat kemandirian Papua. Dalam konteks ini, kritik terhadap kebijakan pemerintah dianggap penting untuk memperbaiki sistem yang ada. Komite Eksekutif berharap film bisa menjadi bahan evaluasi yang memberikan gambaran nyata tentang dinamika sosial dan ekonomi di Papua.

Sebagai langkah lanjutan, Komite Eksekutif Otsus Papua menyarankan pembuatan laporan evaluasi yang lebih terperinci. Laporan ini akan mencakup analisis terhadap isu-isu yang muncul dari film, termasuk keterlibatan TNI dalam pengawasan pembangunan. “Main Agenda kita bukan hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga memastikan bahwa semua proyek tersebut sesuai dengan harapan masyarakat Papua,” tutur Velix Wanggai.

Bagikan artikel ini