News
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
News

Key Discussion: Cadangan Devisa RI Capai 146,2 Miliar Dolar AS, BI Sebut Lampaui Standar IMF

Mary Jones ⏱ 3 min read

Cadangan Devisa RI Capai 146,2 Miliar Dolar AS, BI Sebut Lampaui Standar IMF

Key Discussion – Bank Indonesia (BI) kembali menegaskan kekuatan cadangan devisa Indonesia yang mencapai 146,2 miliar dolar AS per akhir April 2026. Angka ini disampaikan dalam rilis resmi BI, Selasa (19/5/2026), sebagai bagian dari Key Discussion tentang kestabilan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Pernyataan ini menunjukkan bahwa nilai tukar Rupiah tetap didukung oleh cadangan devisa yang mencerminkan keberhasilan kebijakan moneter dalam menjaga ketahanan eksternal.

Stabilitas Eksternal dan Standar IMF

“Kondisi cadangan devisa Indonesia pada akhir April 2026 mencapai 146,2 miliar dolar AS. Level ini menunjukkan ketahanan eksternal yang kuat dan memadai, dengan rasio 114% terhadap standar kecukupan yang ditetapkan oleh IMF,” ujar Ramdan Denny Prakoso, Kepala Departemen Komunikasi BI.

Standar IMF menetapkan rasio cadangan devisa minimal sebesar 100% terhadap total impor negara tersebut. Dengan rasio 114%, Indonesia dinilai memenuhi syarat kecukupan devisa untuk menutupi kebutuhan impor selama satu tahun. BI mengklaim angka ini tidak hanya menggarisbawahi keberhasilan manajemen devisa, tetapi juga menunjukkan kepercayaan pasar terhadap kebijakan ekonomi pemerintah. Key Discussion dalam laporan BI juga menyebutkan bahwa rasio ini menjadi patokan penting dalam mengukur daya tahan perekonomian terhadap fluktuasi pasar internasional.

Faktor-Faktor yang Mendukung Kestabilan Devisa

Kenaikan cadangan devisa tersebut didorong oleh beberapa faktor, termasuk peningkatan nilai ekspor dan aliran investasi asing ke Indonesia. Dalam Key Discussion terkini, BI menyatakan bahwa pertumbuhan ekonomi yang positif di kuartal pertama 2026, yaitu sebesar 5,61 persen, turut berkontribusi pada keberlanjutan cadangan devisa. Selain itu, BI juga menjaga likuiditas sistem keuangan melalui program bantuan likuiditas (PLN) yang menarik dana dari luar negeri.

“Kebijakan BI dalam mengelola cadangan devisa tetap terukur untuk mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah, menjaga kepercayaan pasar, serta memperkuat ketahanan eksternal perekonomian Indonesia di tengah tingginya ketidakpastian global,” tambah Ramdan Denny Prakoso.

BI juga menyoroti peran cadangan devisa dalam memastikan ketersediaan sumber daya untuk memenuhi kebutuhan pemerintah dan sektor swasta. Pada tahun 2026, Indonesia terus menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas moneter. Key Discussion dalam laporan BI menekankan bahwa kondisi devisa yang baik menjadi penunjang utama untuk menjaga inflasi di bawah target serta menjaga daya beli masyarakat.

Kritik dari DPR RI

Selama rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI, para anggota parlemen menyoroti kinerja Rupiah yang mengalami tekanan hingga mencapai Rp17.600 per dolar AS. Meskipun demikian, mereka mengakui bahwa Key Discussion tentang cadangan devisa telah membantu memperkuat kepercayaan publik terhadap kemampuan BI dalam menjaga stabilitas makroekonomi.

“Meskipun Rupiah mengalami tekanan, cadangan devisa yang mencapai 146,2 miliar dolar AS tetap menjadi aset penting untuk mengantisipasi risiko eksternal dan menjaga kepercayaan pasar,” kata anggota DPR yang hadir dalam rapat tersebut.

DPR RI juga menekankan pentingnya Key Discussion tentang kebijakan devisa dan kurs Rupiah dalam menjawab tantangan yang dihadapi perekonomian. Anggota parlemen menyampaikan bahwa pemerintah dan BI perlu terus berkoordinasi untuk mengoptimalkan penggunaan cadangan devisa dan memastikan pertumbuhan ekonomi tetap berkelanjutan. Hal ini terkait erat dengan upaya memperkuat daya saing ekspor dan menarik investasi langsung dari luar negeri.

Dalam Key Discussion terkini, BI menyatakan bahwa pengelolaan cadangan devisa tidak hanya bersifat defensif, tetapi juga proaktif. Mereka menegaskan bahwa cadangan devisa yang mencapai 146,2 miliar dolar AS membantu memperkuat kepercayaan investor dan masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan stabilitas makroekonomi. Kebijakan ini juga menjadi dasar bagi BI dalam menentukan kebijakan kebijakan moneter di masa mendatang.

Bagikan artikel ini