Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Soeharto Jelang Hari Bhayangkara

Published Juni 20, 2026 · Updated Juni 20, 2026 · By Patricia Rodriguez

Kapolri Ziarah ke Makam Soeharto Sebelum Perayaan Hari Bhayangkara ke-80

Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di Makam - Sebagai bagian dari rangkaian perayaan Hari Bhayangkara ke-80, Kapolri Listyo Sigit Prabowo melakukan ziarah dan tabur bunga di makam mantan Presiden Soeharto di Karanganyar, Jawa Tengah, pada Sabtu (20/6/2026). Kegiatan ini diadakan untuk mengenang perjuangan dan kontribusi Soeharto terhadap pembentukan institusi kepolisian. Sebelumnya, Kapolri juga telah mengunjungi makam Presiden pertama Soekarno dan Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai bagian dari tradisi ziarah tahunan Polri yang berlangsung menjelang 1 Juli. Fokus utama kegiatan ini adalah untuk menyerap nilai-nilai kepemimpinan dari tokoh-tokoh nasional yang telah berjasa bagi bangsa Indonesia, termasuk Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga sebagai bentuk penghormatan serta pengingat akan peran mereka dalam sejarah kepolisian.

Perayaan Hari Bhayangkara ke-80: Tahun yang Spesial

Hari Bhayangkara ke-80 yang dirayakan pada 1 Juli 2026 merupakan momen penting bagi kepolisian Indonesia. Kegiatan ziarah ke makam-makam tokoh nasional, termasuk Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di Karanganyar, menjadi bagian dari persiapan perayaan tersebut. Kapolri menekankan bahwa tradisi ini tidak hanya sekadar ritual, tetapi juga upaya untuk menginspirasi para anggota Polri dengan semangat kepemimpinan dan dedikasi yang diwujudkan oleh para pendahulu. Ziarah ini dilakukan sebagai bentuk penghormatan dan pengakuan terhadap peran Soeharto dalam menegakkan hukum dan menjaga keamanan selama masa pemerintahannya. Dengan kegiatan ini, Polri diharapkan dapat memperkuat komitmen untuk menjaga konsistensi nilai-nilai keadilan dan kesatuan yang telah dipegang sejak awal.

Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga: Momentum Pembelajaran dan Rekonsiliasi

Kunjungan Kapolri ke makam Soeharto berlangsung di bawah langit yang cerah, diiringi oleh rombongan kehormatan dan doa-doa yang tulus. Dalam upacara tabur bunga, ia menekankan bahwa proses ini mengandung makna mendalam, yakni mengenang perjuangan dan kontribusi Soeharto dalam membangun institusi kepolisian. "Melalui ziarah dan tabur bunga ini, kami mencoba memahami bagaimana tugas-tugas kepolisian dapat dijalankan secara lebih baik," tutur Kapolri setelah selesai. Kegiatan ini dianggap sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, sekaligus pengingat bahwa setiap era memiliki tantangan dan pelajaran yang berbeda. Dengan mengenang peran Soeharto, Polri diharapkan dapat memperoleh semangat baru untuk menghadapi dinamika era digital dan kebutuhan keamanan yang semakin kompleks.

Sebelum sampai di Karanganyar, Kapolri telah melakukan ziarah ke makam Soekarno di Jakarta dan Gus Dur di Jatim. Masing-masing kunjungan diiringi oleh penjelasan tentang peran tokoh tersebut dalam membentuk identitas nasional dan lembaga-lembaga penting seperti Polri. Soeharto, sebagai mantan presiden yang berperan dalam pembentukan polisi modern, dianggap sebagai simbol dari kekuatan dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi keamanan. Dengan mengunjungi tempat kepergiannya, Kapolri memperkuat hubungan antara Polri dan masyarakat, sekaligus membangkitkan semangat pengabdian yang selama ini menjadi nilai inti.

Pelajaran dari Riwayat Soeharto

Keputusan Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di makam Soeharto juga berusaha menyampaikan pesan bahwa sejarah adalah sumber inspirasi untuk kehidupan sekarang. Soeharto dikenang sebagai seorang pemimpin yang membangun konsistensi dalam menjalankan tugas, meskipun ada berbagai kontroversi yang terjadi. Kapolri menekankan bahwa nilai-nilai perjuangan Soeharto tetap relevan dalam konteks kepolisian modern. "Dari perjalanan Soeharto, kami belajar bahwa kepolisian harus mampu menjalankan tugas dengan tulus dan tanggung jawab, terlepas dari masa lalu," kata Kapolri dalam wawancara setelah kegiatan. Kegiatan ini menjadi momen untuk mengevaluasi kembali tujuan dan visi Polri, sekaligus menanamkan semangat kebersamaan dan keharmonisan dalam menjaga keamanan nasional.

Dalam konteks sosial, kegiatan Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Soeharto juga diharapkan menjadi ajang rekonsiliasi antara generasi muda dan tokoh lama. Soeharto, sebagai salah satu tokoh yang secara langsung membentuk institusi kepolisian, dikenang sebagai simbol dari peran kepolisian dalam menjaga stabilitas bangsa. Kapolri menuturkan bahwa nilai-nilai yang diwariskan oleh Soeharto, seperti kedisiplinan dan kemampuan beradaptasi, tetap relevan di masa kini. "Kegiatan ini adalah bentuk penghormatan sekaligus pembelajaran, karena kepolisian harus terus belajar dari sejarah untuk menjalankan tugas dengan lebih baik," tambahnya. Dengan menggabungkan tradisi dan inovasi, Polri berharap dapat menjaga harmoni antar generasi serta mengenang peran para pendahulu dalam membangun bangsa Indonesia.

Dalam rangkaian ziarah ini, Kapolri juga menekankan pentingnya memperkuat hubungan dengan masyarakat. Ia mengatakan bahwa perayaan Hari Bhayangkara ke-80 adalah kesempatan untuk menegaskan kembali komitmen Polri dalam menjalankan tugas dengan transparan dan profesional. "Kapolri Ziarah dan Tabur Bunga di Makam Soeharto bukan hanya upacara simbolis, tetapi juga bentuk komunikasi dengan masyarakat tentang visi dan misi kepolisian saat ini," ujarnya. Kegiatan ini dipandang sebagai langkah strategis untuk membangun kredibilitas Polri sebagai institusi yang mampu menjalankan peran secara utuh, baik dalam menghadapi masalah sosial maupun politik.