Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Important News: Brutal! Serangan Israel Rusak Gereja dan Sekolah Kristen di Lebanon

Published Mei 30, 2026 · Updated Mei 30, 2026 · By Sarah Smith

Important News: Israel Serang Gereja dan Sekolah Kristen di Lebanon

Important News – Jumat (29/5/2026), serangan Israel yang berdarah mengguncang Lebanon, dengan kerusakan parah terjadi di dua lokasi penting: Gereja Ortodoks Yunani Santo George dan Sekolah Kristen Suster-Hati Kudus. Laporan terbaru dari Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) mengungkapkan bahwa serangan ini menunjukkan intensitas konflik yang terus memanas.

Detik-Detik Serangan di Gereja Santo George

Menurut NNA, rudal yang dilepaskan dari arah Israel menghantam Gereja Ortodoks Yunani Santo George di Jdeidet Marjeyoun, Nabatieh. Bangunan ibadah yang menjadi pusat spiritual komunitas Kristen lokal mengalami kerusakan signifikan, dengan atap terluka dan sebagian dinding retak. Kejadian ini memicu kekhawatiran terhadap perlindungan tempat ibadah di tengah perang gerilya yang berlangsung sejak beberapa bulan lalu.

Kerusakan di gereja tersebut tidak hanya merugikan secara fisik, tetapi juga menimbulkan trauma psikologis bagi para jemaat. Pemimpin gereja lokal, Pastor Youssef Abou Zeid, mengatakan bahwa tempat ibadah ini telah menjadi saksi bisu kekerasan yang terus-menerus menghiasi kawasan tersebut. "Setiap serangan seperti ini mengingatkan kita betapa rentannya komunitas Kristen di Lebanon," ujarnya.

Ekspansi Serangan ke Sekolah Kristen

Di sisi lain, Sekolah Kristen Suster-Hati Kudus di wilayah yang sama juga menjadi target serangan. Meski tidak terjadi korban jiwa, sebagian bangunan sekolah rusak, termasuk ruang kelas dan fasilitas pendukung. Ini menunjukkan upaya Israel untuk menghancurkan infrastruktur pendidikan yang dianggap sebagai benteng kebudayaan dan identitas komunitas Kristen.

Important News menyebutkan bahwa serangan ini terjadi dalam konteks pertarungan sengit antara pasukan Israel dan kelompok Hizbullah. Peningkatan eskalasi terjadi setelah perpanjangan gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump pada 17 April, yang hanya berlangsung selama 45 hari. Dengan berakhirnya masa gencatan senjata tersebut, Israel kembali melakukan operasi militer yang mengarah pada serangan-serangan berulang.

Konteks Politik dan Peningkatan Tensi

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan militer untuk memperkuat operasi di Lebanon pada 25 Mei, yang memperbesar ketegangan antara Israel dan Hizbullah. Meski gencatan senjata diumumkan, pihak Israel masih melanjutkan serangan udara dan artileri untuk menekan gerakan perlawanan tersebut.

Menurut analis keamanan dari Universitas Amman, serangan terhadap gereja dan sekolah menggambarkan strategi Israel untuk menargetkan simbol-simbol kekuatan politik dan budaya milik kelompok Kristen. "Ini bukan hanya serangan militer, tapi juga upaya untuk mengubah persepsi kekuasaan di Lebanon," jelas pakar tersebut.

Respons Hizbullah dan Dampak Sosial

Kelompok Hizbullah, yang telah lama menjadi pihak utama dalam konflik dengan Israel, mengecam serangan tersebut. Mereka menegaskan komitmen untuk melindungi wilayah yang dikuasai dan mengancam akan membalas serangan dengan operasi yang lebih keras. "Kami akan melindungi semua tempat yang menjadi simbol perjuangan kita," tegas pernyataan dari komandan Hizbullah.

Di sisi komunitas Kristen, kejadian ini memicu protes dan kekhawatiran akan keamanan. Banyak penduduk setempat mengungkapkan bahwa mereka merasa terancam dan kehilangan harapan. "Setiap hari, kita mesti waspada. Gereja dan sekolah adalah tempat yang aman, tapi kini mereka menjadi sasaran utama," keluh seorang warga Lebanon.

Important News menekankan bahwa kejadian ini menjadi bagian dari perang gerilya yang terus berlangsung, dengan Israel dan Hizbullah saling menyerang. Meski terjadi kerusakan signifikan, pelaku serangan tetap mengklaim bahwa tindakan mereka bertujuan melindungi wilayah Israel dari ancaman gerakan perlawanan. Dengan peristiwa ini, dunia internasional kembali memantau ketegangan di kawasan Timur Tengah dengan lebih intens.