Historic Moment: Dasco Apresiasi Terobosan Baru BI Perkuat Rupiah, Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Dasco Puji BI Soal Kebijakan Perkuat Rupiah dan Kurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Historic Moment - Sebuah Historic Moment terjadi dalam perjalanan kebijakan moneter Indonesia, seiring dukungan Wapres Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad terhadap inisiatif Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat rupiah. Langkah ini dianggap sebagai terobosan strategis dalam mengurangi ketergantungan ekonomi pada dolar Amerika Serikat (AS), yang sebelumnya menjadi alat tukar utama dalam transaksi internasional. Dalam pertemuan di Shanghai, Gubernur BI Perry Warjiyo dan Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng meneken kesepakatan bilateral currency swap arrangement (BCSA), yang dinilai Dasco sebagai langkah penting dalam menegaskan posisi rupiah di panggung global.
Langkah Strategis dalam Membangun Kemitraan Ekonomi
Kebijakan BCSA ini tidak hanya menguntungkan perdagangan bilateral antara Indonesia dan Tiongkok, tetapi juga membuka peluang ekspansi kerja sama dengan Hong Kong. Dengan adanya mekanisme transaksi menggunakan rupiah dan renminbi, ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan transnasional diharapkan berkurang signifikan. Dasco menyebutkan bahwa sistem ini memungkinkan transaksi lebih efisien dan lebih aman, karena mengurangi risiko fluktuasi nilai tukar dolar AS yang sering terjadi dalam pasar internasional. "Ini adalah Historic Moment yang menunjukkan komitmen kuat untuk membangun ekosistem keuangan yang lebih mandiri," ujarnya.
"Kemitraan ini telah melibatkan lebih dari 200 penyedia layanan keuangan di Tiongkok dan 30 di Indonesia, yang semuanya terintegrasi dalam satu sistem," imbuh Dasco.
Impact on Transaksi Ekspor-Impor dan Sistem QRIS Lintas Batas
Dalam pertemuan yang sama, BI dan PBOC meneken Memorandum of Understanding (MoU) dengan Hong Kong Monetary Authority (HKMA) untuk mengembangkan transaksi ekspor-impor antara Indonesia dan Tiongkok. Eddie Yue, Chief Executive HKMA, turut menandatangani dokumen tersebut, menegaskan bahwa kolaborasi ini akan mendorong pertumbuhan ekonomi regional. Selain itu, penandatanganan QRIS lintas batas antara kedua negara menjadi bagian dari kesepakatan tersebut. QRIS, atau Quick Response Code Indonesian Standard, akan memudahkan pembayaran digital lintas negara, sehingga meningkatkan efisiensi dan kepercayaan dalam transaksi ekonomi.
Dasco menjelaskan bahwa transaksi ekspor-impor Indonesia dengan Tiongkok mencapai 154,5 miliar dolar AS pada tahun 2025. Dengan adanya LCT (Local Currency Transaction), kedua negara bisa menjalankan pertukaran valuta asing tanpa perlu melibatkan dolar AS sebagai alat tukar. "Ini adalah Historic Moment yang memperkuat kemampuan negara-negara berkembang untuk mengelola kebijakan moneter secara independen," tambahnya.
Peran BI dalam Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Dasco menekankan bahwa Bank Indonesia memiliki peran penting dalam menciptakan sistem keuangan yang lebih stabil dan mandiri. Ia menyoroti kebijakan BI dalam mendorong penggunaan mata uang lokal sebagai alat tukar utama, yang selaras dengan Historic Moment kemitraan ekonomi Indonesia-China. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan bahwa BCSA akan memperkuat kemampuan BI untuk mengatur nilai tukar rupiah secara dinamis, sekaligus memberikan solusi bagi kebutuhan transaksi internasional yang lebih luas.
Dengan peluncuran BCSA, BI menciptakan alternatif transaksi yang lebih efektif, terutama dalam era globalisasi yang terus berkembang. Dasco mengungkapkan bahwa kebijakan ini juga akan memberikan peluang bagi perusahaan-perusahaan lokal untuk memperluas jaringan perdagangan, karena bisa menghindari risiko ekonomi yang terkait dengan volatilitas dolar AS. "Kita bisa membangun ekosistem keuangan yang lebih seimbang, dan itu adalah Historic Moment dalam sejarah ekonomi Indonesia," pungkasnya.
Langkah-Langkah untuk Memperkuat Rupiah di Pasar Global
Kebijakan BCSA dan QRIS lintas negara diharapkan mampu meningkatkan daya saing rupiah di pasar global. Dasco menjelaskan bahwa langkah ini juga menguntungkan bagi perekonomian Indonesia, karena mengurangi ketergantungan pada dolar AS yang sering mengalami fluktuasi tajam. "Dengan adanya BCSA, rupiah bisa menjadi mata uang utama dalam transaksi dengan negara-negara tetangga, termasuk Tiongkok dan Hong Kong," tambahnya.
BI telah mengambil langkah-langkah strategis untuk memperkuat rupiah, termasuk mengatur suku bunga, memperketat kebijakan moneter, dan meningkatkan keterlibatan dalam kerja sama regional. Dasco menilai bahwa Historic Moment ini adalah langkah awal dari perubahan besar dalam struktur ekonomi Indonesia, yang akan memperkuat kemandirian keuangan dan menegaskan peran rupiah sebagai alat tukar utama di kawasan Asia Tenggara.
Kemitraan Ekonomi dan Masa Depan Indonesia
Terobosan ini tidak hanya berdampak pada perdagangan, tetapi juga membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan hubungan ekonomi yang lebih kuat dengan Tiongkok dan Hong Kong. Dasco mengatakan bahwa dengan adanya sistem transaksi lintas batas, keberlanjutan ekonomi Indonesia akan lebih terjamin. "Ini adalah Historic Moment yang menunjukkan kemampuan Indonesia untuk berkiprah di tingkat internasional," ujarnya.