Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Deretan Miliarder Baru Lahir dari IPO Tahun Ini, Siapa Saja?

Published Oktober 5, 2026 · Updated Oktober 5, 2026 · By Michael Jones - nusantaranews1.com

Foto : Michael Jones - nusantaranews1.com

Gelombang IPO 2026 Mengangkat Nama Baru ke Daftar Miliarder

Nusantaranews1.com – Pasar penawaran umum perdana saham sepanjang 2026 tidak hanya menghadirkan transaksi bernilai besar, tetapi juga melahirkan sejumlah miliarder baru dari sektor teknologi. Kecerdasan buatan, robotika, semikonduktor, komputasi kuantum, hingga industri antariksa menjadi bidang yang paling menonjol dalam gelombang pencatatan saham tahun ini.

Hingga 30 September 2026, kekayaan para tokoh yang masuk jajaran miliarder melalui momentum IPO tersebut berada pada kisaran 1,4 miliar dolar AS hingga 10,2 miliar dolar AS. Dengan kurs Rp17.891 per dolar AS, rentangnya setara sekitar Rp25,04 triliun sampai Rp182,48 triliun.

Aktivitas IPO global juga menguat. EY mencatat dana yang terkumpul dari IPO di berbagai negara pada semester pertama 2026 mencapai 186,8 miliar dolar AS, lebih dari tiga kali lipat dibandingkan periode pembanding. Jumlah emiten baru justru turun 12 persen menjadi 483 perusahaan, yang menunjukkan bahwa kenaikan nilai penghimpunan dana banyak ditopang transaksi berukuran besar. Antusiasme investor terhadap AI dan infrastruktur pendukungnya menjadi salah satu penggerak utama.

Liu Debing dari Z.ai

Liu Debing, 50 tahun, menjadi salah satu nama dengan kekayaan terbesar dari kelompok miliarder baru tersebut. Ia adalah ketua dan salah satu pendiri Z.ai, pengembang model AI asal China yang didirikan pada 2019 bersama Zhang Peng.

Perusahaan ini mencatatkan saham di Bursa Hong Kong pada Januari 2026 dan menghimpun 560 juta dolar AS, atau sekitar Rp10,02 triliun. Kekayaan Liu diperkirakan mencapai 10,2 miliar dolar AS per 30 September 2026, setara sekitar Rp182,48 triliun.

Z.ai sebelumnya memakai nama Knowledge Atlas Technology sebelum melakukan perubahan identitas pada Juli 2026. Sejumlah investor awalnya mencakup Alibaba, Tencent, Hillhouse, Qiming Venture Partners, serta beberapa dana pemerintah China.

Wang Xingxing dan Unitree Robotics

Di bidang robotika, Wang Xingxing muncul sebagai miliarder setelah Unitree Robotics melantai pada Agustus 2026. Pendiri sekaligus CEO berusia 36 tahun itu memimpin perusahaan asal Hangzhou yang memproduksi robot berkaki empat dan robot humanoid.

IPO Unitree mengumpulkan 905 juta dolar AS atau sekitar Rp16,19 triliun. Pencatatan itu juga menempatkan Unitree sebagai produsen robot humanoid pertama dari China yang masuk bursa saham.

Skala bisnis perusahaan terlihat dari pertumbuhan pengiriman produknya. Sepanjang 2025, Unitree mengirimkan 5.511 robot humanoid, lebih dari 10 kali lipat dibandingkan jumlah pengiriman pada 2024. Perkembangan tersebut mencerminkan meningkatnya perhatian pasar terhadap penggunaan robot dalam berbagai kebutuhan industri dan teknologi.

Luke Nosek dari Ekosistem SpaceX

Luke Nosek telah lama dikenal di dunia teknologi dan investasi. Pria 51 tahun ini ikut mendirikan PayPal, Founders Fund, serta Gigafund. Ia juga bergabung dalam dewan SpaceX sejak 2008, ketika dirinya dan Founders Fund menjadi investor awal perusahaan roket yang didirikan Elon Musk tersebut.

Dokumen SpaceX pada Mei 2026 telah menunjukkan bahwa Nosek sudah berstatus miliarder sebelum IPO perusahaan pada Juni 2026. Penawaran saham SpaceX itu bernilai 86 miliar dolar AS, atau sekitar Rp1.538,63 triliun. Kekayaan Nosek diperkirakan mencapai 5,6 miliar dolar AS, setara sekitar Rp100,19 triliun.

Kisah Nosek memperlihatkan bahwa pencatatan saham perusahaan besar dapat memperkuat nilai kepemilikan investor awal, bukan semata-mata menciptakan kekayaan bagi pendiri operasional perusahaan.

Yan Junjie Memperluas Daftar Miliarder AI

Yan Junjie, pendiri, ketua, dan CEO MiniMax Group, juga memperoleh status miliarder setelah perusahaan pengembang model AI itu masuk Bursa Hong Kong pada Januari 2026. IPO MiniMax menghasilkan 618 juta dolar AS atau sekitar Rp11,06 triliun.

Sebelum mendirikan MiniMax pada 2021, Yan yang kini berusia 37 tahun bekerja lebih dari enam tahun di SenseTime. Perjalanannya menunjukkan cepatnya pertumbuhan perusahaan AI China dalam beberapa tahun terakhir, terutama ketika kebutuhan atas pengembangan model dan infrastruktur komputasi terus meningkat.

Tang Jie, Ilmuwan di Balik Z.ai

IPO Z.ai juga mengangkat kekayaan Tang Jie hingga sekitar 2,2 miliar dolar AS, atau Rp39,36 triliun. Tang, 49 tahun, merupakan salah satu pendiri dan kepala ilmuwan perusahaan tersebut bersama Liu Debing.

Selain menjalankan peran di Z.ai, Tang adalah profesor ilmu komputer di Tsinghua University. Ia juga dikenal menekuni riset artificial general intelligence atau AGI. Kehadirannya di daftar miliarder baru memperlihatkan bahwa nilai perusahaan AI tidak hanya bertumpu pada bisnis dan pendanaan, tetapi juga pada kepemimpinan ilmiah serta pengembangan teknologi inti.

Wang Bing dan Lonjakan Saham Genori Technology

Chongqing Genori Technology membawa Wang Bing ke kelompok miliarder baru setelah IPO perusahaan itu di Shanghai pada Juni 2026. Genori mengembangkan komponen serta teknologi untuk industri semikonduktor dan berhasil menghimpun 255 juta dolar AS, setara sekitar Rp4,56 triliun.

Wang, 46 tahun, menjabat sebagai ketua sekaligus CEO perusahaan. Sebelum membangun bisnisnya, ia menghabiskan kurang lebih satu dekade sebagai insinyur dan manajer penjualan di sejumlah perusahaan semikonduktor.

Nilai kekayaannya naik hingga sekitar 2 miliar dolar AS atau Rp35,78 triliun setelah harga saham Genori melonjak hampir 1.200 persen. Pergerakan tersebut menegaskan besarnya sensitivitas valuasi kekayaan pendiri terhadap harga saham setelah perusahaan memasuki pasar publik.

Ilyas Khan di Sektor Komputasi Kuantum

Ilyas Khan, 64 tahun, memperoleh status miliarder melalui Quantinuum, perusahaan komputasi kuantum yang terbentuk pada 2021. Quantinuum lahir dari penggabungan unit komputasi kuantum Honeywell dengan Cambridge Quantum Computing, startup yang didirikan Khan.

Quantinuum melantai di Nasdaq pada Juni 2026 dan menghimpun 1,7 miliar dolar AS, atau sekitar Rp30,41 triliun. Kepemilikan Khan sekitar 15 persen di perusahaan tersebut menjadi dasar penting kenaikan nilai asetnya.

Masuknya perusahaan komputasi kuantum ke pasar publik menambah variasi sektor dalam gelombang IPO 2026. Jika AI dan robotika telah menarik perhatian luas, komputasi kuantum menawarkan gambaran bahwa investor juga memburu teknologi jangka panjang yang masih berada dalam tahap pengembangan dan komersialisasi yang terus berlangsung.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Deretan Miliarder Baru Lahir dari IPO Tahun?

Deretan Miliarder Baru Lahir dari IPO Tahun is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Deretan Miliarder Baru Lahir dari IPO Tahun matter?

Deretan Miliarder Baru Lahir dari IPO Tahun matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.