Bukan Hanya Rupiah – Won Korea Tersungkur Hadapi Dolar AS: Terburuk sejak 17 Tahun
Bukan Hanya Rupiah, Won Korea Anjlok Menghadapi Dolar AS: Level Terendah 17 Tahun
Perkembangan Terkini
Bukan Hanya Rupiah - Mata uang Indonesia, rupiah, dan Korea Selatan, won, terus mengalami tekanan yang signifikan terhadap dolar AS. Pada perdagangan Sabtu (6/6/2026), won mencapai level 1.560 per dolar AS, yang menjadi titik terendah sejak 2009. Ini menunjukkan bahwa Bukan Hanya Rupiah yang terpengaruh, tetapi juga mata uang asing seperti won mengalami penurunan yang mencolok. Fluktuasi ini terjadi di tengah kenaikan suku bunga di AS dan kekhawatiran pasar terhadap ekonomi global.
Penurunan won mencapai titik tertinggi pada 02.00 waktu setempat, dengan nilai tukar mencapai 1.559 per dolar AS. Selisih 19,9 won dari nilai penutupan siang hari menunjukkan volatilitas yang tinggi. Selama sesi perdagangan, won sempat menyentuh 1.561,5 per dolar AS, yang menandai angka terendah sejak 6 Maret 2009.
Saat itu, won diperdagangkan pada 1.597 per dolar AS, di tengah krisis keuangan global yang memukul pasar emerging.
Tekanan terhadap won terus membesar sejak sekitar pukul 21.30 waktu setempat, dengan mata uang tersebut secara beruntun melewati level psikologis 1.550 dan 1.560 per dolar AS.
Analisis Ekonomi Global
Penurunan nilai tukar won dan rupiah terjadi karena dinamika ekonomi global yang dinamis. Dolar AS, yang berperan sebagai mata uang cadangan utama, terus menguat akibat kebijakan moneter yang ketat oleh Federal Reserve. Suku bunga AS yang tinggi menarik aliran modal ke pasar keuangan global, sehingga memperkuat dolar dan mengurangi daya beli mata uang lain. Bukan Hanya Rupiah, won Korea Selatan juga mengalami tekanan serupa karena ketergantungan ekonomi pada ekspor dan biaya produksi yang meningkat.
Secara historis, tren penurunan won terjadi setelah krisis keuangan tahun 2008, yang menunjukkan bahwa penyusutan nilai tukar sering kali diikuti oleh kondisi ekonomi yang kurang stabil. Dengan kenaikan suku bunga AS hingga 5% per tahun, pasar keuangan global mulai mencemaskan inflasi dan pertumbuhan ekonomi di negara-negara lain. Hal ini menyebabkan aliran dana ke luar negeri, termasuk ke pasar AS, yang memperkuat dolar dan mengurangi nilai mata uang regional seperti won dan rupiah.
Proyeksi ekonomi juga memperlihatkan bahwa ketidakstabilan nilai tukar bisa memengaruhi daya saing ekspor Korea Selatan. Sejumlah analis menyoroti bahwa kenaikan harga energi global dan krisis di Eropa serta Tiongkok berkontribusi pada tekanan inflasi yang terus meningkat. Bukan Hanya Rupiah, imbasnya juga terasa di Korea Selatan, di mana ekonomi yang bergantung pada ekspor menjadi rentan terhadap fluktuasi mata uang. Selain itu, persaingan tukar nilai dengan dolar AS membuat investor lebih memilih aset yang dianggap lebih aman, seperti obligasi AS.
Dampak pada Bisnis dan Investor
Penurunan nilai won dan rupiah mempercepat tekanan pada bisnis lokal dan perusahaan multinasional. Dalam kasus Korea Selatan, produsen elektronik dan otomotif yang mengimpor bahan baku terpaksa menghadapi biaya produksi yang meningkat. Bukan Hanya Rupiah, pertumbuhan ekspor Korea Selatan juga terganggu karena harga barang luar negeri menjadi lebih mahal. Dampak ini terasa terutama pada sektor manufaktur dan industri yang rentan terhadap perubahan biaya produksi.
Sementara itu, investor mengalami ketidaknyamanan akibat volatilitas pasar. Dengan Bukan Hanya Rupiah yang terdepresiasi, kinerja ekonomi Asia Tenggara terasa lebih rentan. Pada saat yang sama, mata uang negara-negara lain seperti yen Jepang dan peso Filipina juga mengalami tekanan serupa, menunjukkan ketergantungan global pada dolar AS. Kondisi ini memicu diskusi tentang kebijakan moneter yang lebih agresif di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, untuk mempertahankan daya tarik investasi.
Kebijakan pemerintah dan bank sentral menjadi kunci dalam mengatasi situasi ini. Untuk Bukan Hanya Rupiah, Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga untuk mengurangi inflasi dan menguatkan nilai tukar. Sementara itu, Bank of Korea juga melakukan langkah serupa untuk meminimalkan dampak penurunan won. Namun, penyesuaian kebijakan moneter memerlukan waktu dan kehati-hatian agar tidak merusak pertumbuhan ekonomi. Dengan momentum kenaikan dolar AS yang berlangsung, ekonomi Asia Tenggara harus siap menghadapi tantangan berkelanjutan dalam dinamika pasar keuangan global.