Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BMKG: Musim Kemarau Makin Meluas tapi Hujan Lokal Masih Berpotensi Terjadi

Published Juli 18, 2026 · Updated Juli 21, 2026 · By Michael Jones - nusantaranews1.com

Foto : Michael Jones - nusantaranews1.com

BMKG: Musim Kemarau Meluas, Namun Hujan Lokal Masih Bisa Terjadi

Nusantaranews1.com – BMKG - Dari Jakarta, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa musim kemarau kini menyebar ke lebih banyak wilayah Indonesia. Meski cuaca kering mendominasi, hujan lokal dengan intensitas ringan hingga lebat tetap memiliki kemungkinan terjadi akibat dinamika udara yang berubah. BMKG menyebutkan bahwa hingga Dasarian I Juli 2026, 423 Zona Musim atau sekitar 60,5 persen wilayah Indonesia telah terkena musim kemarau. Kondisi ini didukung oleh penguatan fenomena El Nino, yang menyebabkan penurunan curah hujan di sebagian besar daerah.

Factor yang Memicu Hujan Lokal

BMKG menyoroti bahwa aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Gelombang Kelvin, serta Gelombang Rossby Ekuatorial masih berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di beberapa area. Kondisi ini terutama terjadi di wilayah Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, hingga Papua. "Faktor-faktor ini mampu memperkuat kemungkinan hujan di daerah tersebut," tambah keterangan resmi BMKG, Sabtu (18/7/2026).

Prediksi Cuaca untuk Juli 2026

Untuk periode 18 hingga 23 Juli 2026, BMKG memperkirakan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia tetap berada dalam kondisi cuaca cerah hingga hujan ringan. Namun, hujan dengan intensitas sedang bisa muncul di beberapa daerah seperti Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan sejumlah wilayah di Papua.

Peringatan Dini Angin Kencang

BMKG juga mengeluarkan peringatan dini terkait risiko angin kencang di beberapa lokasi, termasuk Jawa Barat, Jawa Timur, Gorontalo, Kalimantan Selatan, Maluku, Maluku Utara, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi, Papua Barat, dan Banten, pada 20 hingga 23 Juli. Masyarakat diminta waspada terhadap dampak cuaca buruk, seperti pohon tumbang, baliho roboh, genangan air, atau sambaran petir.

"Meskipun musim kemarau semakin luas, hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang masih bisa terjadi di lokasi tertentu," kata BMKG.

BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau efek dari musim kemarau, seperti peningkatan suhu, kekeringan, serta risiko api hutan dan lahan. Karena itu, diingatkan untuk tidak membakar sampah atau tanah secara sembarangan selama periode ini.