Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA saat Kemarau Panjang

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By Elizabeth Jones

BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA saat Kemarau Panjang

JAKARTA, 10 Juni 2026

BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan peringatan terkait ancaman kekeringan ekstrem yang diprediksi akan terjadi hingga akhir musim kemarau 2026. Menurut informasi terbaru dari BMKG, periode puncak kemarau diperkirakan berlangsung sejak bulan Agustus hingga September 2026, dengan intensitas hujan yang signifikan berkurang. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menegaskan bahwa persiapan dini sangat penting untuk mengurangi risiko dampak negatif dari kondisi ini, terutama di sektor pertanian, lingkungan, dan kesehatan. BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA menjadi perhatian utama karena potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang bisa memicu peningkatan polutan udara, sehingga memperburuk kondisi ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut).

Prediksi BMKG tentang Kemarau Panjang

Kemarau panjang yang diprediksi oleh BMKG menurut laporan terbaru berpotensi mengganggu kehidupan masyarakat dan ekosistem di berbagai wilayah Indonesia. Faisal Fathani menjelaskan bahwa faktor seperti curah hujan yang rendah dan suhu udara yang tinggi akan memperparah kekeringan, terutama di daerah dengan persediaan air terbatas. BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA juga mencakup peringatan terkait peningkatan risiko kebakaran yang disebabkan oleh kekeringan ekstrem, terutama di provinsi seperti Jambi, Riau, Kalimantan, dan Sumatra. BMKG mengimbau pemerintah daerah serta masyarakat untuk memantau kondisi cuaca secara berkala dan siapkan langkah-langkah mitigasi yang tepat.

Dampak Karhutla pada Sector Pertanian

Dalam upaya menghadapi kemarau panjang, BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA memperkirakan bahwa sektor pertanian akan menjadi salah satu yang paling terdampak. Kepala BMKG menekankan pentingnya menyesuaikan pola penanaman dengan kondisi cuaca yang tidak menentu. "Sektor pertanian perlu mengadopsi teknik budidaya yang lebih efisien, seperti penggunaan sistem irigasi modern dan pemilihan varietas tanaman tahan kekeringan," ujar Fathani. Selain itu, dia menyarankan agar pertanian bisa mengoptimalkan siklus tanam yang lebih singkat untuk meminimalkan kerugian akibat air yang langka. BMKG juga mengingatkan bahwa karhutla berpotensi mengganggu produksi pangan nasional, terutama di daerah dengan tanah kering yang rentan terbakar.

Ancaman ISPA dan Upaya Mitigasi

BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA memperingatkan bahwa kualitas udara akan menurun secara signifikan selama musim kemarau. Hal ini disebabkan oleh peningkatan partikulat udara yang berasal dari asap kebakaran hutan dan lahan. "Peningkatan polutan udara bisa memicu penyakit ISPA, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma," kata Fathani. Untuk mengatasi masalah ini, BMKG merekomendasikan pemerintah daerah untuk meningkatkan pengawasan terhadap kebakaran dan melakukan siaga dini dalam menangani kenaikan polutan udara. Selain itu, masyarakat diimbau untuk mengurangi aktivitas yang memperparah pencemaran udara, seperti pembakaran sampah dan penggunaan bahan bakar fosil di saat siang hari.

Kesiapan Sector Perikanan dan Tambak Garam

BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA juga mencakup penyesuaian kebijakan dalam sektor perikanan dan tambak garam. Fathani menekankan bahwa fenomena upwelling, yaitu aliran air laut yang membawa nutrisi ke permukaan, bisa dimanfaatkan untuk meningkatkan hasil tangkapan ikan selama kemarau panjang. "Upwelling dapat meningkatkan produktivitas ikan di perairan tertentu, sehingga petani perikanan perlu memanfaatkan peluang ini," ujar dia. Di sisi lain, kekeringan juga memberi kesempatan untuk optimalisasi produksi garam, terutama di daerah dengan akses langsung ke laut. BMKG mengingatkan bahwa pemantauan kualitas air dan kondisi cuaca di sekitar tambak garam harus terus dilakukan agar tidak terjadi kerusakan lingkungan yang berkepanjangan.

Kolaborasi Daerah dan Penguatan Sistem Pemantauan

Menghadapi BMKG Ingatkan Ancaman Karhutla hingga ISPA, BMKG menekankan pentingnya kolaborasi antarinstansi dan masyarakat dalam menghadapi kemarau panjang. Kepala BMKG mengatakan bahwa kemitraan antara BMKG dengan badan lain seperti Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta pemerintah daerah akan menjadi kunci sukses dalam mengurangi dampak negatif. "Pemantauan secara real-time dengan teknologi seperti satelit dan sensor cuaca di lapangan harus diperkuat agar respons dapat lebih cepat dan tepat sasaran," jelas Fathani. Selain itu, pihak BMKG juga berencana mengadakan workshop dan pelatihan bagi masyarakat terkait cara mengelola sumber daya air dan mengurangi risiko karhutla selama masa kemarau yang berkepanjangan. Dengan langkah-langkah ini, harapannya adalah agar ekosistem dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi secara berkelanjutan.