Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Bahlil soal Harga Pertamax Naik: Sudah Dihitung Secara Bijak

Published Juni 11, 2026 · Updated Juni 11, 2026 · By David Jackson

Bahlil Soal Kenaikan Harga Pertamax: Dihitung Secara Matang

Bahlil soal Harga Pertamax Naik - Dalam wawancara terbaru di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada hari Kamis (11/6/2026), Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan penjelasan terkait kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, terutama Pertamax dan Pertamax Green 95. Bahlil soal harga Pertamax naik menjadi isu utama dalam diskusi ini, di mana dia menjelaskan bahwa penyesuaian tarif ini telah melalui evaluasi yang cermat dan berdasarkan kondisi pasar global serta domestik yang sedang berkembang.

Penjelasan Bahlil tentang Kenaikan Harga BBM

Kenaikan harga Pertamax mencapai Rp16.250 per liter, naik dari Rp12.300 per liter sebelumnya. Sementara itu, Pertamax Green 95 mengalami kenaikan hingga Rp17.000 per liter, dari Rp12.900 per liter. Bahlil soal harga Pertamax naik menekankan bahwa perubahan ini tidak terjadi secara impulsif, melainkan sebagai bagian dari upaya untuk menjaga keseimbangan antara harga pasar dan kebutuhan masyarakat. Menurutnya, pengusaha seperti Pertamina dan perusahaan swasta lainnya telah melakukan perhitungan secara bijak agar dampak terhadap perekonomian nasional tetap terkontrol.

Dalam wawancara tersebut, Bahlil menjelaskan bahwa kenaikan harga BBM non-subsidi adalah langkah yang diperlukan untuk menyesuaikan dengan fluktuasi harga minyak mentah dunia. Ia menyebut bahwa harga internasional yang terus meningkat memaksa pemerintah untuk melakukan penyesuaian tarif agar bisa bertahan dalam persaingan global. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan untuk mengurangi defisit neraca energi yang selama ini menghambat pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Pertimbangan dalam Menyesuaikan Harga Pertamax dan Pertamax Green 95

Menurut Bahlil soal harga Pertamax naik, kenaikan ini tidak hanya didasari oleh harga pasar, tetapi juga oleh berbagai faktor seperti permintaan yang meningkat, produksi dalam negeri, dan kebijakan subsidi yang diterapkan. "Kami memastikan bahwa harga yang ditetapkan sudah dihitung dengan matang, termasuk dampaknya terhadap konsumen dan industri," tambahnya. Ia menjelaskan bahwa pemerintah tetap memantau situasi ekonomi secara berkala untuk memastikan bahwa penyesuaian ini tidak merugikan masyarakat secara signifikan.

Bahlil juga mengungkapkan bahwa kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 tidak terlepas dari kebijakan harga BBM subsidi yang tetap stabil. Ia menekankan bahwa harga bahan bakar subsidi serta LPG tidak mengalami perubahan, sehingga masyarakat yang mengandalkan subsidi tetap terlindungi dari kenaikan harga yang lebih tinggi. Namun, untuk BBM non-subsidi, penyesuaian dianggap sebagai cara untuk meningkatkan efisiensi dan mengurangi ketergantungan pada subsidi yang terus menggerus anggaran pemerintah.

Dalam menjelaskan Bahlil soal harga Pertamax naik, ia juga menyebut bahwa pemerintah telah berdiskusi dengan berbagai pihak, termasuk produsen BBM, pengusaha, dan masyarakat, agar bisa mencapai kesepakatan yang seimbang. "Kami tidak ingin kenaikan harga ini terasa terlalu berat bagi masyarakat, tetapi kami juga harus mengakui bahwa kebutuhan untuk menyesuaikan dengan kondisi pasar tidak bisa dihindari," katanya. Selain itu, Bahlil menyampaikan bahwa kebijakan ini juga bertujuan untuk menarik investasi ke sektor energi dan mendorong inovasi dalam produksi bahan bakar.

Menurut Bahlil, kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green 95 juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah dalam mengelola subsidi. "Kami ingin menekan penggunaan subsidi yang semakin besar, tetapi juga menjaga kesejahteraan masyarakat. Kenaikan harga ini adalah salah satu strategi untuk mencapai tujuan tersebut," ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus memantau dampak kenaikan harga ini, terutama terhadap sektor transportasi dan industri yang bergantung pada bahan bakar minyak.

Bahlil soal harga Pertamax naik juga menjadi bahan pembicaraan dalam diskusi dengan berbagai media. Ia menegaskan bahwa perubahan harga ini merupakan keputusan yang sangat matang, dengan mempertimbangkan berbagai aspek seperti inflasi, daya beli masyarakat, dan kebutuhan energi nasional. "Kami tidak mengambil keputusan secara sepihak, tetapi dengan melibatkan pihak-pihak terkait dan melakukan analisis mendalam," jelasnya. Ia berharap kenaikan harga ini tidak menimbulkan keluhan berlebihan, tetapi lebih dilihat sebagai bagian dari upaya mengelola krisis energi yang berkelanjutan.