3 Pendaki Tewas – Penyedia Open Trip Ternyata Tahu Gunung Dukono Berstatus Waspada
3 Pendaki Tewas dalam Erupsi Gunung Dukono, Penyedia Open Trip Ternyata Tahu Status Waspada
3 Pendaki Tewas – Dalam kejadian erupsi Gunung Dukono di Halmahera Utara, Maluku Utara, tiga pendaki dilaporkan tewas setelah melakukan pendakian tanpa memperhatikan peringatan bahaya. Kapolres Halmahera Utara, AKBP Erlichson Pasaribu, mengungkapkan bahwa penyedia jasa open trip, Reza Selang (RS), sebelumnya mengetahui Gunung Dukono berstatus waspada namun tetap mengizinkan rombongan berangkat. Peristiwa ini menyoroti kesadaran keamanan yang kurang dalam aktivitas pendakian di area berisiko tinggi.
Detail Erupsi dan Konsekuensi
Erupsi Gunung Dukono terjadi pada Jumat (8/5/2026) sekitar pukul 07.41 WIT, mengakibatkan 20 pendaki terjebak di area kawah. Dari jumlah tersebut, 17 pendaki berhasil dievakuasi dalam kondisi aman, sementara tiga orang meninggal akibat paparan abu vulkanik dan gas berbahaya. Kapolres mengatakan bahwa RS dijerat Pasal 474 UU No. 1 Tahun 2023 KUHP, yang bisa memberi hukuman penjara hingga lima tahun. Ini memicu pertanyaan tentang kesiapan penyedia layanan travel dalam mengantisipasi risiko alam.
“Sebelum pendakian, tersangka RS juga mengetahui Gunung Dukono berstatus waspada, tetapi tetap melakukan pemberangkatan tanpa berkoordinasi dengan pos pantau yang memiliki petugas PVMBG,” jelas Erlichson saat dihubungi, Kamis (21/5/2026).
Erupsi yang memicu penutupan total Gunung Dukono pada tanggal 8 Mei 2026 tersebut terjadi secara tiba-tiba, menghancurkan perencanaan awal pendaki. Dalam situasi darurat, tim SAR bekerja keras untuk menemukan korban yang masih terjebak. Pencarian dimulai pada Sabtu (9/5/2026), saat tim pertama kali menemukan pendaki asal Jayapura di sekitar 50 meter dari bibir kawah. Tiga hari setelah kejadian, pada hari ketiga pencarian, dua warga Singapura ditemukan dalam kondisi terluka, yaitu Heng Wen Qiang Timothy (30) dan Shahin Muhrez Bin Abdul Hamid (27).
Persiapan dan Penyebab Kejadian
Kasus ini menjadi perhatian publik karena penyedia open trip diduga tidak mengambil langkah pencegahan. Erupsi Gunung Dukono, yang merupakan salah satu gunung aktif di Indonesia, seringkali berpotensi mengeluarkan awan panas dan abu vulkanik secara mendadak. Meski status waspada telah diberikan, RS masih memungkinkan pendaki memasuki area tersebut. Menurut laporan, RS mengira kondisi di Gunung Dukono lebih stabil, sehingga tidak memperhatikan petunjuk dari pihak berwenang.
Erupsi tersebut juga mengakibatkan gangguan transportasi dan komunikasi di sekitar Halmahera Utara. Selain korban tewas, sejumlah pendaki lainnya mengalami cedera ringan dan harus dirawat di rumah sakit. Pemerintah setempat memperketat pengawasan setelah kejadian, menegaskan pentingnya koordinasi antara penyedia jasa travel dan lembaga pemantau bencana. Dengan adanya kejadian ini, masyarakat diingatkan untuk selalu memantau informasi terkini sebelum melakukan aktivitas di lokasi rentan erupsi.
Pelaku penyedia open trip juga disita sejumlah barang bukti, termasuk peralatan pendakian yang rusak dan drone. Dari jumlah pendaki yang terjebak, satu orang dinyatakan tewas akibat paparan gas vulkanik, sementara dua lainnya meninggal karena terkena batu-batu yang dilemparkan oleh erupsi. Dalam penyelidikan, penyidik mencari bukti yang menunjukkan kelalaian RS dalam memberi informasi keamanan kepada peserta pendakian.
Erupsi Gunung Dukono sebelumnya sering terjadi secara periodik, dengan intensitas yang beragam. Pada 8 Mei 2026, letusan tersebut lebih kuat dibandingkan beberapa kali sebelumnya, sehingga memicu kekhawatiran serius. Para pendaki yang terjebak mengalami kesulitan karena jalan yang tertutup abu, membuat mereka terpaksa berjalan kaki ke pos pemandu atau tempat aman. Selama tiga hari, tim SAR melakukan pencarian intensif, mendukung korban yang terluka dan memastikan tidak ada korban lain yang terlewat.
Kasus tiga pendaki tewas juga menimbulkan peningkatan kesadaran tentang pentingnya persiapan dan pengawasan ketat dalam aktivitas pendakian. Kementerian Pariwisata dan Lingkungan Hidup, bersama dengan dinas setempat, sedang meninjau kembali aturan keamanan untuk area vulkanik. Dengan adanya kejadian ini, penyedia open trip diminta untuk selalu memastikan peserta mengetahui risiko dan melakukan persiapan sebelum menaiki Gunung Dukono.