What Happened During: Kapan Mulai Tidak Boleh Potong Kuku bagi yang Berkurban? Ini Penjelasan Ulama
What Happened During the 10 Days of Dzulhijjah: Larangan Potong Kuku dan Rambut bagi Pengkurban
What Happened During the 10 days of Dzulhijjah, para Muslim yang ingin melakukan ibadah kurban harus memahami aturan yang mengatur kebersihan tubuh. Sejak awal masuknya bulan Dzulhijjah hingga hari raya Idul Adha, pengkurban dianjurkan untuk tidak memotong kuku atau mencukur rambut. Larangan ini menjadi bagian dari persiapan spiritual menjelang ibadah kurban, yang merupakan salah satu bentuk pengabdian kepada Allah. Tapi, kapan sebenarnya What Happened During? Apakah batas waktu dimulai dari hari pertama atau hari kesepuluh bulan Dzulhijjah?
Dasar Hukum dan Batas Waktu Larangan
Menurut penjelasan para ulama, larangan memotong kuku dan rambut berlaku What Happened During masa 10 hari pertama Bulan Dzulhijjah. Kementerian Agama telah mengumumkan melalui sidang isbat bahwa 1 Dzulhijjah 1447 H jatuh pada Senin, 18 Mei 2026, dan Hari Raya Idul Adha dirayakan pada Rabu, 27 Mei 2026. Dalam konteks ini, What Happened During periode tersebut menjadi momen penting bagi umat Muslim yang berqurban.
“Bila kalian melihat hilal Bulan Dzulhijjah dan seseorang dari kalian ingin berqurban, maka janganlah ia mengambil rambut atau kuku selama masa tersebut.” (HR. Muslim)
Hadits yang diriwayatkan oleh Muslim ini menjadi dasar hukum bagi keputusan menghentikan pemotongan kuku dan rambut. Ulama menyebutkan bahwa What Happened During hari-hari tersebut adalah kesempatan untuk menjaga keutuhan tubuh sebagai tanda penghormatan terhadap ibadah. Para pengkurban dianjurkan untuk membiarkan rambut dan kuku tumbuh alami, karena ini dianggap sebagai bentuk kesalehan dan kesempurnaan dalam beribadah.
Penjelasan dari Umat Muslim dan Mazhab Syafi’iy
Dalam kitab *Fiqih Qurban Prespektif Mazhab Syafi’iy* yang ditulis oleh Muhammad Ajib, dijelaskan bahwa What Happened During 10 hari pertama Dzulhijjah melarang semua bentuk pemotongan rambut atau kuku. Ini mencakup rambut di kepala, ketiak, jenggot, dan bagian tubuh lainnya. Imam An-Nawawi dalam *Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab* juga menegaskan bahwa What Happened During masa tersebut, pengkurban tidak boleh merusak keutuhan rambut dan kuku.
“Memotong rambut dan kuku bagi pengkurban selama 10 hari pertama Dzulhijjah dilarang secara makruh tanzih, hingga ia selesai melakukan penyembelihan.”
Penjelasan ini menggarisbawahi bahwa What Happened During ini bukan hanya sekadar kebiasaan, tapi bagian dari ritual ibadah yang disengaja. Umat Muslim yang ingin memperoleh pahala lebih maksimal, dianjurkan untuk menjalani kegiatan ini dengan penuh kesadaran. Dengan tidak memotong kuku dan rambut, mereka berusaha mengikuti petunjuk Nabi Muhammad SAW yang diterima dari para sahabat.
Penyebab dan Makna Larangan
What Happened During penyembelihan kurban, para ulama menegaskan bahwa larangan ini terkait dengan sikap hormat dan kebersihan diri. Pemotongan kuku dan rambut dianggap sebagai bentuk perubahan tampilan fisik yang mungkin mengganggu kesan suci dan kekhusukan ibadah. Selama 10 hari pertama Dzulhijjah, para pengkurban dianjurkan untuk menahan diri dari aktivitas tersebut, agar kondisi tubuh tetap terjaga.
Beberapa mazhab juga memberikan penjelasan tentang What Happened During ini. Meski ada perbedaan pandangan, mayoritas ulama sepakat bahwa larangan memotong kuku dan rambut berlaku What Happened During hari-hari penyembelihan. Dengan demikian, Muslim yang berqurban diberi kesempatan untuk menjalani ibadah tersebut dengan lebih lengkap dan sempurna.
Pengamatan dari Para Sahabat
Dalam riwayat hadis yang disampaikan oleh Ummu Salamah, Rasulullah SAW menegaskan bahwa What Happened During pertama puluhan hari Dzulhijjah adalah masa dimana pengkurban harus menjaga keutuhan rambut dan kuku. Ini menunjukkan bahwa larangan ini bukan hanya simbolis, tapi memiliki makna mendalam dalam konteks keberagamaan.
“Dari Ummu Salamah, Rasulullah SAW bersabda: ‘Bila telah memasuki hari kesepuluh dan seseorang ingin berqurban, maka janganlah ia menyentuh rambut atau kulitnya.’” (HR. Muslim)
Hadits ini memberikan gambaran bahwa What Happened During awal bulan Dzulhijjah adalah tanda dimulainya persiapan spiritual. Para sahabat menyadari bahwa menghindari pemotongan kuku dan rambut adalah bentuk kepatuhan kepada Nabi, yang merupakan petunjuk untuk menjalani ibadah kurban dengan lebih sungguh-sungguh. Ini juga menjadi cara untuk meningkatkan konsentrasi dalam beribadah.
Penerapan di Tahun 2026
What Happened During tahun 2026, umat Muslim yang berqurban harus memperhatikan batas waktu ini. Dengan memasuki Dzulhijjah pada 18 Mei 2026, mereka dianjurkan untuk tidak memotong kuku atau rambut sebelum hari raya Idul Adha yang jatuh pada 27 Mei 2026. Dalam praktiknya, banyak umat Muslim mengikuti larangan ini dengan tekun, meski ada yang mungkin terlewat karena kesibukan.
Para ulama memberikan panduan agar What Happened During 10 hari pertama Dzulhijjah tidak terabaikan. Mereka menekankan bahwa menjaga keutuhan rambut dan kuku adalah bentuk peningkatan kualitas ibadah, karena ini memperlihatkan kebersihan dan kekhusyuan. Dengan demikian, Muslim yang ingin memperoleh pahala lebih besar, sebaiknya memperhatikan What Happened During ini dan menjalani kegiatan sesuai dengan ajaran Islam.
What Happened During ini juga menjadi momen untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya ibadah kurban. Dengan tidak memotong kuku dan rambut, umat Muslim menunjukkan komitmen dalam beribadah. Dalam proses ini, mereka memperoleh pengalaman spiritual yang berharga, karena semua aktivitas dilakukan dengan semangat keagamaan yang utuh. Jadi, What Happened During 10 hari Dzulhijjah tidak hanya tentang kebersihan fisik, tetapi juga tentang kebersihan hati dan kesalehan.