Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Berhenti Makan Gorengan Terbukti Bikin Panjang Umur? Ini Faktanya!

Published Juni 26, 2026 · Updated Juli 21, 2026 · By Jessica Moore - nusantaranews1.com

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com

Berhenti Makan Gorengan Bisa Panjangkan Umur? Faktanya Ini

Nusantaranews1.com – Kebiasaan mengonsumsi makanan gorengan di Indonesia masih menjadi tantangan dalam mencapai gaya hidup sehat. Meski konsumsi makanan berlemak berlebihan sering dianggap sebagai masalah yang mengurangi kualitas hidup, banyak orang belum menyadari dampaknya terhadap usia panjang. Dr. Wei Siang Yu, pendiri Borderless Healthcare Group, menyoroti bahwa perubahan kebiasaan makan bukan hanya langkah kecil, tapi bisa menjadi strategi penting dalam menghadapi tantangan kesehatan. Ia menekankan bahwa memahami hubungan antara pola makan dan umur panjang adalah bagian dari Solving Problems dalam menjaga kesehatan secara holistik.

Mengapa Gorengan Berdampak Negatif pada Kesehatan?

Makanan gorengan, terutama yang digoreng dalam minyak berulang, mengandung lemak trans dan kadar kalori tinggi yang berisiko menyebabkan obesitas, diabetes, serta penyakit jantung. Menurut penelitian dari American Heart Association, makanan berlemak jenuh secara berlebihan dapat meningkatkan risiko penyakit kronis hingga 30% dalam 10 tahun. Wei Siang Yu menjelaskan, konsumsi gorengan yang tidak terkontrol bisa menjadi faktor utama dalam memperpendek usia, terutama di kalangan masyarakat yang kurang memperhatikan asupan gizi.

"Makanan gorengan berkontribusi pada peningkatan kadar kolesterol LDL dan inflamasi dalam tubuh. Ini menciptakan lingkaran setan yang menyebabkan kerusakan jangka panjang, termasuk penyakit degeneratif yang sering muncul di usia lanjut," ujar Wei saat diwawancarai di Jakarta Selatan, beberapa waktu lalu.

Konsep Longevity 5.0 dan Solving Problems

Wei Siang Yu mengusulkan konsep Longevity 5.0 sebagai solusi komprehensif untuk Solving Problems dalam kesehatan. Konsep ini menekankan pentingnya kesehatan masyarakat bukan hanya sebagai respons terhadap penyakit, tapi sebagai bagian dari pencegahan sejak dini. "Longevity 5.0 menggabungkan teknologi, pendidikan, dan kebiasaan sehari-hari untuk menciptakan kehidupan yang lebih bermakna dan lebih lama," jelasnya.

Dalam konteks ini, mengurangi konsumsi gorengan bukan sekadar menghindari kalori berlebih, tapi juga memperkuat kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan. Wei menyebutkan, perubahan kecil seperti mengganti penggorengan dengan metode lain, seperti steaming atau grilling, bisa memberikan dampak besar dalam jangka panjang. "Solving Problems dimulai dari kesadaran diri, kemudian disertai tindakan nyata yang konsisten," tambahnya.

Menurut penelitian yang dipublikasikan di jurnal Nutrients, mengurangi konsumsi makanan berlemak berlebihan terkait dengan penurunan risiko kematian dini sebesar 25%. Wei menambahkan, makanan yang sehat tidak hanya memengaruhi fisik, tapi juga mental, karena kesehatan tubuh berkorelasi dengan kemampuan menghadapi stres dan memperpanjang kualitas kehidupan.

Langkah-Langkah Menerapkan Gaya Hidup Sehat yang Lebih Baik

Mengurangi kebiasaan makan gorengan membutuhkan strategi terencana. Wei menyarankan mengganti makanan gorengan dengan pilihan sehat seperti sayuran segar, ikan, dan bahan-bahan rendah lemak. Selain itu, mengatur waktu makan dan menghindari makan berlebihan di malam hari bisa menjadi cara efektif untuk Solving Problems dalam mengelola nafsu makan. "Kunci utama adalah konsistensi, bukan kesempurnaan," katanya.

Para ahli gizi menekankan bahwa adaptasi makanan tradisional seperti nasi Padang tidak harus dibuang. Dengan mengurangi jumlah minyak yang digunakan dalam masakan, orang Indonesia tetap bisa menikmati rasa yang kaya tanpa mengorbankan kesehatan. Wei juga mengapresiasi minuman tradisional seperti jamu, yang kaya akan bahan herbal dan dapat menjadi bagian dari konsep makanan sehat modern.

Untuk memperkuat Solving Problems dalam kesehatan, Wei menyarankan pendidikan masyarakat melalui kampanye berkelanjutan. "Dengan memahami manfaat pola makan sehat, orang akan lebih mudah beradaptasi dan berkomitmen untuk hidup lebih lama," tuturnya. Ia juga mengingatkan bahwa dukungan dari keluarga dan lingkungan sekitar sangat penting dalam membangun kebiasaan yang baik.

Pola Makan Sehat sebagai Investasi Masa Depan

Pola makan sehat bukan hanya tentang mengurangi gorengan, tapi juga tentang memilih nutrisi yang tepat untuk tubuh. Wei Siang Yu menyoroti bahwa makanan beragam, seimbang, dan teratur dapat meningkatkan metabolisme dan mengurangi risiko penyakit. "Solving Problems dalam kesehatan berarti mengambil langkah aktif untuk mencegah masalah sebelum muncul, bukan hanya mengobati setelah terjadi," jelasnya.

Dalam jangka panjang, perubahan ini bisa mengurangi beban biaya kesehatan nasional. Menurut Kementerian Kesehatan Indonesia, biaya pengobatan penyakit kronis mencapai 40% dari anggaran kesehatan tahunan. Dengan mengadopsi pola makan sehat, terutama dalam mengurangi konsumsi gorengan, masyarakat bisa mengurangi risiko munculnya penyakit yang memakan biaya besar. Wei berharap konsep Longevity 5.0 menjadi acuan baru dalam membentuk kebiasaan hidup yang lebih baik untuk seluruh generasi.

Kebiasaan Makan Sehat dan Perilaku Positif

Wei Siang Yu juga menyoroti bahwa kesehatan jangka panjang bergantung pada kebiasaan sehari-hari yang konsisten. Ia menekankan bahwa Solving Problems dalam kesehatan memerlukan kesadaran bahwa makanan bukan hanya kebutuhan, tapi juga alat untuk membangun kehidupan yang lebih baik. "Jika kita memulai dari kebiasaan makan, kita bisa menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan berkelanjutan," ujarnya.

Menurutnya, pendekatan holistik seperti ini akan membantu masyarakat mengatasi tantangan kesehatan yang kompleks. "Makanan sehat, olahraga rutin, dan pola hidup seimbang adalah komponen utama dari Solving Problems menuju usia panjang yang berkualitas," tambahnya. Ia juga menyarankan masyarakat untuk memantau kebiasaan makan mereka secara berkala, terutama dalam menghadapi tantangan seperti stress atau kebiasaan hidup tidak sehat.