Meeting Results: Perokok Berisiko 2 Kali Lipat Kena TBC, Ini Penyebab yang Jarang Disadari!
Perokok Berisiko Dua Kali Lipat Kena TBC, Ini Penyebab yang Jarang Disadari!
Meeting Results mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok meningkatkan risiko terkena tuberkulosis (TBC) hingga dua kali lipat dibandingkan orang yang tidak merokok. Hal ini disampaikan oleh Prof Tjandra Yoga Aditama, mantan direktur penyakit menular dari WHO Asia Tenggara, dalam rangkaian perayaan Hari Tanpa Tembakau Sedunia (HTTS) tahun ini. Meski TBC sering dikaitkan dengan faktor-faktor seperti kelelahan atau kurangnya gizi, asap rokok ternyata memainkan peran kritis dalam memperparah kondisi penyakit ini.
Risiko Merokok untuk Kesehatan Paru-paru
Dalam Meeting Results terbaru, WHO menyebutkan bahwa merokok tidak hanya berdampak pada kanker, tetapi juga berkontribusi signifikan terhadap penyebaran TBC. Asap rokok mengandung ribuan zat kimia berbahaya yang dapat merusak fungsi pertahanan tubuh, terutama pada sel-sel di paru-paru. Prof Tjandra menjelaskan bahwa kebiasaan merokok menghambat kemampuan makrofag alveolar, sel penting yang bertugas menangkap bakteri Mycobacterium tuberculosis, sehingga memperbesar kemungkinan infeksi terjadi.
"Rokok bukan hanya menyebabkan kanker, tetapi juga memperparah risiko terkena TBC. Dalam Meeting Results ini, WHO menekankan bahwa asap tembakau adalah faktor risiko utama untuk penyebaran penyakit yang hingga kini masih menjadi tantangan besar di Indonesia," kata Prof Tjandra dalam wawancara khususnya, Minggu (31/5/2026).
Mekanisme Biologis yang Tidak Disadari
Dokumen WHO berjudul 'Tobacco Exposed - Poisoning our Planet and a Key Driver for the TB Epidemic' menegaskan bahwa kebiasaan merokok memicu perubahan genetik pada bakteri TBC, menjadikannya lebih resisten terhadap obat. Fenomena ini menyebabkan pengobatan menjadi lebih kompleks dan menyulitkan pemulihan pasien. Prof Tjandra menyoroti bahwa Meeting Results tahun ini menjadi momentum penting untuk menyadarkan masyarakat akan dampak perokokan terhadap sistem imun.
Studi epidemiologi terkini menunjukkan bahwa kebiasaan merokok aktif maupun pasif berdampak langsung pada kemampuan tubuh menangkal infeksi. Selain itu, asap rokok juga mempercepat progresi TBC menjadi penyakit parah, bahkan meningkatkan risiko komplikasi serius seperti kegagalan perawatan atau kematian. "Mekanisme biologis ini sering kali tidak terlihat secara langsung, tetapi menjadi penyebab utama mengapa perokok lebih rentan terkena TBC," tambah Prof Tjandra.
"Dalam Meeting Results ini, WHO meminta integrasi antara program pencegahan TBC dan upaya mengurangi konsumsi tembakau. Hal ini penting karena TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di daerah dengan tingkat perokokan tinggi," ujar Prof Tjandra dalam sesi diskusi.
Pencegahan dan Langkah yang Dibutuhkan
Untuk mengatasi masalah ini, Meeting Results menyarankan kolaborasi antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga kesehatan, dan masyarakat. Prof Tjandra menegaskan bahwa pendidikan dan kampanye tentang bahaya merokok perlu ditingkatkan, terutama di kalangan remaja dan kelompok rentan. "Saat ini, kebiasaan merokok tetap menjadi tantangan utama, tetapi dengan strategi yang tepat, risiko TBC bisa diminimalkan," katanya.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa kebiasaan merokok berkaitan erat dengan kegagalan pengobatan TBC. Pasien yang masih merokok setelah selesai menjalani terapi cenderung mengalami kambuh atau kegagalan terapi. "Karena itu, Meeting Results ini juga menjadi peringatan untuk menyadarkan bahwa perokok harus terus memantau kesehatannya setelah sembuh," pungkas Prof Tjandra. Selain itu, kebijakan pengendalian tembakau yang lebih ketat diperlukan untuk menekan penyebaran TBC di tingkat masyarakat.