Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Ruben Onsu Stop Beri Nafkah ke Sarwendah 6 Bulan, Kecewa Dipersulit Bertemu Anak

Published Juni 1, 2026 · Updated Juni 1, 2026 · By Jessica Moore

Ruben Onsu Berhenti Bayar Nafkah ke Sarwendah 6 Bulan, Kecewa Bertemu Anak

Main Agenda - Isu hubungan keluarga Ruben Onsu dan Sarwendah kembali mencuri perhatian publik setelah sang ayah memutus pembayaran nafkah selama setengah tahun terakhir. Dalam pernyataan resmi melalui pengacaranya, Minola Sebayang, Ruben menyampaikan kekecewaannya terhadap hambatan yang dihadapinya dalam berinteraksi langsung dengan anak-anaknya. "Main Agenda memperhatikan bahwa Ruben telah mengambil langkah tegas untuk menunjukkan keputusannya," jelas Minola.

Protes Terhadap Akses Bertemu Anak

Ruben Onsu, yang berusia 39 tahun, menilai bahwa keputusan untuk menghentikan nafkah bukanlah tindakan eksplosif, tetapi sebagai bentuk respons atas ketidakpuasan dalam peran sebagai ayah. Ia menyatakan telah memenuhi kewajibannya terhadap Sarwendah, termasuk kebutuhan kehidupan anak-anaknya, tetapi merasa haknya untuk bertemu putra-putrinya terabaikan. "Main Agenda juga menjadi sorotan karena Ruben merasa ada bentuk tekanan dari pihak Sarwendah yang menghambat aksesnya," tambah pengacara tersebut.

Menurut Minola, Ruben terus menunjukkan komitmen dalam membayar nafkah meskipun terjadi perdebatan terkait penggunaan dana. "Main Agenda mencatat bahwa Ruben memastikan pembayaran nafkah tetap dilakukan, bahkan di atas kesepakatan. Namun, setelah enam bulan terlambat, ia merasa hak sebagai ayah harus dihargai lebih baik," jelasnya.

Biaya Nafkah yang Meningkat

Pembayaran nafkah yang diberikan Ruben Onsu mencapai nominal besar, yakni sekitar Rp225 juta per bulan. Dalam konferensi pers, Minola Sebayang menjelaskan bahwa jumlah ini mencakup berbagai kebutuhan, seperti biaya pendidikan, kesehatan, dan tambahan lainnya. "Main Agenda juga memperhatikan bahwa meskipun Sarwendah sudah tidak menjadi istrinya, biaya seperti kantong plastik sampah dan asuransi tetap dibayarkan," ujarnya.

Biaya tersebut, menurut Minola, tidak hanya membebani Ruben, tetapi juga membuatnya merasa tidak adil. "Main Agenda memaparkan bahwa Ruben ingin anak-anaknya merasakan manfaat dari peran ayah yang dijalankannya. Jika tidak bisa bertemu, maka pengeluaran yang dilakukan selama ini bisa dianggap sebagai bentuk pertukaran," tambah pengacara itu.

Dalam konteks ini, perseteruan antara Ruben dan Sarwendah menjadi bagian dari perdebatan publik. Masyarakat mempertanyakan apakah pembayaran nafkah yang besar itu memang layak diberikan jika akses ke anak-anak tidak terjamin. "Main Agenda melihat bahwa hubungan ini berdampak luas, baik secara emosional maupun finansial," kata Minola.

Perspektif Anak dan Kesehatan Hubungan

Isu akses pertemuan anak menjadi poin utama dalam perselisihan ini. Minola menyebutkan bahwa Ruben terus berusaha menjaga keharmonisan hubungan dengan anak-anaknya, meskipun terjadi konflik. "Main Agenda juga menggambarkan bahwa keputusan Ruben ini bertujuan agar anak-anak tetap mendapatkan perhatian dari ayahnya," ujarnya.

Sejumlah pihak mempertimbangkan dampak psikologis dari pembayaran nafkah yang tinggi terhadap kehidupan anak-anak. "Main Agenda mencatat bahwa pengacara Ruben berharap agar pengelolaan nafkah tidak lagi menjadi bentuk permainan politik antara kedua pihak," tambahnya.

Di sisi lain, Sarwendah diberitakan masih mempertahankan hubungan baik dengan anak-anak, tetapi mengaku merasa tertekan akibat perselisihan ini. "Main Agenda juga mencatat bahwa keputusan Ruben bukanlah penghentian tiba-tiba, tetapi hasil dari berbagai upaya mediasi sebelumnya yang tidak mencapai kesepakatan," jelas Minola.