Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Anak Bisa Kena DBD Berkali-kali, IDAI Sarankan Vaksinasi demi Perlidungan Maksimal!

Published Juni 22, 2026 · Updated Juli 21, 2026 · By Jessica Moore - nusantaranews1.com

Foto : Jessica Moore - nusantaranews1.com

IDAI Sarankan Vaksinasi sebagai Strategi Utama Perlindungan dari DBD yang Bisa Terulang

Nusantaranews1.com – Dalam pencegahan demam berdarah dengue (DBD) semakin penting untuk menjamin perlindungan maksimal bagi anak-anak Indonesia. Meski sebagian orang tua beranggapan bahwa anak yang pernah terkena DBD akan kebal terhadap penyakit ini seumur hidup, kenyataannya, seseorang bisa tertular lebih dari satu kali. Fakta ini dijelaskan oleh Prof Hartono Gunardi, Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam konferensi pers Takeda dengan tema "Ayo Bersama Cegah DBD". Key Strategy yang dianjurkan IDAI adalah kombinasi vaksinasi dan upaya mengendalikan nyamuk, karena dua langkah ini dapat memberikan perlindungan yang lebih optimal.

Pemahaman tentang Penyebab dan Dampak DBD

DBD disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat jenis berbeda, yaitu DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Infeksi pertama biasanya memberikan kekebalan terhadap satu jenis virus tertentu, tetapi tidak menjamin perlindungan terhadap serotipe lain. Akibatnya, seseorang yang sudah pernah terkena DBD tetap bisa tertular kembali, bahkan dengan gejala yang lebih berat. Prof Hartono menjelaskan bahwa respons tubuh terhadap infeksi kedua sering kali lebih ekstrem, yang berisiko menyebabkan komplikasi serius seperti syok dengue atau perdarahan internal. Key Strategy untuk mengurangi risiko ini adalah vaksinasi yang dapat membentuk kekebalan terhadap berbagai serotipe virus sekaligus.

Vaksinasi: Solusi untuk Perlindungan Jangka Panjang

Vaksinasi menjadi Key Strategy yang sangat efektif dalam memutus siklus penyebaran DBD. Vaksin dengue yang tersedia saat ini dirancang untuk melindungi anak-anak dari empat jenis virus secara bersamaan, mengurangi kemungkinan infeksi berulang. Selain itu, vaksin ini juga membantu menurunkan keparahan penyakit jika anak masih tertular, terutama pada infeksi kedua. Menurut Prof Hartono, anak-anak yang divaksinasi lebih memiliki daya tahan yang baik, sehingga risiko rawat inap atau kematian akibat DBD berkurang secara signifikan. Key Strategy ini dianjurkan untuk diterapkan sejak usia 9 bulan hingga 12 tahun, sesuai dengan panduan IDAI.

Kombinasi Vaksinasi dan Pemberantasan Nyamuk

Prof Hartono menekankan bahwa Key Strategy pencegahan DBD tidak hanya bergantung pada vaksinasi, tetapi juga pada upaya mengendalikan nyamuk. "Vaksinasi dan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) harus dipadukan agar hasilnya maksimal," katanya. Nyamuk Aedes aegypti, yang menjadi vektor utama virus dengue, sering kali menginfeksi anak-anak di lingkungan rumah atau sekolah. Dengan menggabungkan kedua Key Strategy ini, risiko penyebaran DBD dapat ditekan secara signifikan. Selain itu, vaksinasi membantu mengurangi beban rumah sakit dan meningkatkan kualitas hidup anak-anak.

Langkah Praktis dalam Menerapkan Key Strategy Vaksinasi

Untuk menerapkan Key Strategy vaksinasi secara efektif, orang tua perlu memahami jadwal pemberian vaksin serta keuntungannya. Vaksin dengue diberikan dalam beberapa dosis, yang membantu membangun respons imun yang kuat. Selain itu, IDAI menyarankan bahwa vaksinasi sebaiknya dilakukan secara rutin, terutama di daerah dengan tingkat endemisitas DBD tinggi. Prof Hartono juga menambahkan bahwa Key Strategy ini harus didukung oleh edukasi masyarakat tentang cara mencegah gigitan nyamuk, seperti menggunakan kipas angin, jaring jendela, dan menghindari penggunaan air stagnan.

Manfaat Key Strategy yang Terukur

Vaksinasi tidak hanya mencegah infeksi, tetapi juga memberikan perlindungan jangka panjang yang lebih baik. Dengan memperkuat kekebalan tubuh melalui Key Strategy ini, anak-anak menjadi lebih terlindungi terhadap berbagai jenis virus dengue. Data menunjukkan bahwa vaksinasi mengurangi risiko rawat inap hingga 70% dan menurunkan angka kematian sebesar 90% pada kasus DBD. IDAI menegaskan bahwa Key Strategy vaksinasi adalah bagian dari upaya nasional untuk menekan kasus DBD di Indonesia, terutama di tengah meningkatnya populasi nyamuk dan fluktuasi penyebaran virus.

Penyakit Berbahaya yang Tidak Bisa Diabaikan

DBD tetap menjadi ancaman serius bagi anak-anak, terutama karena gejala awalnya sering kali diabaikan. Dalam beberapa hari setelah infeksi, gejala seperti demam tinggi, ruam, dan nyeri sendi bisa muncul, tetapi jika tidak segera diatasi, kondisi ini bisa memburuk menjadi DBD berat. Prof Hartono mengingatkan bahwa Key Strategy vaksinasi adalah langkah preventif yang tidak bisa dipisahkan dari upaya menangani DBD. "Anak-anak perlu dilindungi secara maksimal agar tidak terkena DBD berulang, yang berisiko mengganggu pertumbuhan dan kesehatan mereka," kata dia. Selain itu, vaksinasi juga berperan dalam mempercepat pemulihan dari penyakit ini.