Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Kenapa Gen Z Gampang Overthinking? Psikolog Ungkap Penyebab Utamanya

Published Mei 26, 2026 · Updated Mei 26, 2026 · By Sarah Hernandez

Kenapa Gen Z Gampang Overthinking? Psikolog Ungkap Penyebab Utamanya

Kenapa Gen Z Gampang Overthinking Psikolog - Generasi Z, yang terdiri dari remaja dan pemuda abad ini, sering dikaitkan dengan kebiasaan pikir yang berlebihan. Fenomena overthinking di kalangan Gen Z menjadi perbincangan hangat, terutama dalam konteks kesehatan mental dan pola hidup digital. Psikolog Klinis Veny Oktaviani menjelaskan bahwa kebiasaan ini bukan sekadar kebiasaan pribadi, tetapi memiliki akar yang dalam terkait perubahan lingkungan sosial dan teknologi. "Kita harus memahami bahwa Gen Z lahir di tengah dunia yang berbeda, dan itu memengaruhi cara mereka memproses informasi dan emosi," ujarnya dalam podcast Hola Dok pada Senin (25/5/2026).

Menurut Veny, media sosial menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan Gen Z rentan terhadap overthinking. Platform digital seperti Instagram, TikTok, dan Facebook memberi akses langsung ke pencapaian orang lain, yang bisa memicu perasaan tidak cukup atau kesalahan membandingkan diri sendiri. "Setiap hari, mereka melihat gambar yang menampilkan kehidupan sempurna, dan itu membuat mereka terus memikirkan hal-hal yang mungkin tidak relevan dengan kehidupan nyata," lanjutnya. Psikologi menyebutkan bahwa kebiasaan ini berkembang karena kebiasaan terus-menerus mengakses informasi dalam jumlah besar dan kecepatan tinggi.

"Gen Z tumbuh ketika media sosial sudah sangat masif. Mereka sangat terpapar dengan pencapaian orang lain yang terus muncul setiap hari," ujar Veny dalam podcast Hola Dok, Senin (25/5/2026).

Di samping media sosial, Veny menyoroti peran lingkungan keluarga dan pendidikan dalam memperparah kebiasaan overthinking. "Pemuda sekarang juga terbiasa menerima tekanan untuk sukses, baik dari orang tua maupun guru. Hal ini menyebabkan mereka merasa perlu terus memikirkan keputusan atau langkah-langkah yang diambil," jelasnya. Kebiasaan ini bisa terjadi karena adanya kebiasaan berpikir melalui lensa kritis yang dijaga sepanjang waktu, terutama dalam dunia yang kompetitif dan penuh persaingan.

Overthinking Bukan Diagnosis Klinis, Tapi Fenomena Umum

Overthinking sering disalahpahami sebagai gangguan mental, padahal secara psikologis, itu lebih tepat dianggap sebagai kebiasaan berpikir yang dominan di sebagian besar remaja dan dewasa muda. "Ini bukan kondisi klinis yang harus diobati, tetapi pola pikir yang bisa dikembangkan melalui latihan dan kesadaran diri," kata Veny. Meski tidak selalu menyebabkan gangguan seperti depresi atau kecemasan berat, kebiasaan ini bisa berdampak negatif jika tidak diatasi secara tepat.

Veny menambahkan bahwa Gen Z juga memiliki kebiasaan berpikir yang lebih terstruktur karena adanya kebiasaan mengakses informasi secara konsisten. "Mereka terbiasa memikirkan hal-hal sebelum melakukan tindakan, sehingga kecenderungan overthinking menjadi bagian dari cara mereka memahami dunia," terangnya. Kebiasaan ini bisa terjadi karena ada kebiasaan mengumpulkan data, menghimpun kekhawatiran, dan mencari solusi yang sempurna sebelum memutuskan sesuatu.

Dampak Overthinking pada Kesehatan Fisik dan Mental

Kebiasaan overthinking yang berlarut-larut bisa mengarah ke stres kronis, yang berpotensi merusak kesehatan fisik dan mental secara menyeluruh. "Stres yang terus-menerus membuat sistem kekebalan tubuh lemah, dan juga berdampak pada kualitas tidur, nafsu makan, serta perasaan putus asa," ungkap Veny. Menurutnya, kebiasaan ini sering kali mengikuti Gen Z ke berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan interpersonal, karier, dan kesehatan emosional.

Veny juga menyoroti hubungan antara overthinking dan perubahan suasana hati. "Ketika mereka terus-menerus memikirkan masalah, ini bisa memicu peningkatan hormon stres seperti kortisol, yang berdampak pada kelelahan dan kurangnya konsentrasi," terangnya. Selain itu, dampak berlebihan dari overthinking bisa membuat Gen Z sulit merasakan kepuasan dalam hidup, karena selalu mengejar standar yang sempurna atau ideal.

Menurut psikolog, Gen Z perlu belajar memisahkan antara realitas dan perasaan. "Mereka terbiasa memikirkan sesuatu dari sudut pandang yang sangat analitis, sehingga kecenderungan untuk menganalisis setiap kejadian hingga ke akar-akarnya menjadi kebiasaan yang mudah diikuti," jelas Veny. Ia menyarankan bahwa kemampuan untuk menenangkan pikiran adalah kunci untuk mengatasi kebiasaan ini secara efektif.

Strategi untuk Mengurangi Overthinking

Mengatasi overthinking di Gen Z memerlukan pendekatan yang berbeda, termasuk mengubah pola hidup digital dan mengelola emosi secara lebih baik. "Salah satu langkah paling efektif adalah membatasi penggunaan media sosial di waktu-waktu tertentu, terutama sebelum tidur," saran Veny. Ia juga menyarankan untuk mengajarkan teknik seperti mindfulness atau grounding, yang bisa membantu Gen Z kembali fokus pada momen sekarang.

Menurut Veny, kebiasaan overthinking bisa dikurangi melalui latihan refleksi diri dan membangun kebiasaan berpikir yang lebih terbuka. "Banyak dari mereka yang terbiasa berpikir dalam lingkup sempit, tetapi dengan membiasakan diri berpikir lebih luas, mereka bisa mengurangi kecemasan dan ketergantungan pada analisis berlebihan," terangnya. Psikolog menekankan bahwa Gen Z perlu diberi ruang untuk merasa aman dalam mengambil keputusan tanpa takut salah.

Salah satu cara lain yang bisa dilakukan adalah mengajarkan teknik berpikir positif dan mencari sumber inspirasi dari dalam diri. "Gen Z sering mengambil motivasi dari orang lain, tetapi membangun kepercayaan diri sendiri bisa menjadi jalan untuk mengurangi kecenderungan overthinking," kata Veny. Dengan memahami bahwa setiap keputusan mempunyai dampak baik maupun buruk, Gen Z bisa belajar untuk lebih santai dalam menghadapi masalah.