Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Daya Beli Melemah – Makki Ungu Ungkap Industri Musik Ikut Terpukul

Published Juni 8, 2026 · Updated Juni 8, 2026 · By Elizabeth Jones

Daya Beli Melemah, Makki Ungu Ungkap Industri Musik Ikut Terpukul

Daya Beli Melemah - Dalam kondisi ekonomi yang masih lesu, penurunan daya beli masyarakat berdampak signifikan pada industri musik Indonesia. Hal ini ditegaskan oleh Makki Ungu, bassis dari band Ungu, yang menyatakan bahwa sektor musik mengalami tekanan yang cukup besar akibat situasi ini. Daya beli melemah, yang mencerminkan perubahan pola konsumsi dan pengalihan kebutuhan, telah mengakibatkan penurunan pendapatan serta pengurangan frekuensi kegiatan ekonomi di seluruh rangkaian industri hiburan. Makki mengungkapkan bahwa industri musik, yang sebelumnya bergantung pada aktivitas konsumsi dan pertunjukan langsung, kini harus beradaptasi dengan dinamika yang lebih sulit.

Analisis Makki Ungu: Musik sebagai Kebutuhan Tersier

Makki Ungu, dalam wawancara dengan iNews Media Group (IMG), menjelaskan bahwa perlambatan ekonomi memengaruhi pola pengeluaran masyarakat. "Kami merasakan penurunan dalam frekuensi kegiatan ekonomi, terutama pada aspek pendapatan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa musik dan hiburan dikelompokkan sebagai kebutuhan tersier, sehingga saat daya beli melemah, pengeluaran untuk hal-hal ini seringkali diprioritaskan. Hal ini berdampak pada penurunan frekuensi pertunjukan dan peminjaman panggung, yang sebelumnya menjadi sumber utama pendapatan bagi musisi dan pengelola acara.

"Meningkatkan harga panggung atau produk terkait justru terkesan tidak logis sebagai solusi menghadapi kondisi ekonomi saat ini," tambah Makki. Ia menilai bahwa tindakan seperti ini hanya memperparah kesulitan para pelaku industri musik, karena justru mengurangi kemampuan masyarakat untuk mengakses hiburan secara berkala.

Kondisi Industri Musik Pasca-Pandemi

Industri musik Indonesia, yang sempat mengalami boom pasca-pandemi, kini kembali menghadapi tantangan besar akibat daya beli melemah. Masa transisi setelah krisis ekonomi global dan kenaikan inflasi menciptakan tekanan pada konsumen, termasuk penggemar musik. Makki menyoroti bahwa tren penurunan ini telah berlangsung beberapa bulan, dengan indikasi seperti penurunan jumlah konser, pengurangan promosi, dan keluhan dari penyelenggara acara tentang pendapatan yang tidak stabil. "Aktivitas ekonomi dalam industri musik mulai berubah, dan ini mencerminkan realitas yang harus diterima oleh seluruh pihak," jelasnya.

Industri musik juga mengalami perubahan struktur ekonomi. Banyak kreator musik yang sebelumnya bergantung pada pendapatan dari konser dan promosi langsung, kini terpaksa beralih ke model bisnis digital atau kolaborasi dengan platform streaming. Namun, kebijakan seperti kenaikan harga tiket konser atau biaya produksi yang tidak berbanding lurus dengan kenaikan pendapatan masyarakat justru memperketat kondisi ini. Makki menilai bahwa adaptasi terhadap situasi ekonomi yang terus berubah menjadi kunci untuk bertahan, meskipun membutuhkan inovasi dan strategi baru.

Daya beli melemah juga memengaruhi perilaku konsumen dalam membeli produk musik, seperti album dan single. Selain itu, kesulitan ekonomi memicu penurunan minat terhadap pertunjukan musik di ruang publik, termasuk konser dan festival. Makki menyatakan bahwa industri musik harus berusaha menawarkan nilai tambah, seperti kualitas hiburan yang lebih baik atau model pembayaran yang fleksibel, agar masyarakat tetap tertarik untuk mengakses musik secara berkala.

Perubahan ini juga berdampak pada interaksi antar-pihak dalam industri musik. Produksi musik yang sebelumnya mengandalkan dana besar untuk promosi dan acara kini harus lebih hemat, termasuk dalam penggunaan teknologi dan distribusi konten. Makki berharap adanya kesadaran kolektif dari seluruh lapisan industri untuk menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang terus mengalami pergeseran. "Daya beli melemah adalah fenomena yang tidak bisa dihindari, tetapi kita bisa mencari solusi yang lebih inklusif dan berkelanjutan," tambahnya.