5.000 Pasien Kanker Gaza Terjebak, Menunggu Pengobatan di Tengah Ancaman Kematian
5 000 Pasien Kanker Gaza Terjebak: Menunggu Pengobatan di Tengah Ancaman Kematian
Nusantaranews1.com – Di tengah krisis kesehatan yang semakin parah di Jalur Gaza, 5 000 Pasien Kanker Gaza kini tercatat sebagai kelompok yang paling terdampak. Mereka telah terdaftar sebagai calon penerima terapi di luar wilayah, namun masih menunggu izin keluar. Sementara itu, penyakit terus berkembang di dalam tubuh mereka tanpa penanganan yang memadai.
Menurut data dari pejabat kesehatan Palestina, total dua puluh ribu pasien telah didaftarkan untuk mendapatkan perawatan di luar Gaza. Dari jumlah tersebut, 5 000 Pasien Kanker Gaza merupakan kelompok terbesar yang menunggu giliran. Keterlambatan pengobatan bagi penderita kanker bukan hal yang sepele, karena waktu menjadi faktor kritis dalam menentukan prognosis penyakit.
Kondisi Khuloud Abu Sahmoud yang Semakin Memburuk
Pengalaman Khuloud Abu Sahmoud menjadi contoh nyata dari penderitaan yang dialami ribuan pasien. Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun ini menderita kanker ovarium stadium lanjut. Sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober, ia telah menantikan kesempatan untuk keluar dari Gaza guna menjalani perawatan di Mesir atau negara lain.
Setiap hari penyakit saya berkembang, dan kondisi saya tragis. Semua kuku saya telah rontok, saya tidak punya satu pun yang tersisa. Saya hanya menunggu untuk mati.
Kini, kanker yang dialaminya telah menyebar hingga ke paru-paru dan tulang. Pernyataan tersebut dikutip dari The Straits News pada Kamis, 13 Agustus 2026. Kondisi Khuloud mencerminkan apa yang dialami 5 000 Pasien Kanker Gaza secara keseluruhan.
Hancurnya Fasilitas Kanker Utama
Krisis kesehatan di Gaza semakin parah setelah Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, yang merupakan fasilitas khusus kanker di wilayah tersebut, hancur pada tahun 2025. Kehancuran ini membuat ribuan pasien kehilangan akses terhadap fasilitas khusus untuk mendapatkan perawatan kanker.
Dokter-dokter juga melaporkan bahwa rumah sakit yang masih beroperasi mengalami kekurangan berbagai kebutuhan medis penting. Perlengkapan yang diperlukan untuk diagnosis dan pengobatan kanker pun semakin langka. Bagi 5 000 Pasien Kanker Gaza, hal ini berarti pengobatan harus ditunda atau bahkan dihentikan sementara.
Meningkatnya Angka Kematian Pasien Kanker
Mohamed Abu Selmia, kepala Rumah Sakit Al Shifa, menjelaskan bahwa kondisi ini telah menyebabkan meningkatnya angka kematian pasien kanker. Ia menyebutkan bahwa mereka mencatat sejumlah besar kematian, berkisar tiga hingga lima setiap hari, karena pasien tidak menerima kemoterapi yang dibutuhkan untuk menyelamatkan nyawa mereka.
Angka tersebut meningkat dibandingkan sebelum perang. Sobhi Skaik, dokter bedah Palestina yang sebelumnya memimpin Rumah Sakit Persahabatan Turki-Palestina, mengatakan saat itu rata-rata satu hingga dua pasien kanker meninggal setiap hari.
Menurutnya, meningkatnya kematian terutama berkaitan dengan tidak tersedianya pengobatan kanker di Gaza dan sulitnya pasien mendapatkan akses keluar untuk menjalani terapi. 5 000 Pasien Kanker Gaza kini menghadapi realitas yang sulit: menunggu izin keluar sambil berjuang melawan penyakit yang terus berkembang.
FAQ: Pertanyaan Umum tentang Pasien Kanker Gaza
Berapa jumlah pasien kanker yang menunggu izin keluar dari Gaza? Saat ini, 5 000 Pasien Kanker Gaza tercatat sebagai calon penerima terapi di luar wilayah, menunggu izin untuk keluar.
Apa yang terjadi jika pasien kanker tidak mendapatkan pengobatan tepat waktu? Tanpa pengobatan yang memadai, kanker dapat menyebar ke organ lain dan meningkatkan risiko kematian. Pasien juga mengalami penurunan kualitas hidup yang signifikan.
Di mana pasien kanker Gaza biasanya mendapatkan perawatan? Pasien kanker Gaza umumnya mendapatkan perawatan di Mesir atau negara-negara tetangga lainnya setelah mendapatkan izin keluar.
Berapa rata-rata kematian pasien kanker per hari saat ini? Saat ini, rata-rata tiga hingga lima pasien kanker meninggal setiap hari di Gaza, meningkat dari satu hingga dua sebelum perang.
Bagi ribuan pasien kanker yang masih berada di Gaza, penantian untuk mendapatkan izin keluar menjadi perjuangan tersendiri. Mereka tidak hanya menunggu perjalanan menuju rumah sakit, tetapi juga menunggu kesempatan untuk kembali mendapatkan perawatan yang dapat membantu mempertahankan hidup mereka.