Inews Tv
⚡ Anda membaca versi AMP yang dioptimalkan — Lihat versi lengkap →
Inews Tv

Atap SMAN 7 Mataram Ambruk – Lima Siswa Terluka Tertimpa Reruntuhan

William Garcia ⏱ 3 min read

Insiden Atap Runtuh di SMAN 7 Mataram: Lima Siswa Terluka

Kondisi Saat Kejadian

Atap SMAN 7 Mataram ambruk pada Rabu, 20 Mei 2026, sekitar pukul 12.30 siang, saat siswa sedang melakukan istirahat setelah salat Zuhur. Kecelakaan ini terjadi di gedung utama sekolah, menyebabkan penutupan sebagian besar area dan mendorong ratusan murid berlarian ke luar. Reruntuhan dari genting dan balok kayu menimpa lima siswa, mengakibatkan beberapa luka ringan di area kepala dan tubuh. Insiden ini mengagetkan seluruh karyawan sekolah dan warga sekitar, yang bergerak cepat untuk mengamankan area serta memberi pertolongan pertama. Sementara itu, pihak sekolah segera menghubungi instansi terkait untuk menangani keadaan darurat.

Detil Kecelakaan dan Reaksi Awal

Atap SMAN 7 Mataram ambruk secara mendadak, tanpa peringatan sebelumnya. Menurut saksi mata, suara dentuman keras terdengar sebelum retakan mulai terlihat di atap. Beberapa siswa yang sedang berada di luar kelas langsung berlarian, sementara yang masih di dalam ruangan kewalahan mencari tempat aman. Kepala sekolah, Ridha Rosalina, mengatakan bahwa ia sempat memeriksa kondisi plafon sebelum jam pelajaran dimulai, tetapi tidak menemukan indikasi kerusakan serius. “Saya tidak pernah membayangkan kejadian ini akan terjadi, terutama saat siswa sedang istirahat,” ujarnya.

Kejadian atap SMAN 7 Mataram ambruk juga menyebabkan gangguan pada alur kegiatan belajar mengajar. Siswa yang tidak terluka langsung dievakuasi ke area aman, sementara lima korban dilarikan ke puskesmas terdekat menggunakan mobil ambulans. Kondisi mereka stabil, tetapi diperlukan pengawasan medis lebih lanjut. Kepolisian setempat, Polresta Mataram, juga tiba di lokasi untuk mengecek situasi dan mulai menyelidiki penyebab kejadian tersebut.

Analisis Penyebab dan Kondisi Bangunan

Atap SMAN 7 Mataram ambruk diduga terjadi karena usia bangunan yang telah mencapai sekitar dua dekade. Kepala sekolah mengungkapkan bahwa struktur bangunan ini sudah mulai menunjukkan tanda-tanda usang, seperti retakan di dinding dan pelapukan pada material atap. Meski pihak sekolah rutin melakukan perawatan, namun ada kemungkinan faktor cuaca ekstrem atau beban berlebihan yang memperparah kondisi. Penyelidikan terus berlangsung, dengan polisi dan tim inspeksi teknis mengecek semua bagian bangunan untuk menentukan akar masalah.

Dalam pemeriksaan awal, petugas menemukan bahwa struktur atap tidak mengalami perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Tim teknis juga menemukan bahwa beban pada atap mungkin meningkat karena penambahan ruangan atau peralatan baru. “Kami sedang menganalisis data teknis dan membandingkannya dengan standar konstruksi,” jelas Ridha. Kecelakaan ini memicu perhatian publik, terutama karena SMAN 7 Mataram adalah sekolah yang memiliki jumlah siswa cukup besar.

Langkah Penanganan dan Upaya Pemulihan

Setelah kejadian atap SMAN 7 Mataram ambruk, pihak sekolah segera mengambil langkah-langkah darurat. Kegiatan belajar mengajar dialihkan ke ruang perpustakaan sementara, sementara tim relawan dari warga sekitar dan guru membantu menyelamatkan siswa yang terluka. Selain itu, kepolisian Mataram melakukan investigasi untuk memastikan apakah ada kesalahan konstruksi atau kecerobohan dalam penggunaan bangunan.

Atap SMAN 7 Mataram ambruk juga memicu peninjauan kembali kebijakan penggunaan gedung sekolah. Pihak dinas pendidikan setempat berencana melakukan inspeksi menyeluruh dan memastikan semua sekolah melakukan evaluasi rutin terhadap infrastruktur. “Kami berharap kejadian ini menjadi pelajaran agar semua sekolah lebih waspada terhadap risiko struktural,” tutur salah satu pejabat pendidikan. Selain itu, sejumlah siswa yang terluka kini dalam pemulihan, sementara beberapa orang tua siswa meminta pemerintah memberikan pertanggungan jawab atas kejadian tersebut.

Respon dari Masyarakat dan Pers

Atap SMAN 7 Mataram ambruk menjadi sorotan media lokal dan warga sekitar. Berbagai situs berita dan media sosial membagikan video dan foto dokumentasi kejadian, menyebarluaskan informasi ke publik. Masyarakat menyoroti pentingnya memperbaiki bangunan sekolah yang sudah usang, terutama di daerah dengan iklim tropis yang rentan terhadap cuaca ekstrem. Beberapa warga menyampaikan dukungan kepada pihak sekolah dan berharap proses investigasi dapat menemukan solusi jangka panjang.

Dalam wawancara dengan media, Ridha Rosalina menegaskan bahwa kejadian ini tidak terlepas dari kebijakan penggunaan bangunan. “Kami sudah memperbaiki atap beberapa kali, tetapi karena anggaran terbatas, tidak semua bagian bisa diperbaiki

Bagikan artikel ini