Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

What Happened During: Heboh Pocong Bawa Celurit di Probolinggo, Kabur saat Dikepung Warga

Published Mei 26, 2026 · Updated Mei 26, 2026 · By Sarah Hernandez

Heboh Pocong Bawa Celurit di Probolinggo: Kabur saat Dikepung Warga

Kota Probolinggo, Jawa Timur

What Happened During – Sebuah insiden mengejutkan terjadi di lingkungan Gang Tajungan, Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, Jawa Timur, pada Selasa (26/5/2026) dini hari. Warga setempat terkejut melihat sosok yang disebut sebagai pocong muncul di dekat area pemakaman, menambah kekacauan karena dianggap sebagai simbol gaib yang sering dikaitkan dengan kejadian misterius. Sosok ini terlihat memegang celurit, senjata tajam yang biasanya digunakan dalam aksi kejahatan, memperkuat persepsi bahwa kejadian ini bukan sekadar alur cerita yang menakutkan, melainkan kejadian nyata yang memerlukan perhatian serius.

Menurut pengakuan warga, kejadian ini dimulai saat dua orang pria tak dikenal muncul di sekitar sepeda motor. Mereka dianggap sebagai bagian dari komplotan yang menggunakan ilmu hitam untuk menakuti dan mengganggu ketenangan warga. Pocong yang dianggap muncul di dekat pemakaman tersebut menjadi alat penakut mereka, menghiasi jalan tembusan yang sering dilewati oleh orang-orang di siang dan malam hari. Sosok tersebut dianggap memiliki kemampuan memengaruhi pikiran, mengakibatkan kecemasan yang berlebihan di kalangan warga.

Detail Kejadian dan Reaksi Warga

What Happened During – Insiden ini semakin memanas saat warga mengejar dua pelaku yang berpakaian putih. Mereka kabur dengan berboncengan tiga (cengtri) menggunakan sepeda motor, menyusuri jalur yang terkesan gelap dan terpencil. Kekhawatiran warga mencapai puncaknya karena sosok pocong tersebut bisa saja menjadi pengalih atau alibi untuk menghindari penangkapan. Seorang warga, Suleha, mengungkapkan bahwa masyarakat awalnya ragu, namun rasa kecemasan akhirnya mengarah pada tindakan bersama.

"Saat pocong itu muncul di dekat pemakaman, segerombolan warga langsung mengejar mereka. Kita sudah lama mengira ini hanyalah mitos, tapi kejadian ini membuktikan bahwa pocong bisa jadi alat penakut untuk menipu," tutur Suleha. Menurutnya, kejadian ini menggambarkan kegundahan warga yang merasa tidak aman di lingkungan mereka. Pemakaman menjadi lokasi krusial karena dianggap tempat berkumpulnya energi gaib, dan penampilan pocong dengan celurit menjadi bukti bahwa kejahatan bisa terjadi kapan saja, bahkan di area yang dianggap beruntung.

Kecurigaan terhadap keberadaan pocong tersebut semakin menguat setelah warga menemukan jejak langkah atau bukti-bukti sederhana seperti buah yang ditinggalkan di sekitar tempat kejadian. Banyak warga mempercayai bahwa pocong yang muncul adalah bagian dari ritual yang dijalankan oleh para pelaku untuk mengganggu ketenangan. Namun, ketika jumlah warga meningkat, pelaku akhirnya melarikan diri, menunjukkan bahwa kejadian ini bukan hanya percayaan, tetapi juga kenyataan yang bisa dikenali.

What Happened During – Setelah kejadian tersebut, warga berusaha mencari tahu lebih jauh. Mereka membagi informasi keberadaan pocong kepada tetangga sekitar, memicu perdebatan antara yang percaya pada mitos dan yang berpikir ini adalah upaya kejahatan. Banyak yang menyatakan bahwa kejadian ini memberikan pelajaran penting: tidak boleh terlalu percaya pada penampakan, tetapi tetap waspada terhadap tindakan nyata yang bisa membahayakan.

Menanggapi kejadian ini, Kasi Humas Polres Probolinggo Kota, Iptu Zainullah, mengatakan bahwa polisi telah mengecek video yang beredar di media sosial dan menginvestigasi CCTV di sekitar lokasi. Tim reserse kriminal sedang memverifikasi detail kejadian, termasuk mengungkap identitas pelaku yang menggunakan pocong sebagai alat intimidasi. "Kita mengapresiasi keberanian warga yang mengejar pelaku, meski sebelumnya mereka ragu-ragu. Ini menunjukkan bahwa komunitas tetap bisa mengatasi ancaman," jelas Zainullah. Polisi berharap kejadian ini tidak mengulangi kejadian serupa di masa depan.

Sebagai langkah pencegahan, warga Gang Tajungan sepakat memperkuat sistem keamanan lingkungan (Siskamling) dan rutin melakukan ronda malam. Mereka berharap polisi segera mengungkap identitas para pelaku teror yang menggunakan pocong sebagai alat penakut. Dengan peningkatan pengawasan, warga berharap situasi kamtibmas di Kelurahan Mayangan kembali stabil. "Kita harus waspada, karena What Happened During di tempat ini bisa terjadi kapan saja," tambah warga lainnya, Budi.

Insiden ini juga memicu pembahasan di antara warga tentang pentingnya pendidikan keamanan dan mitos. Banyak yang berpikir bahwa pocong bukan hanya simbol gaib, tetapi juga bisa menjadi bagian dari upaya mengganggu keamanan. Dengan adanya kejadian ini, warga berharap pihak kepolisian bisa mengedukasi masyarakat tentang perbedaan antara mitos dan fakta, serta mengambil tindakan lebih aktif untuk mencegah serupa terjadi lagi. "Kita tidak ingin menganggap ini hanya sebagai permainan, tapi ini adalah bagian dari kehidupan sehari-hari yang bisa berdampak serius," pungkas Saturi, Ketua RT setempat.