Terungkap Motif Pria Bunuh Selingkuhan di Kamar Hotel Makassar – Pelaku Cemburu
Terungkap Motif Pria Bunuh Selingkuhan di Kamar Hotel Makassar, Pelaku Cemburu
Terungkap Motif Pria Bunuh Selingkuhan di Kamar - Motif pembunuhan terungkap setelah polisi mengungkap kasus kematian ibu rumah tangga (IRT) yang ditemukan tewas di kamar hotel Makassar, Sulawesi Selatan. Pria berinisial EBO (40) ditemukan menjadi tersangka setelah petugas menginvestigasi penemuan jenazah korban di Jalan Sungai Saddang Baru pada Rabu (20/5/2026) malam. Dalam penyelidikan awal, tim gabungan Resmob Polda Sulsel dan Jatanras Polrestabes Makassar mengungkap bahwa EBO mengakhiri nyawa MH (40) dengan cara memberikan obat antinyeri secara tidak sengaja, sebagai bentuk ekspresi rasa cemburu yang meledak.
Deteksi Awal dan Proses Investigasi
Kematian MH mendadak menarik perhatian polisi karena kondisi korban tidak menunjukkan tanda-tanda kecelakaan atau luka-luka lainnya. Setelah melakukan pemeriksaan medis dan menyita barang bukti, penyidik memutuskan bahwa obat antinyeri yang diberikan EBO menjadi penyebab langsung kematian korban. Dalam pengakuan tersangka, ia mengatakan telah menyuntikkan empat butir obat ke dalam air minum korban sebelum korban kehilangan kesadaran dan meninggal di dalam kamar.
Menurut Kanit Resmob Polda Sulsel, AKP Wawan Suryadinata, keterlibatan EBO dalam kasus ini bermula dari hubungan asmara yang rumit antara korban dan pelaku. "Motif utama pembunuhan adalah karena rasa cemburu yang dalam, di mana pelaku merasa tidak terima dengan hubungan selingkuh korban dengan pria lain," jelasnya. Investigasi juga menemukan bahwa korban dan pelaku memiliki status hubungan yang berbeda, dengan EBO memiliki pasangan sendiri, sementara korban sedang menjalin hubungan dengan seseorang yang dikenal oleh pelaku.
Analisis Penyebab Kematian dan Bukti Keterlibatan
Dalam penyelidikan lebih lanjut, polisi menemukan bukti-bukti keterlibatan EBO sebagai pelaku utama. Berdasarkan laporan keterangan saksi dan analisis forensik, obat antinyeri yang diberikan oleh pelaku tidak hanya menyebabkan kematian korban, tetapi juga menjadi alat untuk menutupi perasaan cemburu yang memicu tindakan ekstrem tersebut. "Dugaan sementara korban meninggal karena overdosis obat yang ditambahkan ke dalam air minum, yang diduga dimaksudkan untuk menghentikan hubungan asmara dengan pria lain," terang AKP Wawan.
Kasus ini memicu reaksi dari masyarakat setempat, yang mengecam tindakan kekerasan terhadap perempuan dalam lingkungan rumah tangga. Selain itu, para tetangga mengungkapkan bahwa EBO sering kali menunjukkan sikap tidak puas dengan status hubungan korban. "Saya lihat dia selalu merasa tidak nyaman saat korban berselingkuh," kata seorang warga setempat. Polisi juga menegaskan bahwa kasus ini masuk dalam kategori kejahatan berdasarkan emosi, yang perlu mendapat perhatian khusus dalam upaya pencegahan kekerasan terhadap perempuan.
Sebagai bagian dari proses penyidikan, petugas meminta keterangan dari keluarga korban dan teman-teman dekat. MH dikenal sebagai ibu rumah tangga yang aktif di lingkungan sosial, terutama dalam kegiatan keagamaan. Menurut saudara perempuan korban, MH terlihat bahagia sebelum kejadian tersebut. "Kemarin dia masih semangat mengajak kami beribadah, tapi hari ini dia sudah tidak ada lagi," kata sumber terdekat. Motif pembunuhan yang terungkap ini juga menjadi perbincangan di media sosial, dengan masyarakat mempertanyakan apakah rasa cemburu bisa menjadi penyebab kekerasan yang sangat berat seperti ini.
Pelaku, EBO, telah diperiksa secara intensif oleh tim penyidik. Ia mengakui bahwa rasa cemburu terhadap selingkuhan korban memicu tindakan pembunuhan. Dalam wawancara, EBO mengungkapkan bahwa ia sempat meminta korban untuk berhenti berselingkuh, tetapi korban menolak. "Saya tidak bisa menahan rasa marah dan cemburu lagi, jadi saya mengambil tindakan ekstrem," ujarnya. Polisi juga sedang mengejar saksi-saksi lain yang bisa memberikan informasi lebih lanjut tentang hubungan antara korban, pelaku, dan pihak ketiga yang terlibat.
Kasus ini menjadi contoh nyata bagaimana rasa cemburu bisa berubah menjadi tindakan kekerasan yang mengancam nyawa. Meski kejadian terjadi di kamar hotel, kekerasan tersebut bermula dari konflik internal dalam rumah tangga. Dengan diteruskannya kasus ke jalur hukum, polisi berharap dapat memberikan keadilan kepada korban dan mencegah terjadinya kejadian serupa di masa depan. Selain itu, kasus ini juga menyoroti pentingnya pendidikan emosional dan penanganan konflik sejak dini.