Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Main Agenda: Jemaah Syattariyah di Tanah Datar Baru Laksanakan Salat Iduladha Hari Ini

Published Mei 29, 2026 · Updated Mei 29, 2026 · By Jessica Moore

Jemaah Syattariyah Tanah Datar Laksanakan Salat Iduladha Hari Ini

Main Agenda - Salat Iduladha hari ini menjadi bagian dari Main Agenda utama dalam kehidupan masyarakat Syattariyah di Tanah Datar, Sumatera Barat. Ribuan jemaah yang mengikuti tradisi unik ini berkumpul di Masjid Nurul Hidayah, Jorong Gunung Bungsu, Nagari Batipuh Baruah, Kecamatan Batipuh, untuk melaksanakan salat secara berjemaah. Perayaan ini diadakan lebih awal dibandingkan pengumuman resmi pemerintah, yang sebelumnya menetapkan hari raya Iduladha pada 29 Mei 2026.

Tradisi Unik yang Diwariskan Turun-temurun

Salat Iduladha yang dilakukan oleh jemaah Syattariyah menunjukkan kekhasan dalam ritual keagamaan. Meski bentuknya serupa dengan salat Iduladha umum, kegiatan ini mencakup penjelasan dalam bahasa Arab yang lebih mendalam, serta penggunaan naskah khutbah yang ditulis oleh para ulama terdahulu. Main Agenda ini menjadi bagian dari warisan budaya yang dipertahankan selama berabad-abad, dengan perhitungan waktu berdasarkan hadis Nabi dan siklus bulan Hijriah.

Meski pemerintah menggunakan metode hisab dan pengamatan hilal untuk menetapkan awal bulan Hijriah, jemaah Syattariyah mengandalkan sistem penanggalan yang berbeda. Para imam dan tokoh masyarakat menyatakan bahwa perhitungan mereka berlandaskan pada hadis yang diterima sejak awal Ramadan. Hal ini menjadikan Main Agenda penentuan hari raya Iduladha mereka lebih spesifik, dengan ritual diatur secara ketat berdasarkan prinsip-prinsip agama yang diwariskan turun-temurun.

Keterlibatan Komunitas dan Pengaruhnya

Komunitas Syattariyah di Tanah Datar telah merata hampir di seluruh kecamatan. Mereka menjaga ritual keagamaan yang konsisten, termasuk cara menentukan hari raya Iduladha dan Idulfitri. Selama perayaan hari ini, suasana di Masjid Nurul Hidayah penuh dengan kekaguman dan kebersamaan, di mana jemaah berusaha memenuhi Main Agenda dengan penuh semangat. Selain itu, kegiatan ini juga menarik perhatian masyarakat umum yang ingin memahami lebih dekat tradisi unik ini.

Dalam wawancara dengan Jonita Sofia Amri, Imam Masjid Nurul Hidayah, dijelaskan bahwa sistem penanggalan mereka tidak hanya berdasarkan hadis, tetapi juga dipengaruhi oleh kepercayaan pada keharmonisan alam semesta. "Main Agenda penentuan hari raya Iduladha oleh kita berbeda dari pendekatan resmi pemerintah, karena kami mengutamakan keakuratan sesuai al-Qur'an dan hadis," ujarnya. Hal ini menunjukkan bahwa jemaah Syattariyah memiliki kepercayaan kuat pada tradisi yang telah dijalankan selama ratusan tahun.

Antusiasme dan Persiapan di Lokal

Antusiasme masyarakat dalam mengikuti Main Agenda salat Iduladha terlihat dari persiapan yang matang di masjid dan tempat ibadah lainnya. Jemaah tidak hanya memenuhi kebutuhan fisik seperti makanan dan pakaian, tetapi juga mempersiapkan diri secara spiritual dengan membaca doa-doa khusus sebelum salat. Selain itu, kegiatan ini dihiasi dengan khotbah yang menggambarkan makna ibadah haji dan kurban dalam konteks kehidupan sehari-hari.

Main Agenda ini juga menjadi ajang memperkuat persaudaraan dalam komunitas Syattariyah. Para jemaah saling bantu membantu, baik dalam mengatur urutan salat maupun membagikan makanan yang dibawa dari rumah. Meskipun cara penentuan hari raya berbeda, mereka tetap memperhatikan keakuratan dan konsistensi dalam melaksanakan salat berjemaah. Hal ini mencerminkan sikap penuh kepercayaan mereka pada tradisi yang diwariskan leluhur.

Kelancaran Main Agenda salat Iduladha hari ini di Tanah Datar menunjukkan bahwa komunitas Syattariyah telah membangun sistem yang cukup efektif. Mereka tidak hanya menjaga keakuratan perhitungan, tetapi juga memastikan kehadiran jemaah dalam jumlah besar. Dengan menjalankan Main Agenda ini, mereka mencoba menyeimbangkan antara tradisi dan modernitas, sambil tetap mempertahankan nilai-nilai keagamaan yang diwariskan sejak zaman dahulu.