Facing Challenges: Pengakuan Kades di Jombang soal Koperasi Desa Belum Buka meski Sudah Diresmikan Presiden
Kades Jombang: Koperasi Desa Belum Buka Meski Diresmikan Presiden
JOMBANG
Facing Challenges menghadang para pengurus Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) di Kabupaten Jombang, Jawa Timur, meski sejumlah koperasi telah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 16 Mei 2026. Dalam waktu kurang dari seminggu setelah acara tersebut, sekitar 80 koperasi ini belum mampu beroperasi secara penuh, dengan toko-toko tetap tertutup di beberapa desa. Para pengurus mengungkapkan adanya kendala dalam penentuan harga jual dan kelengkapan stok barang yang menjadi penentu kapan koperasi dapat dimulai menjalankan fungsinya.
Tantangan Utama dalam Operasional Koperasi Desa
Pengakuan dari Kades Mojongapit, Iskandar Arif, mengungkapkan bahwa meskipun kegiatan peresmian berlangsung sukses, persiapan operasional koperasi masih butuh waktu. "Kami sudah siap bekerja, tapi masih menunggu instruksi dari pusat, khususnya PT Agrinas," katanya. Iskandar menjelaskan bahwa harga barang ditentukan oleh pihak pusat, sehingga keputusan untuk membuka toko secara resmi tertunda hingga ada kepastian tentang harga yang dianggap adil oleh seluruh koperasi.
Iskandar mengatakan, setiap hari para pengurus dan karyawan datang ke tempat kerja, namun operasional fisik belum bisa dijalankan karena menunggu arahan lebih lanjut. "Harga yang ditetapkan dianggap meratakan pengelolaan di seluruh desa," tambahnya.
Kelengkapan stok barang juga menjadi salah satu challenges yang dihadapi. Meski sejumlah kebutuhan pokok seperti minyak goreng sudah tersedia, barang seperti gas elpiji masih belum mencapai titik optimal. "Saat ini di koperasi kami belum ada gas, meski minyak goreng sudah ada," ujarnya. Iskandar mengungkapkan kekhawatiran bahwa harga yang belum pasti akan mengurangi minat masyarakat untuk berbelanja.
Dampak pada Masyarakat Lokal
Para warga desa mengharapkan koperasi ini bisa segera beroperasi untuk mendukung ekonomi lokal. Namun, kesabaran mereka teruji karena keterlambatan pembukaan. "Kami menunggu kepastian agar bisa memanfaatkan koperasi untuk kebutuhan sehari-hari," kata salah satu warga Mojongapit. Di sisi lain, pihak desa menyatakan akan tetap optimis meski menghadapi challenges dalam menyeimbangkan antara harga yang terjangkau dan kestabilan pasokan barang.
Seorang warga lainnya, Siti Aminah, mengungkapkan bahwa saat peresmian, toko koperasi sempat ramai. Namun, setelah acara berakhir, transaksi kembali menurun. "Masyarakat tetap percaya, tapi perlu waktu untuk menyesuaikan harga yang diharapkan," tambahnya.
Koperasi desa ini diharapkan menjadi pusat distribusi barang dengan harga lebih terjangkau, mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap pasar umum. Namun, challenges yang dihadapi saat ini membuat harapan tersebut masih terkendala. Kades lain di Jombang juga menyatakan bahwa mereka terus berupaya agar program ini bisa berjalan lancar, meski perlu waktu untuk menyelesaikan masalah di level operasional.