Nusantaranews1
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Banjir Bandang Terjang 5 Desa di Gorontalo Utara – Tinggi Air Capai 2 Meter

Published Mei 28, 2026 · Updated Mei 28, 2026 · By Sarah Smith

Banjir Bandang Terjang 5 Desa di Gorontalo Utara, Tinggi Air Capai 2 Meter

Peristiwa Melanda Wilayah Pesisir dan Pertanian

Banjir Bandang Terjang 5 Desa di Gorontalo - Sebuah bencana alam berupa banjir bandang yang mengguncang wilayah Gorontalo Utara kembali terjadi pada Selasa, 26 Mei 2026. BNPB melaporkan bahwa kejadian ini menyebabkan lima desa di Kecamatan Biau terendam air, dengan ketinggian mencapai 40 hingga 200 sentimeter. Banjir ini tidak hanya merusak permukiman warga, tetapi juga mengganggu akses jalan desa, memaksa beberapa warga mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Banjir bandang terjadi setelah curah hujan tinggi mencapai puncak dalam beberapa hari terakhir, memicu meluapnya Sungai Didingga.

Pelaku dan Dampak pada Ekonomi Masyarakat

Banjir bandang yang terjadi di lima desa tersebut menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur pertanian dan permukiman. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, mengatakan bahwa banjir bandang menghancurkan puluhan hektar sawah dan mengubur rumah-rumah warga. "Dari lima desa yang terkena, warga sebanyak 529 kepala keluarga terdampak, sementara akses jalan desa terganggu hingga hari ini," tambah Abdul Muhari dalam konferensi pers Rabu (27/5/2026). Dampak ekonomi terutama dirasakan oleh para petani, yang kehilangan sebagian besar hasil panen mereka.

“Banjir bandang terjadi tiba-tiba, membuat warga terkejut. Kami sedang melakukan evakuasi darurat dan mengawasi kondisi daerah terdampak, karena risiko banjir susulan masih tinggi,” jelas Abdul Muhari. Menurutnya, curah hujan yang deras selama tiga hari terakhir menjadi penyebab utama bencana ini.

Upaya Penanggulangan dan Kerja Sama Antarinstansi

Tim penanggulangan bencana dari BPBD Gorontalo Utara segera bergerak untuk mengatasi situasi darurat. Mereka menyisir area banjir dan membantu warga menyelamatkan barang-barang berharga serta mengungsi ke tempat yang lebih aman. Selain itu, petugas dari Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat serta organisasi bantuan masyarakat juga terlibat dalam upaya pemulihan. Jumlah warga yang terdampak mencapai sekitar 1.500 orang, dengan 500 rumah rusak parah.

Pemerintah setempat berupaya mempercepat distribusi bantuan logistik seperti makanan, air minum, dan tenda pengungsian. Banjir bandang juga memaksa sekolah-sekolah di daerah terkena mengalami gangguan, dengan sekitar 300 anak terpaksa belajar di tempat lain. "Banjir bandang ini menguras energi warga, tetapi kita bersyukur hingga kini belum ada korban jiwa yang dilaporkan," kata salah satu petugas penanggulangan, Suryadi.

“Kami sedang membangun sistem pengendalian aliran air untuk mencegah banjir susulan. Selain itu, para warga diimbau untuk memperkuat tanggul rumah dan memindahkan barang-barang penting ke ketinggian,” ujar Suryadi. Pemerintah daerah juga berkoordinasi dengan pihak TNI dan Polri untuk memastikan keselamatan warga.

Latar Belakang dan Penyebab Banjir Bandang

Sebelumnya, wilayah Gorontalo Utara kerap menjadi sasaran banjir bandang akibat kondisi geografis yang berupa lereng gunung yang curam dan daerah dataran rendah. Kecamatan Biau, yang merupakan salah satu wilayah terdampak, memiliki sifat geologis rentan terhadap aliran air deras. Banjir bandang ini juga dipicu oleh hujan intensitas tinggi yang terjadi sejak awal Mei 2026, menyebabkan permukaan air sungai meningkat drastis.

Kepala Dinas Sumber Daya Air Gorontalo Utara, Arief Wijaya, menjelaskan bahwa curah hujan mencapai 300 mm dalam satu hari, melebihi rata-rata tahunan. "Banjir bandang yang terjadi di lima desa ini adalah salah satu dari sekian banyak peristiwa yang terjadi di wilayah pesisir Gorontalo Utara, yang selama ini belum memiliki sistem drainase memadai," katanya. Menurut Arief, air sungai meluap karena peningkatan aliran yang tidak terduga, sehingga membutuhkan penanganan darurat yang cepat.

Kondisi Pasca-Banjir dan Persiapan untuk Musim Hujan

Setelah air mulai surut, para warga mulai membersihkan rumah dan menyusun rencana pemulihan. Pemerintah daerah berupaya memperbaiki jalan desa dan menormalisasi aliran air sungai. Namun, banjir bandang yang melanda lima desa tersebut masih menyisakan ketakutan di kalangan masyarakat, terutama karena kemungkinan banjir susulan. "Kami tetap siaga, karena hujan deras bisa kembali terjadi dalam waktu dekat," kata Abdul Muhari.

Kebencanaan banjir bandang juga mengingatkan pentingnya perencanaan kota yang lebih baik, terutama di daerah rawan banjir. Para ahli mengatakan bahwa pengembangan daerah pesisir perlu disertai dengan sistem pengendalian aliran air dan drainase yang efektif. "Banjir bandang di lima desa ini menjadi pelajaran berharga bagi warga dan pemerintah," ungkap pakar lingkungan, Ida Nurfitri. Dengan peningkatan kesadaran masyarakat, harapan untuk mengurangi dampak bencana di masa depan menjadi lebih tinggi.