News

Main Agenda: Wamentan Sudaryono Bantah Kabur saat Diskusi di UGM, Tegaskan Siap Dialog dengan Siapa pun

Daftar Isi
  1. Wamentan Sudaryono Bantah Kabur, Tegaskan Siap Dialog dengan Siapa Saja
  2. Konteks Diskusi dan Tujuan Main Agenda

Wamentan Sudaryono Bantah Kabur, Tegaskan Siap Dialog dengan Siapa Saja

Main Agenda – JAKARTA – Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono, hadir dalam diskusi yang digelar di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada Senin (15/6/2026) malam. Acara ini bertajuk “Kopdar Bareng Mas Dar” dan diikuti oleh Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, serta Menteri ATR/BPN, Nusron Wahid. Kehadiran mereka bertujuan untuk menegaskan komitmen pemerintah dalam mengadakan dialog terbuka dengan elemen masyarakat, termasuk kalangan akademisi.

Konteks Diskusi dan Tujuan Main Agenda

Menurut Sudaryono, diskusi di UGM merupakan bagian dari Main Agenda untuk memperkuat komunikasi antara pemerintah dan lingkaran akademisi. “Kita bertiga hadir di sini untuk menjelaskan kebijakan, menerima masukan, dan menjaga keterbukaan dalam berdiskusi,” jelasnya. Ia menekankan bahwa forum ini dirancang sebagai ruang demokratis, di mana peserta bisa menyampaikan pertanyaan atau kritik secara bebas tanpa adanya batasan.

“Diskusi sebelumnya berjalan lancar, dengan sistem sosial yang memadai. Kami sudah mempersiapkan berbagai topik untuk dibahas, termasuk kebijakan pertanian dan pengentasan kemiskinan. Pihak UGM sudah memberikan izin, dan kami optimis bisa mendapatkan masukan yang bermanfaat,” ujar Sudaryono.

Intervensi dan Tindakan yang Terjadi

Saat diskusi berlangsung, Sudaryono mengakui adanya gangguan dari sekelompok orang yang ingin memutus alur komunikasi. “Ada pihak yang sengaja mengganggu agar diskusi tidak berjalan optimal. Mereka melempar air dan melakukan tindakan fisik, membuat suasana sedikit memanas,” terangnya. Meski demikian, ia tidak menganggap hal itu sebagai alasan untuk meninggalkan lokasi. “Kami tetap ingin menjelaskan apa yang belum terungkap, meski ada tekanan dari luar,” tambahnya.

“Ini bagian dari proses demokratis, di mana setiap pihak bisa memberikan masukan. Kami siap mengakui kesalahan jika ada, dan terus berupaya memperbaiki kebijakan bersama masyarakat,” katanya.

Respons dari Pihak Luar dan Harapan

Berdasarkan laporan, setelah meninggalkan lokasi, rombongan mengalami hambatan saat berusaha pulang. “Di saat pulang, mobil kami dicegat, lalu dicari-cari, akhirnya harus keluar,” ujarnya. Menurut Sudaryono, situasi ini menunjukkan adanya upaya untuk mengganggu alur Main Agenda yang ingin dijalankan. “Kami berharap, kehadiran di UGM bisa menjadi awal dari banyak dialog yang akan terus berlangsung,” pungkasnya.

Di sisi lain, Sudaryono mengapresiasi keikutsertaan peserta yang tetap bersikap konstruktif. “Banyak dari mereka ingin bertanya, memberikan saran, atau menghakimi. Itu bagus, tapi karena ada pihak yang mengganggu, diskusi sempat terhenti,” katanya. Ia berharap peristiwa ini tidak mengurangi semangat pemerintah untuk terus terbuka dalam berdialog dengan siapa pun.

“Kami yakin, kehadiran di UGM adalah bukti bahwa pemerintah ingin menjaga komunikasi yang baik. Dialog terbuka adalah kunci untuk menyelesaikan berbagai isu yang ada,” ujarnya.

Sebagai bagian dari Main Agenda, kegiatan ini diharapkan bisa menjadi contoh bagus dalam menjaga keseimbangan antara pemerintah dan masyarakat. Sudaryono menegaskan bahwa proses dialog akan terus dilakukan, baik di Jakarta maupun di luar kota. “Mau di mana pun, saya siap jika diundang. Karena intinya, kita ingin mendengar, memperbaiki, dan menerima kritik dari siapa pun,” jelasnya.

Leave a Comment