Prabowo Sebut Ada yang Bilang RI Bakal Kolaps: Rakyat Desa Tak Pakai Dolar
Prabowo Sebut Ada yang Bilang RI bakal – Dalam pidato terbarunya, Prabowo Subianto menyoroti kekhawatiran sebagian pihak yang menyebut Indonesia mungkin mengalami kecolapan akibat melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pernyataan ini muncul saat ia menghadiri acara peresmian Museum Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, pada Sabtu (16/5/2026). Menurut Prabowo, kritik tersebut tidak sepenuhnya tepat karena sebagian besar masyarakat pedesaan di Indonesia masih mempertahankan penggunaan rupiah sebagai alat transaksi utama.
Penjelasan terkait Stabilitas Ekonomi
Prabowo mengungkapkan bahwa kenaikan nilai dolar AS tidak secara langsung memengaruhi kehidupan sehari-hari rakyat desa. “Ada yang bilang RI bakal kolaps karena rupiah keok, tapi itu tidak sepenuhnya benar,” tegasnya. Ia menjelaskan bahwa peran mata uang asing dalam perekonomian nasional justru lebih terasa pada sektor-sektor tertentu, seperti perdagangan internasional atau investasi. Namun, bagi masyarakat pedesaan yang mayoritas beraktivitas di tingkat lokal, rupiah tetap menjadi mata uang utama yang digunakan sehari-hari.
Menurut data dari Badan Pusat Statistik (BPS), sekitar 70 persen transaksi di pedesaan Indonesia masih menggunakan rupiah, sementara penggunaan dolar AS lebih dominan di kota besar atau sektor usaha skala besar. Prabowo menegaskan bahwa ketergantungan rakyat desa pada rupiah justru menjadi bukti stabilitas perekonomian di daerah. “Kita harus mengenali bahwa rakyat di desa tidak sepenuhnya tergantung pada dolar, dan itu adalah bukti bahwa Indonesia masih kuat,” imbuhnya.
Peran Pemimpin dalam Mempertahankan Kestabilan
Prabowo tidak hanya menyebut dampak ekonomi, tetapi juga menyoroti peran para pemimpin dalam menjaga keseimbangan perekonomian nasional. “Para unsur pimpinan harus setia kepada NKRI, bukan rakyat. Rakyat pasti setia, karena tidak ada pilihan,” ujarnya. Ia menekankan bahwa kritik terhadap stabilitas ekonomi Indonesia seringkali berasal dari para pemimpin yang tidak berpijak pada kebutuhan masyarakat sehari-hari.
Dalam konteks ini, Prabowo mengkritik sikap pemimpin yang lebih fokus pada kepentingan politik atau kekuasaan, daripada mengutamakan kesejahteraan rakyat. “Banyak yang teriak-teriak NKRI, tapi tidak jelas. Mereka tidak berpihak kepada bangsa sendiri, tidak berpihak kepada rakyat Indonesia,” tambahnya. Menurut Prabowo, keterlibatan aktif para pemimpin dalam memperkuat nilai rupiah dan memastikan ketersediaan bahan pokok akan menjadi kunci untuk mencegah kekhawatiran seperti itu.
Prabowo juga menyoroti bahwa kestabilan ekonomi tidak hanya bergantung pada kurs mata uang, tetapi juga pada kinerja pemerintah dalam mengelola sumber daya alam dan distribusi kekayaan. “Pangan aman, energi aman, dan peran pemerintah dalam menyediakan kebutuhan dasar adalah bukti bahwa Indonesia masih berada dalam kondisi yang baik,” katanya. Ia menegaskan bahwa kekhawatiran akan krisis ekonomi harus diimbangi dengan solusi konkret, bukan hanya kepanikan tanpa dasar.
Komentar Prabowo ini menimbulkan respon dari kalangan ekonom dan politisi. Sebagian menyambut baik pernyataan mantan calon presiden tersebut sebagai pengingat bahwa stabilitas perekonomian Indonesia tidak selalu tergantung pada nilai tukar mata uang. Sementara itu, ada pihak yang menilai bahwa Prabowo sedang menekankan pentingnya kebijakan ekonomi yang lebih inklusif, terutama bagi masyarakat pedesaan yang masih bergantung pada rupiah.
Sebagai bagian dari strategi komunikasi politiknya, Prabowo menggambarkan pernyataan ini sebagai cara untuk menggalang dukungan publik di tengah tantangan ekonomi global. “Ada yang bilang RI bakal kolaps, tapi kita harus percaya pada kemampuan bangsa sendiri. Rakyat desa yang tidak menggunakan dolar adalah bukti bahwa kita masih kuat,” pungkasnya. Dengan demikian, pernyataan ini tidak hanya merespons isu kurs rupiah, tetapi juga mengajak masyarakat untuk melihat kondisi ekonomi secara holistik.