News

What Happened During: Risiko Penduduk Perkotaan Terkena Malaria Monyet Rendah, IDAI: Tak Ada Nyamuk Pembawa Parasit

Risiko Penduduk Perkotaan Terkena Malaria Monyet Rendah, IDAI Jelaskan Penyebabnya

What Happened During, dalam sebuah laporan terbaru, mengungkapkan bahwa risiko penduduk perkotaan terkena penyakit Malaria Monyet masih tergolong rendah. Hal ini dikatakan oleh dr Inke Nadia Diniyanti Lubis, Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dalam sesi briefing media terkait penyebab dan penyebaran penyakit tersebut. Menurutnya, faktor utama yang memengaruhi tingkat risiko adalah keberadaan nyamuk Anopheles, yang menjadi vektor utama parasit Malaria Knowlesi.

Pemahaman tentang Vektor Penyakit

Malaria Monyet, atau Malaria Knowlesi, adalah penyakit yang terjadi karena infeksi parasit Plasmodium knowlesi yang ditularkan melalui gigitan nyamuk Anopheles. Menurut dr Inke, di daerah perkotaan, nyamuk jenis ini jarang ditemukan, sehingga risiko penularan penyakit ke manusia sangat kecil. “Penduduk perkotaan tidak perlu khawatir besar mengenai Malaria Monyet karena nyamuk pembawa parasit ini tidak aktif di lingkungan kota,” jelasnya.

Dalam sebuah pernyataan, IDAI juga menegaskan bahwa Malaria Monyet tidak menyebar melalui kontak langsung antara manusia dan kera, maupun melalui udara. “Kera dan monyet bisa berada di dekat manusia, tapi mereka tidak menginfeksi langsung. Infeksi terjadi melalui nyamuk yang menghisap darah kera dan kemudian menghisap darah manusia,” tambah dr Inke.

Gejala dan Kapan Penularan Terjadi

What Happened During menyebutkan bahwa gejala Malaria Monyet mirip dengan penyakit malaria biasa, seperti demam tinggi, sakit kepala, dan kelelahan. Namun, penyakit ini bisa lebih berat dan berpotensi menyebabkan komplikasi parah, terutama jika tidak segera ditangani. dr Inke mengingatkan bahwa penularan bisa terjadi jika seseorang pernah mengunjungi area hutan atau daerah rawan.

“Maka ketika muncul demam sampai dua minggu setelah pulang dari hutan, kita tetap harus berpikir apakah ini terkena oleh Malaria Knowlesi,” kata dr Inke. Ia menekankan pentingnya pemeriksaan medis lebih lanjut jika ada gejala yang muncul setelah menginjakkan kaki di area dengan risiko tinggi. “Malaria Monyet bisa terjadi secara tiba-tiba, sehingga kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan.”

What Happened During juga mengungkapkan bahwa penularan Malaria Monyet hanya terjadi saat nyamuk Anopheles menginfeksi manusia setelah menghisap darah kera yang terinfeksi. “Ini berarti, kita tidak akan terkena penyakit ini jika tidak terkena gigitan nyamuk yang membawa parasit tersebut,” jelas dr Inke. Ia menambahkan bahwa upaya penanggulangan nyamuk di daerah perkotaan lebih efektif dibandingkan di daerah pedesaan atau hutan.

Langkah Pencegahan dan Penanganan

Menurut IDAI, Malaria Monyet bisa dicegah dengan memperketat pengendalian nyamuk di lingkungan sekitar. “Seseorang yang tinggal di daerah perkotaan sebenarnya lebih aman karena nyamuk Anopheles jarang muncul di sana,” kata dr Inke. Namun, untuk masyarakat yang sering melakukan kegiatan di hutan, seperti bertani atau berkemah, mereka perlu lebih waspada.

What Happened During juga menyoroti pentingnya edukasi terkait penyakit ini. “Masyarakat perlu tahu bahwa Malaria Monyet bukanlah penyakit yang menyebar secara massal, tapi lebih pada kasus individu yang terpapar nyamuk di area risiko tinggi,” jelasnya. IDAI merekomendasikan penggunaan jaring anti nyamuk, penggunaan repellent, dan penghindaran area berkemah di dekat tanaman yang menghasilkan air genangan.

Di samping itu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Malaria Monyet lebih rentan menyerang anak-anak dan orang dewasa yang tidak terbiasa dengan lingkungan alam. “Malaria ini bisa menginfeksi siapa saja, tapi risiko terbesar ada pada usia muda yang lebih rentan,” kata dr Inke. Dengan memahami mekanisme penularan, masyarakat perkotaan bisa lebih tenang dan terhindar dari risiko tertular penyakit ini.

Leave a Comment